Al-Maqrizi: Konflik Antara Bani Hasyim Dengan Bani Umayyah

image

Judul Buku:  Al-Nizā’ wa al-Takhāshum fīmā Bayn Banī Umayyah wa Banī Hāsyim.

Penulis: Taqi al-Din Ahmad ibn 'Ali ibn 'Abd al-Qadir ibn Muhammad al-Maqrizi (764H-845H). Penerbit: Kairo: Dār al-Ma’ārif, 1984. Sumber: www.scribd.com/doc/30994080/  (Bisa juga dibaca secara online di laman berikut ini: http://www.alhawzaonline.comadmin).

Dalam salah satu diskusi di TVRI tentang Syiah, Dr. al-Daruquthni, cendekiawan Muhammadiyah, menyebutkan latar belakang sejarah kelahiran Sunni dan Syiah. Ia mengingatkan kita kepada konflik antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Konflik yang bersifat politik inilah yang melahirkan konflik sepanjang sejarah antara Sunni dan Syiah. 

 

Buku sejarah paling tua tentang konflik ditulis Al-Maqrizi dalam bukunya Al-Nizā’ wa al-Takhāshum fīmā Bayn Banī Umayyah wa Banī Hāsyim, Pertentangan dan Permusuhan antara Bani Hasyim dengan Bani Umayyah.  Ia memulai bukunya dengan  Tujuan Menulis Buku Ini: 

Amma ba’d:  Sungguh, aku sangat keheranan menyaksikan keserakahan  Bani Umayyah untuk mempertahankan kekhalifahan; padahal mereka jauh dari keluarga Rasulullah saw dan keluarga Bani Hasyim. Mengapa mereka merasa berhak atas kekhalifahan?  Di mana Bani Umayyah dan Bani Marwan bin Al-Hakam –yang diusir Rasul Allah saw dan dilaknatnya- dalam urusan ini?  Telah jelas permusuhan antara Bani Umayyah dengan Bani Hasyim pada zaman jahiliah.

Kemudian, permusuhan yang sangat dari Bani Umayyah kepada Rasulullah saw dan keterlaluan mereka dalam menyakiti Nabi dan membohongkan apa yang diajarkannya sejak Allah saw mengutusnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, sampai Allah memuliakan NabiNya dengan kemenangan. Maka masuklah ke dalam Islam siapa saja di antara mereka, seperti yang kita kenal.”
 
Ia heran mengapa satu puak yang memusuhi dan dimusuhi Rasulullah saw  bisa merebut kekuasaan dan memerintah umat Islam atas nama agama. Ia ingin menjawab pertanyaan mengapa Bani Umayyah dengan segala kejahatannya dapat menyisihkan Bani Hasyim dengan segala kemuliaan akhlaknya.  

Sebenarnya, ia tidak memberikan jawaban apapun. Setelah menguraikan kejahatan Umayyah dan anak-anaknya pada Bab Matsalib Bani Umayyah,  ia melanjutkan dengan kejahatan Bani Abbas. Ia melacak permusuhan di antara kedua puak itu pada saat kelahiran Hasyim dan ‘Abd al-Syams yang kembar dempet. Mereka dipisahkan dengan pedang. Itulah tanda pertumpahan darah di antara anak-anak keduanya. Bukan penjelasan historis yang dapat diterima. Lalu, mengapa kekhalifahan keluar dari Ali bin Abi Thalib setelah Rasul saw wafat? Ia menjawabnya dengan pengandaian, tanpa data historis apapun:  “Sekiranya Ali menjadi khalifah mungkin orang akan berkata atau berkhayal bahwa kekhalifahan adalah kerajaan yang diwarisi turun menurun hanya pada Ahl al-Bayt sebagaimana dipercayai kaum Rafidhah” (halaman 92). 

Pada akhir bukunya, ia melampirkan surat dari Abu Utsman ‘Amr bin Bahr al-Jahizh kepada abi al-Walid bin Ahmad bin Abi Dawud tentang karakteristik Mu’awiyyah dan Umawiyin.  Dalam surat itu, al-Jahiz memerinci apa yang dilakukan Mu’awiyah terhadap Imam Ali dan putranya al-Hasan. Saya kutipkan sebagian dalam kutipan berikut ini:

“Setelah Muawiyah merebut kekuasaan, ia bertindak sewenang-wenang kepada  kelompok Syura yang masih hidup, kepada jamaah muslimin dari kalangan Anshar dan Muhajirin pada satu tahun yang ia sebut tahun jama’ah. Sebetulnya tahun itu adalah tahun perpecahan, penaklukan, tirani, dan pemaksaan, tahun yang mengubah imamah menjadi kekuasaan Kisrawi, khilafah menjadi perampasan Kaisari, belum dihitung semua kesesatan dan kefasikan...

Kebanyakan orang pada zaman itu telah kafir karena tidak mau mengkafirkan Muawiyyah. Telah disampaikan kepadaku pendapat generasi di zaman kita dan ahli bid’ah saat ini yang berkata: Jangan mengecam dia karena ia itu sahabat. Mengecam Muawiyah bid’ah. Siapa yang membencinya telah melanggar Sunnah. Ia mengaku bahwa termasuk sunnah ialah tidak berlepas diri (baraah) dari orang yang kafir terhadap Sunnah.” (halaman 125). 

Supaya Anda tidak salah kutip dan menisbahkan kutipan itu kepada saya, seperti yang biasa dilakukan oleh orang yang dalam hatinya dipenuhi kedengkian dan kebodohan, saya tegaskan lagi bahwa kutipan itu berasal dari surat Al-Jahiz. Siapakah al-Jahiz?  Dia adalah  Abu Uthman Amr ibn Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri, ahli sastra, ahli bahasa, ahli kalam, ahli biologi. Dalam biologi, ia dianggap sebagai ilmuwan Muslim pertama yang mengembangkan teori evolusi. Karena kepandaiannya, Al-Ma’mun bermaksud untuk mengangkatnya sebagai guru bagi anak-anaknya. Tetapi begitu mereka melihat matanya yang bola matanya seakan-akan mau meloncat ke luar kelopaknya, mereka berlarian ketakutan. Sejak itu ia dikenal dengan gelarannya al-Jahiz, yang matanya membeliak (lihat al-Jahiz, Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Jahiz dalam bahsa Inggris dan http://ar.wikipedia.org/wiki/الجاحظ dalam bahasa Arab). 
 
Walhasil, dia sama sekali bukan Syiah? Apakah al-Maqrizi Syiah? Juga bukan. Kata wikipedia berbahasa Inggris, Al-Maqrizi adalah "Mamluk-era historian and himself a Sunni Muslim",  mula-mula bermazhab Hanafi, kemudian setelah wafat ayahnya berpindah menjadi pengikut Syafi’i.  Lahir dan wafat di Kairo (764H-845H).   Ia pernah menjadi imam dan khathib di Masjid ‘Amr bin al-‘Ash di Kairo.  Ia sejarahwan Mesir, murid terbaik dari sosiolog dan muarikh besar Ibn Khaldun (Lihat http://ar.wikipedia.org/wiki/المقريزي atau http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Maqrizi).

Bukunya, yang kita bahas sekarang, teronggok dalam tumpukan sejarah selama ratusan tahun. Orang yang pertama membawa buku ini ke Eropa dan melakukan penelitian terhadapnya adalah imuwan Jerman, Gerhardus Vos. Pada tahun 1888, ia menerbitkan terjemahannya ke dalam bahasa Jerman di Leiden, Die Kämpfe und Streitigkeiten Zwischen dia Banu Umajja und die Banu Hashim.

Pembaca yang tidak menguasai bahasa Arab dapat membaca terjemahan ini. Atau pembaca yang memahami bahasa Inggris dengan baik dapat membaca terjemahan Clifford Edmund Bosworth, "Al-Maqrizi’s Book of the Contention and Strife Concerning the Relations between the Banu Umayya and the Banu Hashim", Journal of Semetic Studies, Monograph no 3, University of Manchester, 1980. Yang merasa puas dengan tinjauan buku ini adalah orang yang oleh Imam Ali as disebut memiliki karakter "al-qana’ah bil jahl", merasa cukup dengan kebodohan.[]

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI


Wed, 27 Jan 2016 @20:33

AUDIO MISYKAT

BAHAN BACAAN
FACEBOOK MISYKAT
BERBAGI BUKU

 Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp pada KONTAK

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved