MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Adab Haji

image

Oleh KH Jalaluddin Rakhmat

Pada 10 Zulhijjah, dari atas untanya, Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah. Usai khutbah, seseorang bertanya, “Saya berziarah dulu (tawaf) ke Baitullah, setelah itu saya melempar jumrah?” Beliau berkata: “If’al, la haraj (lakukan saja, tidak ada salahnya).” Yang lain berkata, “Saya bercukur dulu sebelum menyembelih.” Beliau berkata: “Lakukan saja, tidak ada salahnya.” Yang lain bertanya lagi, “Saya menyembelih sebelum melempar?” Beliau berkata: “Lakukan saja, tidak ada salahnya.” Kata Abdullah bin Umar, “Setiap Nabi SAW ditanya tentang sesuatu yang didahulukan atau diakhirkan, beliau selalu berkata: “If’al, la haraj (lakukan saja, tidak ada salahnya).” (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Hajj).

Para ulama menghitung tak kurang dari 24 cara haji yang disampaikan kepada Rasulullah SAW, dan beliau membenarkannya: bercukur sebelum melempar, bercukur sebelum menyembelih, menyembelih sebelum melempar, tawaf ifadah sebelum melempar, tawaf ifadah sebelum bercukur, melempar dan ifadah bersamaan sebelum bercukur, tawaf ifadah sebelum menyembelih, sa’i sebelum tawaf, dan lain-lain.

Berbagai cara berhaji itu mula-mula memang dipertengkarkan oleh para sahabat Nabi. Masing-masing merasa hajinya yang paling benar. Ketika setiap cara itu dikemukakan kepada Nabi SAW, beliau membenarkan semuanya; “Lakukan saja, tidak ada salahnya.”

“Bukankah itu menunjukkan bahwa setiap perbuatan yang harus dilakukan oleh mukallaf –dan Nabi SAW tidak menentukan dengan tegas cara-cara dan urutannya- pelaksanaannya lebih luas. Setiap mukallaf dapat melakukannya sesuai dengan keyakinannya,” tulis Muhammad Jalil Isa ketika mengomentari hadis ini (lihat kitabnya, Ma la Yajuz Fihi al-Khilaf, hlm.66). Sebagai Rasul Allah, Nabi SAW berhak menentukan mana-mana cara dan urutan haji yang benar. Tapi beliau malah menyerahkannya kepada pertimbangan praktis para pengikutnya. Bandingkan perilaku Nabi SAW ini dengan sebagian besar kita. Tak ada hak pada kita untuk menentukan mazhab fikih yang benar atau salah, tapi kita malah menetapkan hanya cara dan urutan ibadah haji seperti yang kita amalkan saja yang benar. Dengan mengutip ucapan para sahabat, kita masing-masing berkata, “Nahnu ashwab (kamilah yang benar)”.

Ketika Nabi SAW berkata if’al, la haraj, beliau bukan saja mengajarkan penghargaan pada pemahaman agama yang berbeda. Beliau juga menunjukkan bahwa yang paling penting dari ibadah haji bukanlah ritus-ritus formalnya, melainkan hakikatnya. Ritus-ritus itu, walaupun tidak boleh ditinggalkan, hanyalah wahana untuk tujuan haji yang sebenarnya. Kita tak perlu mempertentangkannya. Yang perlu dibicarakan adalah bagaimana membersihkan ibadah haji kita dari kata-kata kotor, kefasikan, dan pertengkaran, apapun alasannya. Inilah yang disebut adab haji atau rahasia haji (asrar al-hajj).

[http://www.majulah-ijabi.org/14/post/2013/02/adab-haji.html ]

Fri, 18 Aug 2017 @15:08


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved