Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Aliran Syiah Di Nusantara (7)

image

Oleh H. ABOEBAKAR ATJEH

Kedatangan Islam di Nusantara sama dengan waktu kedatangan orang-orang Syi’ah ketempat ini, baik sebagai pedagang, maupun sebagai pengembara atau ahli da’wah, baik memakai nama Arab, maupun sudah merupakan keturunan orang-orang Persia atau India.

Dr. C. Snouck Hurgronje menceriterakan dalam bukunya “De-Islam in Nederlandcsh-Indie” Serie II, No. 9 dari “Groote Godsdiensten” tentang masuknya Islam ke Nusantara sebagai berikut :

Tatkala raja Mongol Hulagu dalam thn. 1258 M. menghancurkan Baghdad yang lebih daripada lima abad lamanya merupakan Ibu negeri kerajaan Islam, kelihatan seakan-akan kesatuan kerajaan-kerajaan Islam itu lenyap. Hanya setengah abad sebelum kejadian yang penting itu berlaku, Islam dengan secara tenang berkembang dan masuk kepulau-pulau Nusantara dan sekitarnya. Perkembangan ini tidak dicampuri oleh sesuatu usaha Pemerintah mana juapun. Negara-negara pesisir Sumatera, seluruh Jawa, keliling pantai Borneo dan Sulawesi, begitu juga beberapa banyak pulau-pulau kecil yang lain, satu-persatu dimasuki oleh Islam, terutama dengan usaha saudara-saudara Islam atau orang-orang Islam yang ingin memperoleh tempat tinggal yang baru, datang dari daerah sebelah Barat. Usaha itu dibantu pula oleh anak negeri yang sudah masuk Islam didaerah pesisir, sebagian turut menyiarkan da’wah agama itu kedaerah pedalaman, dan sebahagian lagi pergi berlayar menyiarkan keyakinannya yang baru itu kepulaupulau yang terdekat, baik secara damai maupun secara jihad.

Batu-batu nisan yang bertulis, yang memuatkan ceritera-ceritera lama dalam kalangan anak negeri, begitu juga catatan-catatan yang ditinggalkan oleh seorang Venesia, Marco Polo, dari abad ke-XIII, begitu juga kisah pelayaran dari seorang peninjau Arab, Ibn Bathuthah, yang masih tersimpan sejak abad ke XIV, menerangkan kepada kita akan adanya sebuah kerajaan Islam di Sumatera Utara, bernama Pasé. Tentang masuknya Islam ke Minangkabau, ke Palembang, ke-Jambi dan kedaerah-daerah pesisir yang lain dari pulau itu, tidaklah kita ketahui pada permulaannya dengan kenyataan-kenyataan yang dapat kita percaya. Tentang kedatangan Islam di Jawa, akan kita bicarakan nanti dibawah ini.

Di Jawa kejatuhan kerajaan Hindu Majapahit kira-kira dalam th. 518 M., merupakan hasil yang gilang-gemilang bagi perjuangan yang gigih oleh mubaligh anak neger; sendiri, yang umumnya dinamakan Wali Sembilan (Wali Songo). Dalam abad ke-XVI itu juga telah berdin di Jawa kerajaan-kerajaan Islam Mataram, Banten dan Cirebon, yang meng-Islamkan seluruh rakyatnya.

Tentang pengetahuan mengenai masuknya agama baru ini kepulau-pulau yang lain, kita umumnya hanya mempunyai sumbersumber penerangan yang berasal dari anak negeri semata-mata, yang tefdiri dari dongeng-dongeng mengenai tempat kejadian sejarah, begitu juga beberapa kejadian-kejadian dan beberapa silsilah yang tidak lengkap. Isinya daripada dongeng-dongeng yang menceriterakan tentang orang-orang masuk Islam itu hampir semuanya ada bersamaan.

Seorang Wali Islam, biasanya datang dari negeri asal Islam, negeri Arab, mendapat mimpi diberi perintah oleh Nabi Muhammad, untuk berangkat dengan segera kesuatu daerah orang khafir, yang tidak berapa jauh letaknya dari tempat itu. Kedatangannya kenegeri tersebut biasanya sudah diumumkan kepada beberapa orang penduduknya, baik dengan mimpi atau dengan tanda alamat yang lain. Wali itupun berangkatlah, dan perjalanannya terjadi dalam sekejap mata, tak ada suatu rintangan-pun yang menghalanginya, gunung tidak lautpun tidak merintangi perlawatannya. Dengan keajaiban yang luar biasa, melebihi sihir2 orang khafir itu, wali yang suci itu dengan segera dapat mengembangkan ajaran Nabi Muhammad dan memperbanyak pemeluknya. Maka seketika itu juga berduyun-duyunlah orang-orang kafir itu datang menemui wali yang suci itu untuk bersama-sama mengerjakan Sembahyang secara Islam.

Ceritera yang demikian itu berakhir, bahwa ajaran Islam dengan segera berkembang ditempat itu, baik dengan berjihad atas jalan Allah maupun dengan da’wah yang dilakukan secara damai. Demikian kata Dr. C. Snouck Hurgronje. Tentang cara berkembang Islam di Nusantara dan bangsa mana yang mula-mula membawanya kemari, ia menerangkan sbb:

Jauh sebelum lahir Islam sudah banyak datang orang-orang dari Hindustan yang mencari tempat tinggal (kolonisasi) di Jawa dan pulau-pulau yang terletak disekitarnya, serta membawa peradaban yang disiarkannya ditempat-tempat itu.
Sesudah orang-orang Hindu masuk Islam, maka orang-orang Hindu yang Islam ini meneruskan jalan penghidupan yang sudah ditempuh dahulu itu. Orang-orang inilah yang mula-mula memperkenalkan Islam kepada bangsa-bangsa kita diseluruh Nusantara. Kedalam orangorang Hindu ini, termasuk orang-orang Syi’ah, meskipun memakai nama Persia atau Hindu, seperti nama Ar-Raniri, terambil dari perkataan Render di India, tetapi ia adalah seorang dari ulama Ahlil Bait.

Baca karangan Dr. Tujimah. Selanjutnya dapat kita jelaskan, bahwa barangkali mungkin sebelum kedatangan ke Nusantara, mereka sudah pernah ada ditengah-tengah bangsa-bangsa Islam yang lain, dan mungkin pula sudah bertempat tinggal dahulu disalah satu daerah Nusantara, tetapi belum memperlihatkan pengaruh yang berarti tentang keyakinan baru itu. Maka dengan jalan itu dengan mudah Islam tersiar di Nusantara, karena orang-orang kita disebelah Timur ini telah mempelajari agama Hindu pada orang-orang Hindu yang sebelumnya dating kemari. Penduduk Jawa dan Sumatera tidak begitu sukar menyesuaikan diri dengan kehidupan orang Hindu dan agama Hindu.

Segala ceritera bahwa di dalamnya digambarkan kejadian-kejadian yang semasa dengan Nabi atau dengan khalifah-khalifahnya sebagai yang terdapat disalin dalam bahasa Melayu (Indonesia), mungkin sudah banyak menyimpang dari pada kejadian-kejadian yang sebenarnya.

Ke dalam masyarakat Islam Nusantara dengan jalan itu sudah dimasukkan pengaruh-pengaruh aliran, misalnya pengaruh Syi’ah, sebagaimana yang terdapat didaerah-daerah pesisir Malabar dan koromandel juga terdapat di Nusantara seluruhnya.

Meskipun dikatakan Islam disitu diajarkan menurut Ahli Sunnah, tetapi pemeriksaan menunjukkan, bahwa banyak masalah-masalah sehari-hari yang dipecahkan menurut mashaf Syi’ah. Lain dari pada itu terdapat di sana di sini paham Sufi menurut Mashaf Hululiyah atau Wihdatul Wujud, sementara waktu terdapat pula dalam Iapisan rakyat rendah takhayul-takhayul yang tidak sedikit banyaknya.

Semua kejadian itu menunjukkan, bahwa Islam di Nusantara pada zaman Purbakala itu tidak diterima langsung dari orang Arab Perhubungan dengan Mekkah dan Madinah baru mulai terbuka dalam abad yang ke-VII, dan pada ketika itu terjadilah hubungan yang langsung antara kedua kota suci itu dengan penduduk Nusantara, yang naik haji dan belajar disana, meskipun terkenal dengan nama masyarakat ‘Jawa” yang tidak sedikit jumlahnya. Orang-orang inilah yang boleh dianggap mula-mula mempelajari Islam pada sumber daerah tempat lahirnya Nabi Muhammad.

Mereka yang pulang ke tanah airnya tidak sedikit kemudian membuka tantangan terhadap ajaran-ajaran dan cara berfikir, yang dimasukkan orang-orang sebelumnya melalui Hindustan mengenai Islam, sebagaimana kemudian kedatangan orangorang Arab dari Hadramaut ke Nusantara membawa pengaruh dalam cara meyakini Islam dan berfikir.

Wed, 30 Oct 2013 @14:58

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved