CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Jalaluddin Rakhmat: Dari Masalah Syiah Sampai Ijazah

image

Kemarin sore saya sempat menelusuri catatan yang ada dalam dunia maya berkaitan dengan Kang Jalal (Ustadz Jalaluddin Rakhmat). Sangat beragam. Ada yang memuji, mendukung dan mengapresiasi pemikiran, bahkan ada yang menyatakan sesat dan tidak jujur dalam menyampaikan hadis-hadis.

Semua pernyataan di atas sudah banyak terjawab dalam diskusi dan ceramah Kang Jalal yang dapat diunduh pada situs: www.almunawwarah.com/  dan yang terbaru dijawab oleh Muhammad Babul Ulum dalam buku Kesesatan Sunni Syiah  yang diterbitkan Aksara Pustaka (Jakarta, 2013).

Selain dari masalah keislaman dan mazhab Syiah, ada cerita yang beredar tentang Kang Jalal adalah gelar akademis doktor dan professor. Dalam blog dan situs disebutkan bahwa Kang Jalal tidak memiliki ijazah doktor. Yang menyebutkan demikian adalah situs LPPI Makassar (dot com) dan kompasiana .

Kemudian mendapat tanggapan dari pengurus IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia) Makassar dalam situs Harian Fajar . Muncul lagi berita yang hampir sama di situs UIN Alauddin .

Dalam situs yang terakhir ini bersumberkan dari  seorang Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Azyumardi Azra. Poin yang disebutkan adalah (1) Kang Jalal belum memiliki kualifikasi S3; (2) Kang Jalal tidak memberikan berkas (ijazah) doktor dan professor sehingga dikesankan tidak memilikinya; (2) berdasarkan informasi dari seorang teman yang pernah kuliah di Australia bahwa Kang Jalal t idak pernah tamat di   Australia  dan  tidak sampai menghasilkan disertasi ; (4) Kang Jalal tidak menempuh S3 di UIN  Jakarta karena  merasa tidak enak apalagi sudah tidak mengajar di Pasca UIN Jakarta karena tidak memiliki kualifikasi S3.

Berbagai berita itu saya ragukan kebenarannya karena tidak ada yang berani konfirmasi langsung kepada Kang Jalal atau universitas yang meluluskannya di Australia. Kebetulan saya bagian dari jamaah Kang Jalal, saya coba beranikan untuk tanya langsung kebenarannya.

Melalui sebuah e-mail, guru saya: Al-Ustadz Jalaluddin Rakhmat menjawab:

Salam   (pertama) a lasan bahwa saya tidak pernah menyerahkan ijazah dan transkrip tidak   bisa dijadikan bukti saya tidak memilikinya, karena saya tidak pernah   diminta untuk menyerahkannya.  Saya sudah bertugas di UIN sebelum ia (Azyumardi Azra)  menjadi rektor. Tidak pernah sekalipun saya diminta untuk menyerahkan   ijazah dan sebagainya.  Kesaksian dari seorang teman juga bergantung   kepada siapa tem a n itu. Kenapa kesaksiannya tidak berdasarkan   pernyataan Universitas tempat saya belajar di Australia.

Kedua, saya   pernah bercerita kepadanya di UIN Padang bahwa saya bermaksud untuk   mengambil program by research di UIN Jakarta (bukan ia yang menawarkan   “mengapa harus jauh-jauh” dan sebagainya. Pertemuannya sambil makan di   restoran bukan di bandara :)  Tetapi waktu itu dia mengatakan bahwa di   UIN Jakarta tidak ada program s3 by research). Ketika saya mendaftar   ke UIN Makassar, saya harus membayar agak mahal, maka saya memutuskan   untuk pindah ke Jakarta, yang katanya membayarnya persemester.   Setelah itu, saya dapat penjelasan dari UIN, melalui Syamsuddin ketua IJABI sekarang  bahwa pembayaran   bisa diatur.

Alhamdulillah,   bahkan sampai sekarang utang saya ke Pasca UIN Makassar belum selesai.   Akhirnya saya putuskan untuk mengambil program S3 itu di Makassar.   Sampai sekarang.   Alhamdulillah, berkat masalah ijazah itu saya tahu   kawan dan lawan.

Nah… siapa yang bertanggung jawab dengan kabar palsu tersebut? Budaya tabayyun seharusnya digalakan umat Islam. Kalau sekadar dengar dari orang, apalagi yang tidak suka, bukannya informasi yang benar malah yang keluar yang bernuansa fitnah dan ditambah-tambahi dengan wadul bin bohong. [Ahsa, Bandung: 1 Maret 2012]

 

 

 

 

 

Tue, 11 Mar 2014 @22:10

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved