Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku bacaan ISLAM silakan tulis nama, alamat, dan nomor WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Maulid Nabi, Merayakan atau Tidak?

image

Sampai juga pada bulan Rabiul Awwal. Bulan kelahiran Rasulullah saw. Bulan cinta untuk Jungjungan alam dunya: Kangjeng Nabi Muhammad saw. Di bulan ini banyak orang di desa dan kampung merayakan kelahiran Nabi dengan beragam bentuk: mulai dari menyajikan nasi kuning, makan bersama warga setelah tabligh akbar, dan grebeg maulud di Jogyakarta dan Cirebon. Ini khas Indonesia.

Kabarnya di Mesir ada perayaan maulid Nabi. Saya tidak tahu bagaimana bentuk perayaannya. Juga di Persia ada perayaan maulid Nabi. Seorang kawan di Iran yang sedang kuliah menyampaikan bahwa di Iran setiap bulan Rabiul Awwal ada perayaan Maulid Nabi Muhammad saw bersamaan dengan Maulid Imam Jafar Shadiq ra. Dirayakan mulai tanggal 12-17 Rabiul Awwal. Berbagai makanan berupa manisan dibagikan dalam majelis maulid Rasulullah saw. 

Kapan Nabi lahir?

Mengenai tanggal kelahiran Nabi Muhammad saw terjadi perbedaan pendapat. Ulama dan sejarahwan dari mazhab Sunni menyebut 12 Rabiul Awwal dan 17 Rabiul Awwal tahun Gajah diyakini ulama dan sejarahwan Muslim Syiah. Namun dua mazhab ini sepakat bahwa Nabi Muhammad saw lahir di daerah Suqullail Jabal Abu Qubaisy kota Makkah.

Berkaitan dengan perayaan Maulid Nabi, ada dua pandangan. Pertama, tidak merayakannya karena tidak ada anjuran dan tidak dilakukan Nabi. Wajar mereka berargumen demikian karena tidak mungkin saat Nabi lahir langsung meminta dirayakan. Abdul Muthalib (kakek Nabi) membawa Nabi (kecil) dikelilingkan di depan Kabah. Ini bentuk ungkapan kegembiraan dari keluarga atas lahirnya Nabi.

Kedua, boleh untuk merayakannya sebagai ungkapan gembira atau syukur kepada Allah atas nikmat yang terbesar dengan diturunkannya Nabi akhir zaman yang kemudian membimbing umat manusia ke jalan Allah. Argumennya berasal dari penyambutan Rasulullah saw saat Al-Hasan dan Al-Husein, cucu Nabi, yang lahir kemudian didoakan Nabi dengan berbagi makanan kepada orang-orang sekitar.

Dalil kebolehan maulid Nabi didasarkan pada surah Maryam ayat 15, Allah berfirman, “Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.”

 Ayat tersebut merujuk pada kelahiran Nabi Isa as yang di dalamnya terdapat doa selamat atas kelahirannya. Mereka menjadikan ayat tersebut sebagai argumen untuk merayakan maulid sebagai ekspresi kecintaan kepada para Nabi, terutama Rasulullah saw. Kalau sudah cinta, pasti bukan lagi logis atau tidak logis, tetapi sudah wilayah ‘rasa’ yang hanya dapat diketahui pelakunya.

Merayakan atau tidak

Kalau ditanya: merayakan atau tidak? Jawabannya bergantung pada pilihan dan motivasi yang melandasinya. Terlepas dari persoalan ikhtilaf, yang jelas bahwa Nabi Muhammad saw merupakan sosok yang pantas diteladani, berakhlak mulia, dan dibimbing Allah dalam setiap gerak dan langkahnya.

Bagi saya, daripada merayakan hari berdiri perusahaan atau kelahiran salah seorang dari keluarga kita, lebih baik mengekspresikan kegembiraan atas lahirnya Rasulullah saw dengan ekspresi sederhana: membaca shalawat kepada Nabi dengan sepenuh hati dan menyantuni dengan berbagi sedikit harta untuk anak yatim piatu atau orang-orang dhuafa. Kedua aktivitas tersebut diperintahkan dalam Quran (Al-Ahzab: 56 dan Al-Ma’un: 1-3) dan hadis-hadis Rasulullah saw.

Karena itu, dengan melakukan keduanya pasti akan diakui sebagai orang yang menegakkan sunnah nabawiyyah dan menjalankan perintah Allah. Wallahu a’lam bi shawab; wasshalli ala Muhammad wa ala aali Muhammad; wasalaamun ‘alaihi yauma wu lida wa yauma yamuutu wa yauma yub’asu hayyaa.

(Ahmad Sahidin)


Sat, 25 Nov 2017 @14:06

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved