MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Aliran Syiah di Nusantara (5)

image

Oleh H. ABOEBAKAR ATJEH

Baik orang Syiah maupun orang ahli Sunnah menganggap Ali bin Abi Thalib adalah ahli tafsir Quran yang pertama. Sejarah Islam karena ia masih mendapati Nabi yang selalu memberi petunjuk dalam pengertian dan ta’rif daripada wahyu-wahyu Tuhan yang mentaati paham manusia biasa.

Sudah kita katakan bahwa Ali tidak saja berjasa mengawasi pengumpulan ayat-ayat Qur’an, tetapi juga mempunyai pengetahuan tentang sejarah turunnya ayat dan surat, tentang ayat hukum dan mutasyabih, ayat nasikh dan mansukh, bahkan ada riwayat yang mengatakan, bahwa ia mempunyai enam puluh macam ilmu Qur’an, dan sebagaimana yang sudah kita katakan, mashafnya penuh dengan catatan2, seperti masih dapat dilihat beberapa lembar dari padanya dalam perpustakaan di Nejef.

Seperti sudah kita terangkan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan tentang Qur’an, sedang Ibn Abbas yang menjadi murid A l i , pernah berceritera, bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang sangat tahu tentang ilmu lahir dan ilmu ghaib dari Al-Qur’an yang mulia. Sejarah hidup Ali tidak kita ulang lagi disini.

Salah seorang dari Ahli Tafsir Syi’ah adalah Ubay bin Ka’ab dari golongan Anshar. Sayuthi menghitungnya dalam karangannya yang terkenal „Al-ltqan” termasuk jumlah sepuluh orang ahli tafsir dari sahabat kurun pertama, dan Nabi sangat mencintainya. Ia meninggal tahun 30 H.

Abdullah bin Abbas adalah anak paman Nabi, yang sejak kecil sudah diramalkan oleh Nabi menjadi seorang ahli ilmu Qur’an, dan juga yang oleh Sayuthi dimasukkan sahabat sepuluh kurun pertama, yang hafal dan ahli Qur’an. Ada orang mengatakan bahwa ia orang yang ahli tentang tafsir daripada Tabi’in Mekkah. Tafsirnya sampai sekarang masih didapat orang dan terkenal dengan „Tafsir Ibn Abbas”, ia meninggal th. 68 H. Orang-orang Syi’ah menganggap tafsir itu mu’ tamad dan banyak digunakan untuk menguatkan pendirian-pendiriannya.

Dari golongan Tabi’in sesudah itu kita sebutkan nama-nama Maisam bin Jahya at-Tamanar (mgl. 60 H.), seorang khatib Syi’ah yang terkenal di Kuffah dan seorang ahli ilmu Kalam : Said bin Zubair (mgl. 94 H) yang pernah menyusun sebuah tafsir Qur’an dan banyak dipetik orang pendapatnya. Abu Saleh Miran dari Basrah (mgl. Sesudah abad pertama hijrah), murid Ibn Abbas, Thaus Al-Yamani (mgl. 106 H). Juga murid Ibn Abbas, yang oleh Ibn Taymiyah, Ibn Quthai bah dli sangat dipuji kecerdasannya dan dimasukkan kedalam golongan sahabat Ali .

Kemudian dapat kita sebutkan sebagai ahli-ahli yang ulung ialah Imam Muhammad al-Baqir (mgl. 114 H.), Ibn Nadim banyak menyebutkan nama-nama kitabnya mengenai tafsir dan ilmu-ilmu Qur’an yang lain. Abdul Jarud, seorang Syi’ah yang terkenal banyak meriwayatkan sesuatu dari Al-Baqir mengenai Qur’an. Tidak kurang pentingnya kita sebutkan nama Jabar bin Yazid Al-Ju’fï, yang menulis juga sebuah tafsir dan ia meninggal tahun 127 H. Suda Al-Kabir, nama yang sebenarnya Isma’il bin Abdurrahman, juga mempunyai sebuah tafsir yang oleh banyak orang dijadikan sumber keterangan mengenai ilmu Qur’an. Untuk jangan keliru kita bedakan antara Suda As-Saghir bukan seorang Syi’ah dan Suda Al-Kabir adalah seorang ahli tafsir Syi’ah yang terkenal (mgl. 127 H).

Saya tidak ingin menyebutkan semua ahli tafsir Syi’ah itu disini dengan perincian sejarah hidupnya, karena terlalu banyak. Dari penyelidikan saya dan dibenarkan oleh beberapa keterangan Ahli sejarah Islam, ternyata orang-orang Syi’ah banyak terkenal sebagai ulama dalam segala bidang, dan giat mengarang dalam bermacam-macam ilmu sejak hari-hari pertama fatsu kurun pertama.

Terutama dalam ilmu Qur’an yang pada waktu itu merupakan persoalan yang sangat penting, banyak terdapat pengarang-pengarang Syi’ah yang tcrkemuka. Sedangkan selanjutnya sebagai ahli tafsir kita sebutkan Abu Hamzah As Samali. Tabi’in dan meninggal 150 H., Abu Jamadah As-Saluli (mgl. pada pertengahan abad ke II H.) Abu Ali Al-Hariri (mgl. idem), Abu Alim bin Faddal, Abu Thalib bin Shalat (mgl. akhir abad ke-II), Muhammad bin Khalil Al-Barqi (mgl. idem), Hisyam bin Muhammad As-Said Al-Kalbi (mgl. 206 H), Al Waqidi (mgl. 207 H.), Yunus bin Abdurrahman Ali Yatin, Hasan bin Mahbub As-Sarrad (mgl. 224 H.), Abu Usman Al-Mazani (mgl. 248 H.), Muhammad bin Mas’ud A/-Ayasyi, Farrad bin Ibrahim, Ali bin Mahziar Al Ahwazi, Husain bin Said Al-Ahwazi, Hasan bin Ahwazi, Hasan bin Khalid Al-Barqi Ibrahim As-Saqafi meninggal 283 H.

Ahmad bin Asadi, hampir semua keluarga Al-Qummi mengarang tafsir. Al-]aludi, As-Suli, Al-Dlurjan’, Al-Musawi, Ibn Nu’man, At- Thusi, At-Tabrasi, Ar-Rawandi (mgl. 573 H.) M-Fatital Asy-Syirazi (mgl. 948 H.), As-Sabzawari (mgl. 910 H.), Azwari Al-Masyadi, Al- Hamdani, Al-Bahrani (mgl. 1107 H.) Jawad bin Hasan Al-Balaghi (mgl. 1302 H), dll. masing-masing menerangkan tafsir Qur’an yang ditinjau dari segala sudut ilmu. Ada yang lucu, kadang-kadang orang Salaf yang menamakan diri anti Syi’ah, menggunakan tafsir Syi’ah dengan tidak mengetahui pengarangnya.

Sebagaimana dalam ilmu tafsir, kita dapati pengarang-pengarang Syi’ah yang ulung dalam ilmu Qur’an yang lain, misalnya dalam ayatayat hukum khusus mengenai mashaf Syi’ah seperti pengarang Al-Kalbi, (mgl. 146 H.), Ar-Rawandi (mgl. 573 H.), As-Sayuri (mgl. 792.), Al-Ardabli (mgl. 993 H.), Al-Kazimi (mgl. abad ke-II H).

Astrabadi (mgl. 1026 H.), Al-]azairi (mgl. 1151 H.), dll. yang kitabnya sekarang dipakai diseluruh dunia. Juga dalam ilmu Qur’an lain terkenal ulama2 Syi’ah misalnya mengenai ayat-ayat Mutasyabih, seperti Hamzah bin Habib (mgl. 156 H.), meskipun menurut Sayuti orang yang mula-mula mengarang dalam ilmu ini ialah A)l-Kasa’i (mgl. 182 H.), kedua-duanya adalahjuga ahli Qira’at Tujuh. Kemudian terkenal namanya Muhammad bin Ahmad Al-Wazir (mgl. 433 H.), Ibn Syahrassyaub al-Muzandra (mgl. 588 H.), dll.

Dalam Gharibul Qur’an adalah Aban Ibn Tughlab (mgl. 141 H.), Ada orang mengatakan Abu Ubaidah (bukan Syi’ah), tetapi Abu Ubaidah meninggal tahun 200H, kemudian dari masa Ibn Tughlab. Selanjutnya yang mengarang dalam bidang ini ialah Muftadhall Salmah, Ibn Darid (mgl 321 H.), Abu Hasan al-Adawi Asy-Syamsyathi (mgl. permul. abad ke-IV), semuanya ulama Syi’ah.

Karangan-karangan mengenai Asbabun Nuzul dihari-hari pertama juga diperbuat oleh golongan Syi’ah, seperti Ibn Abbas (mgl. 67 H), Muhammad bin Khalid ai-Barqi (mgl. akhir abad ke-IT H), Ibrahim bin Muhammad As-Sakaji (mgl. 283 H) Abdul Azis bin Yahya al-Jaludi (mgl. 330 H), Ibnul Hijam dalam abad yang ke-IV juga semuanya ulama Syi’ah.

Selanjutnya mengenai nasikh dan mansukh juga yang mula-mula dan banyak mengarang orang-orang Syi’ah, seperti Abdurrahman al-Asam (abad ke-II), Ad-Damiri (abad ke-Il), Ibn al Kadri mgl. 246 H) atau anaknya Hisyam (mgl. 207 H), Ibnal Fadhal mempunyai kitab nasikh dan mansukh, sebagaimana Al-Qummi, baik Ahmad bin Muhammad maupun A l i bin Ibn Ibrahim, selanjutnya pengarang Syi’ah yang pertama juga didalam bidang ini ialah Al-Jatudi (mgl. 330 H), dan Suduq bin Babuwaih al-Qummi (mgl. 381 H).

Dalam ilmu Majazul Qur’an yang memulainya ialah ulama Syi’ah, seperti Ibn al-Mustanir (mgl. 206 H.), pendeknya dalam segala bidang ilmu Qur’an, seperti ilmu mengenai pembagian Qur’an ilmu mengenai perhentian membaca dan menyambung ayat Qur’an, ilmu mengenai wakaf, ilmu mengenai i’rab, ilmu mengenai sejarah titik dan baris, ilmu mengenai fadilat membaca Qur’an (ada yang mengatakan Ubai bin Ka’ab yang meninggal 30 H), ada yang mengatakan Muhammad Idris Asy-Syafi’i (mgl. 204 H), ilmu bermacam-macam qira’at ilmu tadwid, dan ilmu-ilmu lain mengenai kitab suci, yang terbanyak ditulis oleh ulama-ulama Syi’ah dan mereka juga yang memulainya.

Mengenai nama-nama kitabnya saya tidak sebutkan disini, karena sangat banyaknya. Saya hanya mempersilahkan saudara membacanya dalam kitab A’yanusy Syi’ah, Juz I, bahagian ke-2, halaman 53 – 74 (Beint, 1960).

Wed, 30 Oct 2013 @14:44

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved