MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Jalaluddin Rakhmat, Ulama yang Ramah

image

Dr KH Jalaluddin Rakhmat, yang biasa disapa Kang Jalal, adalah sosok cendekiawan yang ramah dan murah senyum. Ia selalu menyapa orang dengan kalimat yang menyejukan. Kalau ada orang yang saat bersalaman coba mencium, segera menariknya.

Pernah suatu waktu tangannya dicium seorang mahasiswa, dengan cepat ia mencium kembali tangan mahasiswa tersebut. Sesuatu yang tidak biasa, tetapi memang itulah faktanya. Alih-alih ingin diperlakukan istimewa atau terhormat, lelaki kelahiran Bandung, 29 Agustus 1948 ini yang dikenal sebagai ilmuwan komunikasi dan peminat psikologi ini justru tidak demikian.

Terbukti dalam sebuah pertemuan usai pengajian ahad, Ustadz Jalal—sapaan jamaah kepada Jalaluddin Rakhmat—menyatakan dirinya bukan ulama. Jelas Ustadz Jalal adalah sosok guru tak ingin diistimewakan.

Kalau dilacak dari karya tulis dan perannya tampak bahwa Ustadz Jalal tak kenal lelah mengalirkan ilmu dan mencerakan pemikiran umat Islam. Terasa segar kalau sudah menyimak ceramahnya. Kalau menjawab sebuah masalah, tidak bernada serius dan kadang menawarkan alternatif sehingga dapat memilih.

Setiap kali mengikuti pengajian atau seminar, selalu saja ada pengetahuan baru yang saya dapatkan. Mungkin ini yang membedakannya dengan ustadz lain yang kadang terasa hambar dan mengulang-ulang bahasan yang pernah dikupas orang. Meski tema bahasannya biasa atau sederhana, kadang Ustadz Jalal melihat dengan analisa dan paradigma ilmu-ilmu kontemporer dan ilmiah sehingga terasa segar dan pemahaman yang lebih mendalam.

Meski saya menganggapnya ulama, tetapi Ustadz Jalal sendiri menyebutkan bahwa orang yang layak disebut ulama di Indonesia salah satunya adalah penulis Tafsir Mishbah, yaitu Muhammad Quraish Shihab.

Pernyataan demikian saya anggap sebagai sikapnya yang merendah, handap asor. Seperti padi, semakin berisi makin merunduk. Bahkan, dalam sebuah acara keagamaan yang mengundang tamu dari Kedutaan Besar Iran pun masih sempat mengatur acara dan bolak-balik mendatangi pemandu acara serta mengatur jalannya kegiatan tersebut. Padahal, posisi Ustadz Jalal adalah orang penting dalam kegiatan tersebut.

Tampaknya, bukan sesuatu yang mustahil kalau dalam setiap kegiatan agama seperti Asyura, Idul Ghadir, dan Maulid yang digelar Yayasan Muthahhari dan IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) ada sentuhan tangan dan percikan nalar Ustadz Jalal. Saya yakin bahwa Ustadz Jalal bukan tidak percaya pada yang muda, tetapi keterlibatannya menjadi motivasi bagi yang lain yang lebih muda.

Kalau melihat Ustadz Jalal terlibat langsung dalam acara, saya selaku orang muda menjadi malu karena hanya berperan sebagai penonton dan penikmat. Saya kira serpihan hidup Ustadz Jalal yang demikian selayaknya menjadi pelajaran.

Sekarang ini, Ustadz Jalal tengah coba masuk gelanggang politik melalui PDI Perjuangan untuk DPR RI daerah pemilihan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat dengan nomor urut dua. Di antara alasan memilih jalur politik bahwa ingin membebaskan belenggu yang menindas masyarakat Indonesia. Cita-cita mulia.

Dan saya perhatikan selama menjadi anggota DPR, Ustadz Jalal banyak kontribusi bidang keagamaan, seminar Pancasila, bakti sosial, diskusi pendidikan dibeberapa tempat, dan membuat klinik kesehatan untuk warga dhuafa. Bahkan saya lihat sampai ke luar negeri untuk sosialisasi gerakan ukhuwah Islamiyyah di negara-negara Timur Tengah. Insya Allah, saya akan mendukung kembali. *** (Ahmad Sahidin, alumni UIN SGD Bandung)

Sat, 8 Dec 2018 @11:04

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved