Rubrik
Terbaru
MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Aliran Syiah di Nusantara (4)

image

Oleh H. ABOEBAKAR ATJEH

Ali bin Muhammad At-Thaus dalam kitabnya Sa’dus Su’ud berdasarkan keterangan Abu Ja’far bin Mansur dan Muhammad bin Marwan, berkata, bahwa pengumpulan Qur’an dalam masa Abu Bakar oleh Zaid bin Sabit gagal, karena banyak dikeritik oleh Ubay, Ibn Mas’ud dan Salim, dan kemudian terpaksalah Usman mengadakan usaha mengumpulkan ayat-ayat Qur’an lebih hati-hati dan seksama, dibawah pengawasan Ali bin Abi Thalib (Az-Zanjani, hal. 45).

Maka pengumpulan Qur’an dengan pengawasan Ali bin Abi Thalib inilah yang berhasil, karena pengumpulan itu, tidak saja disetujui oleh Ubay, Abdullah bin Mas’ud dan Salam Maulana Abu Huzaifah, tetapi juga oleh sahabat-sahabat yang lain. Mashaf Usman inilah yang kita namakan Qur’an umat Islam sekarang ini, yang tidak saja wahyu-wahyunya benar seperti yang disampaikan Nabi, tetapi bahasanya dan bunyi ucapannya sesuai dengan aslinya. Usman membuat beberapa buah diantara mashaf ini, sebuah untuk dirinya, sebuah untuk umum di Madinah, sebuah untuk Mekkah, sebuah untuk Kufah, sebuah untuk Basrah dan sebuah untuk Syam.

Ibn Fazlullah al-Umri pernah melihat mashaf Usman ini pada pertengahan abad ke-VII H. dalam masjid Damsyiq (baca Maslikul Absar, I 195, c. Mesir), dan banyak orang menyangka, bahwa naskah mashaf ini pernah disimpan dalam perpustakaan di Liningrad, yang kemudian dipindahkan kesalah satu perpustakaan di Inggeris (Az-Zanjani, 46).

Pengarang Sejarah Qur’an yang terkenal Abu Abdullah Az-Zanjani ini dalam kitabnya “Tarikhul Qur’an”, hal. 46, menerangkan bahwa ia pernah melihat dalam bulan Zulhijjah, th. 1353 H . dalam perpustakaan, yang bernama “Darul Kutub Al-AU>wiyah”, di Nejef sebuah mashaf dgn. khat Kufi, dan tertulis pada akhirnya “Ditulis oleh Ali bin Abi Thalib dalam th. 40 Hijrah”.

Al-Amadi At-Tughlabi, seorang ulama fiqh dan ilmu kalam, mgl. 617 H, menerangkan dalam kitabnya ”Al-Ajkarul Akbar”, bahwa mashaf-mashaf yang masyhur dalam zaman sahabat itu dibacakan kepada Nabi dan diperlihatkan mashafnya kepada Nabi. Ibn Sirin mendengar Ubaidah As-Salmani berkata, bahwa bacaan yang diperdengarkan kepada Nabi mengenai Qur’an pada saat-saat hampir wafatnya, adalah bacaan yang sampai sekarang dipergunakan orang.

Jika ada pembicaraan mengenai Qur’an A l i ” (yang sebenarnya mashaf Ali), yang berbeda dengan mashaf-mashaf Ubay bin Ka’ab (mgl. 20 H), Abdullah bin Mas’ud (mgl. 32 H), mashaf Abdullah bin Abbas (mgl. 68 H) dan mashaf Abu Abdullah Ja’far bin Muhammad As-Shadiq, adalah perbedaan mengenai susunan bahagian Qur’an, yang dinamakan “Surat”, bukan perbedaan mengenai ayat2 dan dialeknya, yang sesudah Ali dengan aktif turut menyusun mashaf itu dalam masa Usman sudah tidak berbeda lagi. Jika ada perkataan yang menyebut “Qur’an Syi’ah yang dimaksudkan ïalah mashaf asli A l i bin Abi Thalib atau mashaf asli imam Ja’far Shadiq, yang sekarang tidak ada lagi sudah menjadi mashaf Usman dengan ijma’ sahabat-sahabat Nabi ketika itu. Orang-orang Syi’ah memakai Qur’an Usman itu sebagaimana kita memakainya.

Jadi tuduhan, bahwa A l i mempunyai Qur’an yang berlainan ayatayatnya daripada wahyu yang diturunkan Tuhan kepada Muhammad, dengan disaksikan oleh sahabat, dan bahwa Qur’an itu, sesudah ditambah atau dikurangi, digunakan khusus oleh golongan Syi’ah, tidak benar sama sekali adanya. Tuduhan i n i ditolak oleh sejarah dan oleh ulama-ulama Syi’ah sendiri, diantara lain oleh Abul Qasim A l – K h u l i , pengarang tafsir Syi’ah Imamiyah yang terkenal “Al-Bayan fi Tafsiril Qur’an” (Nejef, 1957). Dan juz yang pertama, pada halaman 171 dan berikutnya, dikupas panjang lebar, bahwa A l i b i n A b i Thalib tidak mempunyai mashaf yang berlainan ayat2nya dari mashaf-mashaf Sahabat lain, kecuali berlainan susunan Suratnya. Mashaf A l i yang dipusakai dari Nabi, penuh diberi catatan-catatan mengenai tanzil, masa dan sebab turun ayat, mengenai ta’wil, pengertian dan maksud yang pelik, yang berasal dari keterangan Nabi sendiri, selanjutnya mengenai ayat-ayat nasikh dan mansukh, ayat-ayat ahkam dan mutasyabihah (Tafsir As-Shafi, muk. VI : 11), mengenai halal dan haram, mengenai had atau hukum sampai kepada tetek bengek (Muk. Tafsir Al-Burhan hal. 27), ditolak semua oleh A l – K h u l i tuduhan yang tidak benar itu (172 — 175).
A l – K h u l i mengatakan sebagai khulasah, bahwa penambahan dalam mashaf A l i bukan ayat-ayat Qur’an, yang disuruh sampaikan oleh Nabi kepada ummatnya, dan bahwa tuduhan semacam ini adalah tidak berdasarkan kepada dalil yang benar, karena dengan ijma dalam masa Usman sudah dihilangkan semua penyelewengan atau tahrif.

Sebenarnya segala sesuatu mengenai Qur’an, baik sejarah turunnya wahyu, sejarah pengumpulannya dan penyusunan Qur’an dan penulisan mashaf, penterjemahan serta penafsirannya, sudah saya bicarakan dalam sebuah kitab khusus mengenai persoalan ini, yang saya namakan “Sejarah Al-Qur’an”, cetakan terakhir di Jakarta 1953, tetapi belum saya tinjau dari sudut pendirian golongan Syi’ah. Bahwa A l i bin Abi Thalib mempunyai bahagian dan kedudukan penting dalam penyusunan Al-Qur’an bukanlah suatu persoalan yang mesti dipertengkarkan, baik ulama-ulama Syi’ah, ulama-ulama Ahlus-Sunnah, maupun ulama-ulama aliran lain dalam Islam, semuanya mengakui bahwa Ali-lah yang mengetahui paling lengkap tentang turunnya wahyu-wahyu Tuhan kepada Nabi Muhammad, karena dialah yang mengikuti Nabi sejak permulaan keangkatannya menjadi Rasul dan selalu berdampingan dengan Rasulullah sebagai keluarga terdekat dalam segala keadaan. Disamping itu ia termasuk penulispenulis wahyu, yang ditunjuk oleh Nabi untuk mencatat tiap-tiap ada wahyu turun, baik siang ataupun malam hari.

Sahabat-sahabat dalam masa Nabi banyak yang sudah tahu menulis, dan kesenian menulis ini oleh Rasulullah sangat diperkembangkan. Bangsa Arab yang sudah tinggi kebudayaan sebelum Islam, sudah menggunakan huruf Hiri, suatu kota kebudayaan yang letaknya kira-kira tiga mil dari Kufah, dekat Nejef sekarang ini, dan oleh karena itu dinamakan juga huruf Kufi, begitu juga huruf Anbari, suatu kota dekat sungai Eufrat, tiga puluh mil sebelah barat Baghdad, semuanya berasal dari kemajuan kebudayaan Arab Kindah. Dari sebuah riwayat dari Ibn Abbas diterangkan asal-usul huruf ini masuk ketanah Hajaz dari Yaman (Kindah), bahkan sejarah pemakaian huruf ini sampai kepada Thari’, kepada Khaflajan, penulis wahyu yang diturunkan kepada Nabi Hud.

Abu Abdullah az-Zanjani menerangkan bahwa khat ini dimasukkan oleh Nabi Muhammad ke Madinah melalui orang-orang Yahudi, yang mengajarkan anak-anak Islam menulis. Ada sepuluh orang diantara kaum muslimin yang ahli dalam huruf ini diantaranya Sa’id bin Zaharah, Munzir bin Umar, Ubay bin Wahab, Zaid bin Sabit, Raff bin Malik dan Aus bin Khuli. yang kemudian ditambah dengan tawanan Badr, yang mengajarkan huruf-huruf ini kepada anak-anak Islam.

Bahwa wahyu-wahyu yang turun kepada Nabi ditulis dan dicatat orang merupakan mashaf simpanannya masing-masing tidaklah mengherankan, karena ada empat puluh tiga orang yang ditugaskan menulis wahyu itu dengan khat Nasakh, diantaranya yang termasyhur ialah Khalifah empat Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, selanjutnya Abu Sufyan dengan dua anaknya Mu’awiyah dan Yazid, Sa’id ibn Ash dan anaknya Isan dan Khalid, Zaid bin Sabit, Zubair bin Awam Thalhah bin Ubaidillah. Sa’ad bin Abi Waqqs, Amir bin Fahiah, Abdullah ibn Argam, Abdullah bin Rawahah, Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah, Ubay bin Ka’ab, Sabit ibn Qais, Hanzalah ibn Rabi’, Syurahbil bin Hasanah, Ula bin Hadrami, Khalid ibn Walid, Amr ibn Ash, Mughirah bin Syu’bah, Mu’aiqib bin Abi Fatimah ad-Dausi, Huzaifah ibn Yaman, Huwaithib bin Abdul ‘Uzza Al-Amiri, baik dalam masa Nabi maupun sesudah wafatnya.

Meskipun demikian yang tetap mengikuti Nabi dan yang dipercayanya adalah catatan dua orang, yaitu Zaid bin Sabit dan A l i bin Abi Thalib. Demikian kata Az-Zanjani dan menambahkan, bahwa banyak riwayat2 menerangkan, kedua orang itulah yang dengan sungguh-sungguh menghadapi penulisan dari pengumpulan wahyu itu.

Bukhari meriwayatkan dari Barra, bahwa tatkala turun wahyu “tidak sama orang mu’min yang diam dengan mereka yang menderita kemelaratan dan yang berjihad diatas jalan Allah” (Surat An-Nisa). Nabi dengan segera berkata : “Panggil Zaid datang kepadaku, membawa lah tinta dan tulang belikat unta”, dan sesudah Zaid datang, ia berkata : “Tulislah selengkapnya ayat i n i ” (Zanjani, hal. 20).

Dalam sebuah ceritera, Umar diperingatkan orang bahwa adiknya Fatimah telah masuk Islam. Umar marah dan pulang kerumahnya, didapatinya pada adiknya itu wahyu tertulis diatas perkamen sedang dibacanya. Hal ini terjadi dikala Umar belum masuk Islam, dan karena membaca wahyu yang tertulis itu, ia lalu masuk Islam.

Semua itu menunjukkan, bahwa Rasulullah menghendaki Qur’an itu ditulis dan penulisan itu sudah dimulai dalam masa hidupnya dan dengan petunjuk serta pengawasannya. Dalam masa Rasulullah Qur’an itu ditulis diatas tulang-tulang, kepingan batu, potongan daun atau kain, acapkali juga diatas kain sutera atau kulit kering dan diatas tulang belikat unta. Sudah menjadi

kebiasaan bangsa Arab menulis catatan demikian dan menamakannya “suhuf”, bungkusannya dinamakan „mashaf”. Sahabat-sahabat penting mempunyai mashaf itu secara lengkap atau tidak. Juga untuk Nabi diperbuat mashaf itu dan disimpan dirumahnya. Muhammad ibn Ishak menerangkan dalam ,,Fihris”nya, bahwa Qur’an yang ditulis dihadapan Rasulullah itu adalah diatas batu, tulang dan belikat unta. Bukhari menerangkan, bahwa Zaid bin Sabit pernah mengatakan: "Kucari Qur’an itu dan kukumpulkannya dari batu, tulang dan dari hafalan orang”.

Al-’Isyasyi, seorang ahli Tafsir Imamiyah, menerangkan dalam Tafsirnya, bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata : "Rasulullah mevvasiatkan kepadaku, bahwa sesudah kukuburkan dia aku tidak keluar dari rumahku hingga aku menyusun Kitab Allah itu, yang tertulis pada pelepah korma dan pada tulang belikat unta”. Sebuah riwayat dari A l i bin Ibrahim bin Hasyim Al-Qummi, seorang ahli Hadits Imamiyah yang termasyhur, menerangkan, bahwa Abu Bakar Al’-Hadhrami pernah mendengar Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad berceritera, bahwa Nabi ada berpesan kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali ! Qur’an itu ada dibelakang tempat tidurku dalam suhuf, sutera dan kertas. Ambil dan susunlah baik-baik, jangan engkau hilangkan sebagaimana Yahudi menghilangkan Taurat”.

Ali memungut Qur’an itu dan mengumpulkannya dalam satu bungkusan kain kuning kemudian dicapnya. Al Haris Al-Muhasibi menerangkan, bahwa mengumpulkan Qur’an itu bukanlah suatu perbuatan bid’ah tetapi terjadi atas perintah Nabi, dan juga meletakkan ayat-ayat pada tempatnya atas petunjuk Nabi sendiri.

Meskipun yang menulis wahyu banyak dalam zaman Nabi, tetapi yang mengumpulkannya hingga lengkap merupakan mashaf tidak berapa orang. Yang dianggap pengumpulan yang agak lengkap oleh Muhammad bin Ishak ialah Ali bin Abi Tha}ib, Sa’ad bin Ubaid bin Nu’man Aï-Aus’, wafat dalam perang Qadisiyah tahun 15. H. Abu Darda Uwaimir bin Zaid, beroleh langsung dari Nabi, wafat tahun 32 H. Muaz bin Jalal bin Aus, yang dinamakan Nabi imam ulama, wafat tahun 18 H., Abu Zaid Sabit ibn Zaid bin Nu’man, Ubay bin Ka’ab bin Qais, seorang yang sangat dipuji Nabi2 bacaannya. mgl. Di Madinah th. 22 H, Ubaib bin Mu’awiyah, dan Zaid bin Sabit, penulis wahyu Rasulullah dan juru bahasanya, mgl. th. 45 H. Zaid bin Sabit adalah seorang yang sangat dicinta oleh Nabi dan dihormati oleh Ahlil Baitnya.

Demikian bunyi satu riwayat tentang mereka yang mengumpulkan Qur’an dalam masa Nabi, yang kurang sempurna disempurnakan sesudah wafat Nabi. Banyak riwayat lain yang berbeda jumlah dan namanya, tetapi Al-Khawarizmi berdasarkan keterangan Ali bin Riyah menerangkan, bahwa yang lengkap mengumpulkan Qur’an dalam masa Rasulullah ialah Ali bin Abi Thalib dan Ubay bin Ka’ab.

Riwayat-riwayat menunjukkan, bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang mula-mula menulis Qur’an menurut tertib turun ayat, mencatat ayat mansukh terlebih dahulu dari nasikh dan memberikan catatan2 lain dalam mashafnya. Hal ini diceriterakan juga oleh Ibn Sirin.

Juga dibenarkan oleh Ibn Hajar, bahwa A l i menyusun Qur’an menurut tertib turun ayat, beberapa waktu dibelakang wafat Nabi Muhammad. Dalam kitab Syarh Al-Kafi Salih Al-Quzwini dari Ibn Qais Al-Halali menerangkan, bahwa Ali bin Abi Thalib sesudah wafat Nabi tidak keluar dari rumahnya karena menyusun Qur’an dan mengumpulkannya sampai selesai semuanya. Kemudian ia menulis catatan ayat-ayat nasikh dan mansukh, ayat-ayat mukhamah dan mutasyabih.

Kata Imam Muhammad bin Muhammad bin Nu’man, salah seorang ulama Syi’ah terbesar, dalam kitabnya „Al-Irsyad”, bahwa A l I dalam mashafnya mendahulukan ayat-ayat mansukh dari ayat-ayat nasikh, dan menulis ta’wil ayat-ayat serta tafsirnya dengan terperinci.

Syahrastani dalam mukaddimah Tafsirnya menerangkan, bahwa semua sahabat sepakat ilmu Qur’an itu khusus buat Ahlil Bait. Beberapa sahabat bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, apakah ilmu pengetahuan Qur’an hanya dikhususkan kepada Ahlil Bait. Ali menjawab, bawa ilmu tentang Qur’an, masa dan sebab-sebab turunnya begitu juga ta’wilnya, khusus buat Ahlil Bait, karena merekalah orang-orang yang terdekat dengan Nabi Muhammad (Az-Zanjani, Tarikhul Qur’an, Cairo. 1935. hal. 26).

Wed, 30 Oct 2013 @14:35

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved