Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Adab-adab Batiniah Ibadah Haji

image

Oleh KH Jalaluddin Rakhmat

Untuk menjalankan tugas kependetaan itu, selain memperhatikan ritus-ritus haji, jamaah haji harus menjaga adab-adab batiniah ibadah haji. Al-Ghazali menyebutkan sepuluh etika haji. Pertama, hendaknya ia berhaji dengan harta yang halal. Ia harus meninggalkan perhatian pada urusan pekerjaan dan bisnisnya. Ia harus mencurahkan perhatiannya semata-mata kepada Allah. 

Rasulullah SAW pernah menubuatkan jenis-jenis haji pada akhir zaman: “Pada akhir zaman nanti, manusia yang keluar melakukan ibadah haji terdiri dari empat macam. Para pejabat haji untuk pesiar, pedagang untuk berniaga, orang miskin untuk mengemis, dan ulama untuk kebanggaan.

Kedua, hendaknya ia berusaha untuk tidak menyerahkan dirinya diperas orang-orang yang mengganggu jamaah haji. Tentang itu, Al-Ghazali menyebutkan para perompak zaman dulu yang merampok jamaah haji di perjalanan. Ia mengutip pendapat para ulama bahwa lebih baik meninggalkan sunnat haji daripada mendukung kezaliman. Ketiga, hendaknya ia tidak memboroskan bekalnya untuk makan dan minum yang mewah atau membeli kelezatan-kelezatan di perjalanan, Ia harus banyak menggunakan hartanya untuk bersedekah, menolong orang lain, atau memberikan bekal pada teman seperjalanan. Keempat, hendaknya ia meninggalkan segala macam akhlak yang tercela –kekejian dan kefasikan, serta perdebatan dan perbantahan.

Yang termasuk kekejian adalah berkata kotor, kasar, atau yang menusuk perasaan. Juga bedusta, memfitnah, menipu. Kelima, diutamakan memperbanyak berjalan. Sekarang ini mungkin lebih baik meninggalkan Arafah dan menuju Muna dengan berjalan kaki daripada dengan kendaraan. Dengan berjalan kaki, ia akan sempat tidur di Muzdalifah dan pagi-pagi berangkat menuju Muna. Sudah bisa dipastikan bahwa mereka akan tiba di Muna lebih cepat dari orang yang menyewa kendaraan.

Keenam, karena berkaitan dengan jenis kendaraan masa lalu, kita tidak menyebutkannya di sini. Ketujuh, hendaknya ia berpakaian sederhana dan meninggalkan tanda-tanda kesombongan dan kemewahan. Bukankah pada waktu ihram, kita dianjurkan untuk tidak menyisir rambut sehingga rambut kita akan kelihatan kusut masai. Haji dimaksudkan untuk membesarkan Allah dan mengecilkan diri kita. Kedelapan, berkenaan dengan unta, yang tidak relevan pada waktu sekarang. Kesembilan, berkenaan dengan kewajiban untuk berkorban dan membagikan dagingnya kepada fakir miskin. Kesepuluh, hendaknya ia bersabar untuk menerima musibah apapun saat melakukan ibadah haji. Ia bersabar atas musibah yang menimpa badannya atau bila ia kehilangan hartanya.

Rahasia haji dari Al-Ghazali sebetulnya menggambarkan perspektif sufi. Ratusan tahun sebelum Al-Ghazali lahir, Imam Ja’far Al-Shadiq ra., tokoh besar dalam dunia tasawuf, memberikan nasehat kepada para jamaah haji: “Jika engkau berangkat haji, kosongkanlah hatimu dari segala urusan, dan hadapkanlah dirimu sepenuhnya kepada Allah. Tinggalkan setiap penghalang dan serahkan urusanmu kepada Penciptamu. Bertawakkallah kepadanya dalam setiap gerak dan diammu. Berserah dirilah pada ketentuanNya, hukum-hukumNya, dan takdirNya. Tinggalkan dunia, kesenangan dan seluruh makhluk. Keluarlah dari kewajiban yang dibebankan kepadamu dari mahluk Tuhan. Janganlah bersandar pada bekalmu, kendaraanmu, sahabatmu, kekuatanmu, kemudaanmu dan kekayaanmu.

Buatlah persiapan seakan-akan engkau tidak akan kembali lagi. Bergaullah dengan baik. Jaga waktu-waktu dalam melaksanakan kewajiban yang ditetapkan Allah SWT dan Sunnah Nabi SAW, berupa adab, kesabaran, syukur, kasih sayang, kedermawanan, mendahulukan orang lain sepanjang waktu. Bersihkan dosa-dosamu dengan air taubat yang ikhlas.

Pakailah pakaian kejujuran, kesucian, kerendahan hati, dan kekhusyukan. Berihramlah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi kamu mengingat Allah dan mencegahmu mentaatiNya. Bertalbiyahlah kamu dengan menjawab panggilan Allah dengan ikhlas, suci dan bersih dalam doa-doa kamu, seraya tetap berpegang pada tali yang kokoh.

Bertawaflah dengan hatimu bersama para malaikat sekitar Arasy, sebagaimana kamu bertawaf dengan jasadmu bersama manusia di sekitar Baitullah. Keluarlah dari kelalaianmu dan ketergelinciranmu ketika engkau keluar ke Muna dan janganlah mengharapkan apapun yang tidak halal dan tidak layak bagimu.

Akuilah segala kesalahanmu di tempat pengakuan (Arafah). Perbaharuilah perjanjianmu di depan Allah dengan mengakui keesanNya. Mendekatlah kepada Allah di Muzdalifah. Sembelihlah tengkuk hawa nafsu dan kerakusan ketika engkau menyembelih dam. Lemparkan syahwat, kerendahan, kekejian dan segala perbuatan tercela ketika melempar Jamarat.

Cukurlah aib-aib lahir dan batin ketika mencukur rambut. Tinggalkan kebiasaan menuruti kehendakmu dan masuklah kepada perlindungan ke Masjid Al-Haram.

( www.majulah-ijabi.org/14/post/2013/02/adab-haji.html )


Tue, 23 Aug 2016 @06:09


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved