CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN

Aliran Syiah Di Nusantara (6)

image

Oleh H. ABOEBAKAR ATJEH

Dalam uraian-uraian yang telah lalu, telah kita jelaskan, bahwa kedudukan Imam Jafar As-Shadiq mengenai pendidikan ulama2 Ahlul Hadits dan ahlul Rayi atau Ahlul Qiyas, yang lama-kelamaan merupakan imam-imam mazhab yang terpenting seperti Malik bin Anas dan Abu Hanifah dll. Mashaf-mashaf itu ada yang menggabungkan dirinya dalam ikatan Ahlus Sunnah, ada yang dalam ikatan mashaf Ahlul Bait, karena dalam hukum fiqh ingin melanjutkan cara berfikir Imam Ja’far As-Shadiq, yang mereka namakan Fiqh Al-Ja’far, dengan mengutamakan hadits-hadits riwayat Ahlul Bait atau perawiperawi dari ulama-ulama Syi’ah sendiri.

Dalam salah satu bahagian kita sudah jelaskan, bahwa tidak kurang dari empat ratus orang muridnya yang mengarang kitabkitab fiqh menurut jalan ini. Usul fiqh untuk mashaf Al-Ja’far ini, yang terkenal dengan pokok persoalan empat ratus, dikumpulkan dalam empat buah kitab besar, yang masing-masing bernama A\l-Kafi, Al-lsttbsar, At-Tahzib dan Ma La Yahduruhul Fiqh. Inilah kitab-kitab hadits yang terbesar dan menjadi pokok bagi ulama-ulama Syi’ah yang terkenal dengan Kitab Empat sebagaimana terkenal dengan Kitab Enam dalam pengumpulan hadits bagi penganut Ahlus Sunnah.

Imam Ja’far As-Shadiq sangat bijaksana sekali dalam menciptakan ulama ulamanya, yang kemudian disiarkan keseluruh negara Islam untuk membasmi keyakinan-keyakinan yang salah, memerangi sifat ilhad dan zindiq, berdebat tentang aqidah yang tidak benar, mengalahkan firqah-firqah yang menyeleweng dari ayaran Islam dalam masa pancaroba dan zaman kekacauan politik dan agama itu. Ulama-ulamanya terdapat di Irak, Khurasan, Harnas, Syam, Hadramaut, dll, terutama di Kufah dan Madinah dimana bibit keyakinan Syi’ah ini sudah tertanam dan tumbuh dengan suburnya.

Imam Ja’far mempersiapkan ulama2 muridnya menurut pembawaannya masing2 dan menurut kebutuhan daerah. yang mengirimkan utusan kepadanya. Oleh karena pengetahuannya sangat luas dalam segala bidang, mudah baginya melakukan hal yang demikian itu.Ulama-ulamanya ada yang diuntukkan mengajar, ada yang diuntukkan buat berdebat dsb.

Aban ibn Tughlab dikhususkan pendidikannya untuk ilmu fiqh, dan diperintahkan duduk dalam mesjid memberi fatwa kepada orang banyak dalam hukum fiqh, Hanaran bin A’yun ditugaskan menjawab masalah-masalah yang bertali dengan ilmu Qur’an, Zararah bin A’yun untuk berdebat dalam fiqh, Mu’min at-Thaq dalam masalah ilmu kalam, Thayyar dalam perkara amal ketaatan, Hisyam bin Hakam dalam berdebat mengenai immamah dan i’tikad Syi’ah dsb. Maka mengalirlah orang-orang itu ketiap-tiap kota untuk menghadapi manusia dan berda’wah menurut mashaf Ahlil Bait.

Tidak cukup tempat untuk menyebutkan nama ulama-ulama itu satu persatu, serta sejarah perjuangannya. Meskipun demikian beberapa tokoh terpenting akan kita bicarakan dibawah ini.

Aban bin Tughlab bin Rabah, yang digelarkan Abu Sa’id al-Bakri al-Jariri (mgl. 141 H.), adalah ulama yang sangat terhormat dalam kalangan Syi’ah. Ia pernah belajar pada Imam Zainal Abidin, Al-Baqir dan As-Shadiq. Ia mempunyai majlis pengajaran khusus dalam mesjid.

Ia ulama fiqh Imamiyah yang terkenal menurut pendapat Yaqut, meriwayatkan banyak hadits dari A l i bin Husain, Abu Ja’far dan Abu Abdullah, fasih bahasa Arab, banyak mengetahui tentang pengertian Al-Qur’an, menurut Ahmad ibn Hanbal boleh dipercayai benar ucapannya, seorang yang tinggi adabnya, hadits riwayatnya banyak diambil oleh Muslim, Tarmizi, Abu Daud, An Nasa’i dan Ibn Majah.

Di antara gurunya juga ialah Al-Hakam bin Utaibah al-Kindi (mgl. 115 H), salah seorang perawi dalam Kitab Enam hadits Ahlus Sunnah, Fudhail bin Umar al-Fuqaimi (mgl. 110 H, yang hadits Ahlus banyak dipetik oleh Muslim dan Abu Ishaq Umar bin Abdullah al-Hamdani (mgl. 217 H.), salah seorang ulama Tabi’in dan perawi Hadits dalam Kitab Enam.

Banyak muridnya tersiar di mana-mana dan menjadi ulama-ulama besar seperti Musa bin ‘Uqbah al-Asadi (mgl. 141 H.), salah seorang yang riwayat haditsnya banyak dimuat dalam Kitab Enam, Syi’bah bin al-Hajjaj, Hammad bin Zaid al-Azadi, seorang ahli hadits yang terkenal (mgl. 197 H), mendapat pujian dari Ibn Mahdi dan Imam Ahmad tentang kejujurannya, Sufyan bin ‘Uyaynah, yang riwayat hidupnya sudah dimuat dimana-mana. Muhammad bin Khazim at-Tamimi (mgl. 195 H), juga banyak digunakan orang riwayat haditshaditsnya termuat dalam kitab Enam oleh Ahmad Ibn Hanbal, oleh Ishak bin Rahuwaih, Ibn Madani dan Ibn Mu’in, terutama hadits2nya yang dihafalnya dari Al-A’masy, dan Abdullah ibn Mubarak al-Hanzali (mgl. 181 H), seorang ulama besar yang sangat dipercayai, pernah menyelidiki hadits dan menulisnya dari empat ribu ulama.

Semua ulama-ulama hadits ini dipuji oleh Ibn Hajar dan Al-Khazraji dalam kitab-kitabnya yang terkenal.Aban bin Tughlab menghafal tidak kurang dari tiga ribu hadits dari Imam As-Shadiq, ahli dalam fiqh Al-Ja’fari atau mashaf Ahlil Bait, termasuk tokoh Syi’ah yang terpenting. Atas pertanyaan Abu Balad, Aban menerangkan, apa arti Syi’ah padanya. Katanya : “Syi’ah itu ialah golongan manusia yang memegang kepada ucapan Ali, apabila tentang sesuatu masalah dari Nabi dipertengkarkan orang sudah mempertengkarkan ucapan dan sikap A l i ” . (Asad Haidar, III; 57).

Di antara kitab-kitabnya ialah Gharibul Qur’an, mengenai Kitabul Fadha’il Kitab Ma’anil Qur’an, Kitabul Qira’at dan Kitabul Usul mengenai riwayat mashaf Syi’ah, dan banyak lagi yang lain-lain sebagaimana yang disebut dalam Fihra’at, karangan At-Thusi.

Di antara ulama yang terbesar juga, kita sebut Aban bin Usman al-Lu’lu’i (mgl. 200 H), berasal dari Kufah, pernah tinggal lama di Basrah, banyak hadits-haditsnya mengenai syair, keturunan dan hari hari penting bangsa Arab, berguru pada Abu Abdullah, Abdul Hasan, Musa bin Ja’far dll. Diantara kitabnya, yang disebutkan orang disanasini ialah Al-Mabda, Al-Mab’as, Al-Maghazi, Al-Wafah, As-Wafah, As-Saqifah dan Ar-Ridah (baca Mu’jamul Udaba’ 1.108 — 109, Lisa nul Mizan I ; 24, Fihrasat At-Thusi, hal. 18 dll).

Banyak sekali muridmuridnya yang menyiarkan pahamnya kesana-kesini, tidak kita sebutkan disini seorang demi seorang. Ulama-ulama Syi’ah yang lain dalam fiqh diantaranya Barid bin Ma’awiyah al’Ajadi (mgl. 150 H), sahabat Al-Baqir, dan As-Shadiq, ahli hadits dan fiqh, mempunyai kedudukan istimewa dalam mashaf Ahlil Bait, termasuk golongan enam orang yang sangat ahli dalam hukum fiqh, yaitu Zararah bin A’yun, Ma’ruf bin Kharbuz, Barid Al-Ajali, Abu Basir al-Asadi, Fudhil bin Yassar dan Muhammad bin Muslim At-Tha’ifi. Ia banyak meriwayatkan hadits dari Imam Baqir dan Imam As-Shadiq, yang sangat memuji-muji dia. Barid adalah salah seorang penulis yang terkenal dalam masa Imam As-Shadiq. Kemudian kita sebutkan pula Jamil bin Darraj an- Nakko’i termasuk sahabat Imam As-Shadiq dan anaknya Abu Hasan Musa, banyak mengarang dan meriwayatkan hadits-hadits, begitu juga Jamil bin Salih al-Asadi, dicintai oleh Imam As-Shadiq dan anaknya Musa.

Lain dari pada itu juga kita sebutkan Hammad bin Usman (mgl. 190 H) dan Hammad bin Isa al-Juhni, kedua-duanya sahabat Imam As-Shadiq dan Imam Al-Kazim dan kedua-duanya ahli fiqh dan hadits Ahlil Bait.

Tidak kurang pentingnya kita sebut Hubaid bin Sabit at-Kahili, berasal dari Kufah (mgl. 122 H), salah seorang dari pada Tabi’in dan perawi Kitab hadits Enam, banyak meriwayatkan hadits dari Zainal Abidin, Imam Al-Baqir dan anaknya As-Shadiq, begitu juga tidak kurang pentingnya kita peringatkan Hamzah bin Thayyar, salah seorang ulama fiqh Syi’ah dan tokohnya dalam ilmu kalam, memperdebatkan persoalan-persoalan yang menguntungkan mashaf Ahlil Bait, banyak sekali murid-muridnya tersiar dimana-mana.

Meskipun demikian yang lebih penting lagi kita bicarakan disini adalah dua tokoh ulama Syi’ah yang terbesar yang dalam perkembangan paham mashaf Al-Ja’fari dalam segala bidang, yaitu Mu’min Thaq dan Hisyam bin Hakam.

Mu’min Thaq adalah Muhammad bin A l i bin Nu’man al-Bajali, berasal dari Kufah, sahabat kental dari Imam Ja’far dan pencintanya. Mu’min Thaq adalah gelarnya yang berarti mu’min yang serba sanggup, demikian kesanggupannya dalam segala ilmu, sehingga ia dapat mengalahkan Imam Abu Hanifah dalam banyak persoalan, dan sehingga Abu Hanifah ini menamakannya Syaithan Thaq, sedang yang kesanggupannya luar biasa. Ulama-ulama Khawarij oleh Mu’min Thaq ini dikalahkan semuanya, tidak ada seorangpun diantara mereka yang berdebat dengannya dapat bertahan.

Hisyam pernah menemui Zaid Ibn Zainal Abidin, Ali bin Husain Zainal Abidin, Ilmunya banyak sekali, terutama sangat alim dim. Ilmu fiqh, ilmu kalam, hadits dan gubahan sajak. Ia sangat pandai dalam berdebat dan menggunakan kata-kata, tajam pandangan dan pikirannya dalam meninjau persoalan agama. Sambil berniaga ia mengunjungi banyak kota-kota Islam dan menyiarkan mashaf Ahli Bait. Sebagai contoh kita sebutkan perdebatan antaranya dan Abu Hanifah.

Abu Hanifah : Apa hukum nikah mut’ah padamu ?

Mu’min Thaq : Halal.

Abu Hanifah : Apakah boleh anakmu dan saudara-saudaramu bernikah mut’ah dengan orang lain ?

Mu’min Thaq : Yang demikian adalah sesuatu yang dihalalkan Tuhan, apa boleh buat. Tetapi sobat bagaimana hukum bier padamu ?

Abu Hanifah : Halal.

Mu’min Thaq : Apakah engkau akan girang, jika anakmu dan saudaramu menjadi pemabuk bier ?

Mu’min Thaq menulis kitab berisi perdebatan antaranya dengan
Abu Hanifah. Meskipun isi buku itu merupakan sendagurau dan penggeli hati tetapi berisi hukum-hukum fiqh dan cara berfikir antara seorang ulama Ahluh-Ra’yi dengan ulama Ahlil Bait.

Ibn Nadim menyebut bahwa dia adalah ulama kurun keempat, karena ia meninggal dalam tahun 385 H . Diantara kitab-kitab yang dikarangnya ialah mengenai persoalan Imamah, Ma’rifat, penolakan terhadap Mu’tazilah mengenai Imam Mafdhul, mengenai kehidupan Thalhah, Zubair dan Aisyah, mengenai penetapan wasiat, sebuah kitab yang bergelar “Kerajaan dan jangan kerjakan”.

Sebagaimana sudah kita katakan bahwa ia termasuk orang yang sangat dicintai oleh Imam As-Shadiq, yang pernah berkata : “Ada empat orang manusia yang kucintai hidup dan matinya, yaitu Barid bin Mu’awiyah al-Ajali, Zararah bin A’yun, Muhammad bin Muslim dan Abu Ja’far al-Ahwal”.

Gelaran senda gurau Syaitan Thaq oleh Abu Hanifah kepada Muhammad Al-Bajali oleh musuh-musuhnya disiar-siarkan secara sebaliknya sehingga musuh-musuh Syi’ah memakai nama-nama itu untuk membuktikan kesesatannya.

Belum dapat kita tutup karangan ini sebelum kita sebutkan Hisyam bin Hakam, al-Kindi (mgl. 197 H), lahir di Kufah, beberapa waktu berdagang di Baghdad, kemudian ditinggalkannya usahanya dan pergi belajar kepada Imam As-Shadiq sampai menjadi seorang alim dan sahabat Imam Musa Al-Kazim.

Hisyam adalah seorang yang banyak sekali pengetahuannya tentang mashaf-mashaf dalam Islam, sangat luas ilmunya dalam filsafat, seorang ahli ilmu kalam Syi’ah yang ulung, seorang yang petah lidahnya dalam mempertahankan persoalan imamah bagi Syi’ah. Zarkali mengatakan, bahwa Hisyam bin Hakam adalah seorang ahli hokum fiqh, ahli ilmu kalam dan manthik. Dr. Ahmad Amin mengatakan bahwa. Hisyam bin Hakam adalah tokoh ilmu kalam Syi’ah terbesar, murid dari Ja’far As-Shadiq seorang yg tidak dapat dipatahkan alasannya, sehingga Imam As-Shadiq, pernah memuji kêpribadiannya : “Hai H i syam, engkau selalu dikuatkan pendapatmu dgn. roh suci”. Imam Ridha mengatakan : “Moga2 Allah memberi rahmat kepada Hisyam, karena ia adalah seorang hamba yang salih”. Harun ar-Rasyid memuji Hisyam demikian : “Lidah Hisyam lebih dapat menghancurkan jiwa manusia daripada seribu pedang”.

Tatkala ia mendekati Imam As-Shadiq, orang besar ini segera melihat bahwa Hisyam seorang yg cerdas otaknya, seorang ikhlas dan seorang yang beriman, oleh karena itu lalu dididiknya Hisyam sampai menjadi seorang besar dalam ilmu pengetahuan menurut mashafnya, seorang tokoh filsafat, seorang yang bersih aqidahnya, yang dapat mempertahankan mashaf Ahlil Bait dari pada serangan-serangan aliran-aliran Islam lain yang memusuhinya, yaitu aliran-aliran yangsudah banyak dipengaruhi oleh filsafat Yunani.

Hisyam ahli dalam ilmu fiqh, hadits dan tafsir, dan banyak meriwayatkan hadits-hadits dalam segala bidang hukum. Didalam kitabkitab hadits dan fiqh banyak disebutkan riwayatnya, diantara lain oleh As-Sirfi, Al-Ajali, Al-Yaqthain dll. Ia banyak sekali mengarang kitab2 dalam segala bidang ilmu, diantara lain, sebagaimana yg disebutkan oleh Ibn Nadim, mengenai imamah, mengenai falsafat, mengenai penolakan terhadap orang2 zindiq, penolakan-penolakan terhadap musuh Syi’ah, mengenai Jabariyah dan Qadariyah dll. yang tinggi nilai dan mutunya.

Yang lebih aneh tentang dirinya ialah bahwa ia dapat membawa dirinya diterima oleh Harun ar-Rasyid dan oleh golongan Syi’ah. Untuk mengetahui, betapa hati-hati ia mengeluarkan pendapat-pendapatnya agar orang-orang mengerti tetapi tidak tersinggung perasaannya, kita sebut suatu percakapan antara Harun ar-Rasyid dengan Hisyam sebagai dibawah ini :

Harun ar-Rasyid: Hai Hisyam, tahukah engkau bahwa Ali pernah mengadukan Abbas kepada Abu Bakar ?

Hisyam : Sungguh ada. Harun ar-Rasyid : Mana yang lazim terhadap sahabatnya, Ali-kah atau Abbas ? (Hisyam sadar akan dirinya, bahwa persoalan ini untuk memancing sikapnya. Jika ia mengatakan Abbas yg zalim ia dianggap menghinakan Rasyid, Jika ia mengatakan Ali yang zalim ia merusakkan keyakinannya sebagai orang Syi’ah. KemudianHisyam berfikir dan mengeluarkan pendapatnya).

Hisyam: Kedua-duanya tidak zalim. Harun ar-Rasyid : Jika tidak ada yang zalim, bagaimana masuk di ‘akal, kedua-duanya datang mengadu pada Abu Bakar ?
Hisyam: Boleh saja daulat tuanku. Dua orang malaikat pernah mengadu nasibnya kepada Nabi Daud, sedang tak ada seorang diantaranya yang zalim, tetapi kedua-duanya ingin hendak memperingatkan suatu kejadian. Demikian pula Abbas dan Ali datang kepada Abu Bakar, datang hendak memperingatkan suatu kejadian, sedang keduaduanya tidak ada yang zalim.

Jawaban ini rupanya sangat mendapat penerimaan pada Khalifah Harun ar-Rasyid, dan oleh karena itu ia termasuk orang yang disenanginya, meskipun dalam bathinnya ia tetap mencintai A l i dan keturunannya.

Demikian beberapa patah kata tentang keistimewaan Hisyam sebagai ulama terbesar dan tokoh terpenting dalam mashaf Ahlil Bait. Ia dicintai oleh ulama-ulama dari aneka mashaf dan aliran, baik oleh musuh maupun oleh kawannya. Tuduhan-tuduhan Jahiz, dan dibelakang ini Dr. Ahmad Amin, bahwa Hisyam bin Hakam adalah penganut aliran Rifdhi dan membenci semua sahabat Nabi, oleh golongan Syi’ah tidak dapat diterima. Yang jelas adalah, bahwa Hisyam mencintai Ahlil Bait dan menyiarkan kecintaan ini dalam ajaran-ajarannya.

Wed, 30 Oct 2013 @14:50

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved