Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Aliran Syiah Di Nusantara (9)

image

Oleh H. ABOEBAKAR ATJEH

L-W-C- van den Burg, dalam bukunya, Le Hadramaut et les Arabs et India, mengatakan: Adapun hasil yang nyata dalam penyiaran agama Islam adalah dari orang-orang golongan Sayyid dan Syarif. Dengan perantaraan mereka, agama Islam tersiar diantara rajaraja Hindu di Jawa dan suku-suku yang belum beragama. Selain dari mereka ini, ada juga penyiar-penyiar Islam itu datang dari Arab Hadramaut.

Sayed Alwi bin Tahir Al-Haddad, memberi komentar atas keterangan ini dalam kitabnya “Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh” (Jakarta, 1957), bahwa agama Islam tersiar dan berkembang di Sumatera sedikit demi sedikit, sebagaimana tersiarnya Islam di Malabar dan Koromandel, dan diantara penyiar-penyiar agama Islam yang terkenal, banyak sekali diantara mereka adalah suku Sayid (Alawi). Pengarang ini mengemukakan, bahwa An-”Nihyatul Arab Fi Fununil Adab” dan Al-Dimasyqi, dalam kitabnya “Nuchbatuddahr Fi Ajaib el bar war bahr”, pernah menyebut tempat-tempatnya tersyiar agama Islam pada hari-hari pertama itu, yaitu dipulau-pulau “Hindia Timur” sampai ke India, dipulau Surandib (Sailan), antara Saribazah (Sri Wijaya) di Sumatera, dan Kelah (Kedah) di Semenanjung Melayu dan terus kepulau Zabaj atau Ranj (Kalimantan).

Ditempat-tempat tersebut berakarlah agama Islam itu, dan sebagai akibatnya tegaklah kerajaan-kerajaan kecil yang merupakan pemerintahan. Menurut sejarah keturunan sultan2 Brunai yang dimuat dalam the Journal of the Straits Branch of the Royal Asiatic Society di Singapore No. 1 sampai 5 thn. 1878 — 1880, yang disimpan di Raffles Library, dikatakan bahwa penyiar-penyiar agama Islam disana terdiri dari suku Sayid Syarif yang terikat dengan keluarga sultan-sultan di pulau-pulau Filipina.

Dalam sejarah Serawak juga dikatakan bahwa Sultan Barakat berasal dari keturunan Sayidina Hussein bin A l i (“A History of Serawak under two whit Rajabhs” S. Baring Gould, Raffles Library, Singapore).

Demikianlah terdapat riwayat raja-raja disekitar Mindanau, di Manila, dan di Sulu. Di Pontianak sampai sekarang masih terdapat keturunan raja-raja dari suku Al-Gadri. dalam silsilah, bahwa nenek moyang Sultan-sultan Brunei, Sulu dan Mindanau adalah kakak beradik dari pada keturunan Syarif Ali Zainal Abidin, keturunan Nabi Muhammad yang pindah dari Hadramaut, Arab Selatan ke Johor, Malaya Selatan dan berkembang disekitar daerah ini.

Diatas sudah diterangkan raja-raja di Aceh, yang nisannya menyebut gelar Al-Malik atau Raja, misalnya ada nisan yang terdapat di Blang Me, pada kuburan Al-Malik Al-Kamil (mgl. 7 Jumadil Awal 607 H/1210 M). Disampingnya terdapat kuburan Ya’cub, saudara misannya, yaitu seorang Panglima yang meng-Islamkan orang-orang Gayo dan beberapa suku di Sumatera Barat (mgl. 15 Muharram 630H/ 1237, M.)- Kemudian terdapat disana kuburan Al-Malik As-Salih, yang sudah dibicarakan diatas oleh Thabathaba’i dan Dr. Cowan, dengan nama Na’ina Husamuddin atau Husainnuddin (saya juga pernah melihat kuburan ini, dan saya tidak membaca “Naina”, tetapi huruf yang sudah rusak ini saya lebih yakin membaca “Maulana”, (mgl. 8 Ramaddan 696 H./1296 M). Maulana atau Malfi biasa digunakan di India untuk sahib-sahib atau orang-orang istimewa pengetahuan Islamnya atau kekuasaannya.

Al-Haddad, dan dalam terjemah Indonesia Dhiya Shahab, mengatakan dalam karangannya tersebut diatas, bahwa sesudah Sultan Al-Malik As-Salih ini memerintah pula anaknya Sultan Muhammad Al- Zahir (mgl. 12 Julhiyyah 726 H /1325 M ). Sesudah sultan ini memerintah pula anaknya bernama Sultan Ahmad bin Muhammad Al-Zahir.

Kuburannya terdapat di Meunasah Meucet didesa Blang Me, yang pada waktu hidupnya bergelar Abi Zainal Abidin (mgl. 4 Jumadil akhir 809 H /1406 M.), dan kemudian anaknya pula yang bergelar A l i Zainal Abidin (mgl. 811 H/1408 M.), yang sesudah mangkat digantikan oleh Abdullah Salahuddin dan isterinya Buhaya binti Zainal Abidin.

Kuburan-kuburan di Aceh terdapat bertabur pada beberapa tempat sekitar Gedung dan Baju, Meunasah Mancang, Blang Me, Pase, Samudra, dll. Al-Haddad berpendapat, bahwa keluarga-keluarga inilah merupakan asal-usul raja-raja Brunei, Cermin Lama, Serawak dan negerinegeri yang takluk padanya, juga raja-raja Sulu, Sibuh (Subuh), Mindanau dan Kanawi yaitu pulau yang boleh jadi yang dinamakan dalam kitab-kitab lama dalam bahasa Arab “Al-Alawiyah” dan menurut paham kami dari karangan Dr. Nageeb Saliby dalam bahagian tentang kepulauan-kepulauan yang banyaknya kira-kira seribu tujuh ratus pulau dimana disebut negeri-negeri. Ia berkata : “Jajahan yang terbesar ialah pulau Kanawi dimana berdiam seorang Syarif Alawi yang terkuat dipulau itu”.

Nama Al-Alawiyah dipulau itu disebut oleh pengarang “Nuchbatud dahr”. Selain di Aceh, yang raja-rajanya dalam susunan sejarah Pemerintah Aceh terdapat juga, gelar-gelar Sayyid dan Syarif, seperti Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin (1699/1702 ML). Syarif Lam Tui (1702 – 1903 M), Syarif Syaiful Alam (1815 – 1820 M), juga terdapat didaerah-daerah lain di Sumatera golongan Ahlil Bait ini turut memerintah, misalnya di Palembang dengan silsilah yang panjang seperti Tuan Fakih Jamaluddin yang bermakam di Talang Sura (1161 M.), yang ternyata, bahwa nama-namanya yang lengkap adalah Syayic Jamaluddin Agung bin Ahmad bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad, seterusnya sampai kepada Syaidina Husain.

Dalam silsilah ini disebut bahwa Jamaluddin Akbar mempunyai tujuh orang anak, tetapi yang disebut keturunannya ialah dari Zainul Akbar, yang menurunkan raja-raja Palembang, Pangeran-pangeran dan radenraden di Palembang, Sunan Giri dan Sunan Ampel. Ada orang berpendapat bahwa raden itu berasal dari perkataan Arab “ruhuddin” (jiwa agama) yang kemudian menjadi gelar bangsawan dari orang Jawa.

Sebuah silsilah yang terdapat di Banyuwangi, Jawa, juga bersamaan dengan silsilah yang terdapat di Palembang. Dengan demikian, melalui penyiaran agama kita dapati darahdarah Ahlil Bait ini bertabur dan bercampur dengan darah raja-raja Nusantara, baik diseluruh daerah Malaysia, termasuk yang terpenting Malaya, maupun di kepulauan Indonesia, baik di Ambon, dimana sampai sekarang terdengar nama Sayid Parintah, yang mengatur pemberontakan Patimura terhadap Belanda, maupun di Borneo dan Sulawesi, Halmahera, bahkan sampai ke Irian Barat, Terutama di Jawa, dalam masa da’wah Wali Sembilan (Wali songo), banyak sekali campuran darah Ahlil Bait ini dengan anak negeri dan sultan-sultan dan rajaraja dari zaman, Mataram Islam.

[PROF. DR. H. ABOEBAKAR ATJEH dan diterbitkan oleh ISLAMIC RESEARCH INSTITUTE : J A K A R T A, 1977]

BAHAN BACAAN
Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh : “Syi’ah, Rasionalisme dalam Islam”, (Semarang, 1972). Prof. Dr. H . Aboebakar Aceh : “Sejarah Al-Qur’an” (Surabaya – Malang, 1956 eet. ke-IV).
Abdul Hafid Faragli : “Ahlul Bait fi Misr”, (Cairo Desember 1974). Asad Haidar : “Al-Imam as-Shadiq wal Mazahilil Arba’ah”, (hal. 216 – 218). Haditsuts Tsaqalain”, 1952 M. Penerbitan „Darut Taqrib bainal Mazahibil Islamiyah”. Muhammad Abdul Baqi : „As-Sa’ral Anwal Fil Islam”. Hakim An-Naisaburi : “Ma’rifah Ulumul Hadits”. Abu Abdullah Az-Zanjani : “Tarikhul Qur’an.” Dr. C. Snouck Hurgronje : “De Islam in Nederlancsh-Indie”, Serie II, No. 9, dari “Groote Godsdiensten”. Sayyid Alawi bin Thahir Al-Haddad : “Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh”, Jakarta, 1957. Dr. H. J. de Graaf : “Geschiedenis Van Indonesia”, (hal. 87). Dr. K.H.J. Cowan : “A Persian Inscription in Nort Sumatra” dimuat Dalam Majallah “Tijdschrift Voor Taal, Land en Vilkendunde, Deel LXXX, 1940″. L.W.C. Van den Burg : Le Hadramaut et les Arabs et India”.

Thu, 31 Oct 2013 @15:58

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved