Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku bacaan ISLAM silakan tulis nama, alamat, dan nomor WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

KH Jalaluddin Rakhmat: Ulama yang Ramah

image

PrKH Jalaluddin Rakhmat, yang biasa disapa Kang Jalal, adalah sosok cendekiawan yang ramah dan murah senyum. Ia selalu menyapa orang dengan kalimat yang menyejukan. Kalau ada orang yang saat bersalaman coba mencium, segera menariknya.

Pernah suatu waktu tangannya dicium seorang mahasiswa, dengan cepat ia mencium kembali tangan mahasiswa tersebut. Sesuatu yang tidak biasa, tetapi memang itulah faktanya. Alih-alih ingin diperlakukan istimewa atau terhormat, lelaki kelahiran Bandung, 29 Agustus 1948 ini yang dikenal sebagai ilmuwan komunikasi dan peminat psikologi ini justru tidak demikian.

Terbukti dalam sebuah pertemuan usai pengajian ahad, Ustadz Jalal—sapaan jamaah kepada Jalaluddin Rakhmat—menyatakan dirinya bukan ulama. Jelas Ustadz Jalal adalah sosok guru tak ingin diistimewakan.

Kalau dilacak dari karya tulis dan perannya tampak bahwa Ustadz Jalal tak kenal lelah mengalirkan ilmu dan mencerakan pemikiran umat Islam. Terasa segar kalau sudah menyimak ceramahnya. Kalau menjawab sebuah masalah, tidak bernada serius dan kadang menawarkan alternatif sehingga dapat memilih.

Setiap kali mengikuti pengajian atau seminar, selalu saja ada pengetahuan baru yang saya dapatkan. Mungkin ini yang membedakannya dengan ustadz lain yang kadang terasa hambar dan mengulang-ulang bahasan yang pernah dikupas orang. Meski tema bahasannya biasa atau sederhana, kadang Ustadz Jalal melihat dengan analisa dan paradigma ilmu-ilmu kontemporer dan ilmiah sehingga terasa segar dan pemahaman yang lebih mendalam.

Meski saya menganggapnya ulama, tetapi Ustadz Jalal sendiri menyebutkan bahwa orang yang layak disebut ulama di Indonesia salah satunya adalah penulis Tafsir Mishbah, yaitu Muhammad Quraish Shihab.

Pernyataan demikian saya anggap sebagai sikapnya yang merendah, handap asor. Seperti padi, semakin berisi makin merunduk. Bahkan, dalam sebuah acara keagamaan yang mengundang tamu dari Kedutaan Besar Iran pun masih sempat mengatur acara dan bolak-balik mendatangi pemandu acara serta mengatur jalannya kegiatan tersebut. Padahal, posisi Ustadz Jalal adalah orang penting dalam kegiatan tersebut.

Tampaknya, bukan sesuatu yang mustahil kalau dalam setiap kegiatan agama seperti Asyura, Idul Ghadir, dan Maulid yang digelar Yayasan Muthahhari dan IJABI ada sentuhan tangan dan percikan nalar Ustadz Jalal. Saya yakin bahwa Ustadz Jalal bukan tidak percaya pada yang muda, tetapi keterlibatannya menjadi motivasi bagi yang lain yang lebih muda.

Kalau melihat Ustadz Jalal terlibat langsung dalam acara, saya selaku orang muda menjadi malu karena hanya berperan sebagai penonton dan penikmat. Saya kira serpihan hidup Ustadz Jalal yang demikian selayaknya menjadi pelajaran.

Sekarang ini, Ustadz Jalal tengah coba masuk gelanggang politik melalui PDIP. Salah satu alasannya memilih jalur politik: ingin membebaskan belenggu yang menindas masyarakat Indonesia. Cita-cita mulia. Insya Allah, saya akan mendukungmu, Ustadz.

[Ahmad Sahidin, alumni UIN SGD Bandung]

Wed, 31 Aug 2016 @10:03

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved