AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Menjawab Provokasi Suffer tentang Mazhab Syiah (1)

image

Beberapa hari yang lalu, seorang yang mengatasnamakan Muslimin Suffer mengirimkan email-email yang bernuansa provokasi dan menyebarkan informasi yang kurang baik tentang Ahlulbait dan Syiah. Setelah melakukan dialog via email, ternayat tampak tak ada upaya untuk cari kebenaran malah sebaliknya. Kemudian dalam milis Pengajian Ahad, seorang kawan melayaninya via email. Inilah hasil diskusinya....

Tanggapan

Salam, sayang sekali Anda tidak mencoba membaca dengan saksama. Kalau ya Anda akan temukan jawaban pertanyaan Anda itu dalam balasan email. 

Menurut asumsi anda, Imam Ali "begitu bersemangat menjalin hubungan kekerabatan dan sangat senang memberi nama anak2 beliau dengan musuh2 syiah (Abu Bakar, Umar Utsman dll ..." Anda mencoba membuktikan bahwa beliau bersemangat menjalin hubungan baik dengan para ketiga Khulafa itu antara lain dengan memberi nama anak2 beliau dengan nama-nama mereka. Saya mencoba membuktikan, bukan sekadar membenarkan, bahwa nama-nama yang beliau berikan itu TIDAK merujuk kepada ketiga Khalifah itu.  

Juga, supaya tidak salah, Imam Ali memang berakhlak mulia seperti "saudara kembarnya" Rasulullah SAW, yang bahkan dimusuhi dan dicaci maki atau hak beliau dirampas dan hampir dibunuh, namun tetap saja memaafkan mereka dan bahkan membebaskan mereka (menjadi "tulaqa") pada peristiwa Futuh (Pembebasan) Mekkah.

Imam Ali tidak seperti kita yang sikapnya dapat dipengaruhi oleh tingkah laku orang terhadap kita. Imam Ali, seperti Rasulullah, adalah pengejawantahan Quran (the Living and Talking Quran) yang menjalankan perintah " janganlah kebencian orang kepadamu membuat kamu berlaku tidak adil " (QS Al-Maidah/5: 8). 

Sementara beliau tidak anti "menjalin hubungan kekerabatan" dengan siapa pun, termasuk dengan ketiga Khalifah pendahulunya, Imam Ali tidak "... sangat senang memberi nama anak2 beliau dengan " nama-nama para Ketiga Khalifah tersebut. 

Tentang tambahan info anda di bawah ini saya tanggapi sbb. Soal pemberian nama sudah kita bahas dalam email sebelumnya dan kesimpulan di atas. 

Ada pun mengenai pernikahan di antara para sahabat, termasuk pemuka Ahlul Bait, seperti Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain, dan lainnya bukanlah sesuatu yang jadi persoalan buat para Pemuka Syiah dan para pengikutnya.

Imam Ali menikahi  Asma' Binti Umais, janda Abu Bakar, dan merawat serta membesarkan anaknya Muhammad bin Abu Bakr, merupakan fakta sejarah yang tak ada gunanya ditutup-nutupi. Apa yang ingin ditutup-tutupi? Bahkan dengan kemuliaan sikap Imam itulah Muhammad bin Abu Bakr berkarakter mulia seperti ayah asuhnya: Imam Ali. 

Juga merupakan fakta sejarah bahwa istri-istri Rasulullah SAW adalah putri-putri Abu Bakr, Umar. Bahkan Ummu Habibah adalah putri Abu Sufyan, yang menjadi istri Baginda Nabi saat ayahnya masih kafir dan menjadi musuh utama Rasulullah SAW. Apakah itu berarti Ummu Habibah sama kafirnya dengan ayahnya? Tidak, bahkan Ummu Habibah menolak memberi tempat duduk kepada ayahnya pada saat dia mengunjungi sang putri, dan menunggu hingga Rasulullah datang dan memberi izin. 

Menjadi istri dan anak seseorang tidak dengan sendirinya membuat yang bersangkutan seperti atau mewarisi sifat-sifat ayah atau suaminya. Karena Abu Bakr mengambil hak Imam Ali sebagai Khalifah tidak berarti istrinya Asma menjadi musuh Imam dan karenanya harus dihindari untuk dinikahi setelah Abu Bakr meninggal.  

Tradisi yang dilakukan Nabi dan diikuti Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain dan para sahabat ini berlangsung terus hingga generasi-generasi berikutnya.

MUHAMMAD AL-JAWAD adalah Imam Syiah Kesembilan, putra Ali Ridha Imam Syiah Kedelapan, putra Musa Al-Kazhim Imam Syiah Ketujuh, putra Ja'far As-Shadiq Imam Syiah Keenam. Benar karena ingin merebut pengaruh kaum Syiah, Khalifah Abbasiyah Ma'mun Rasyid, menikahkan putrinya Ummu Al-Fadhl dengan Imam Muhammad Taqi Al-Jawad. Lalu apakah berarti Ummul Fadhl sama buruknya seperti ayahnya? Sejarah membuktikan bahwa beliau bahkan menjadi sebaik suaminya daripada seburuk ayahnya.  

Mungkin anda lupa bahwa yang menentukan kemuliaan seseorang bukanlah ras atau keturunan atau pasangannya. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al Hujurat: 13). Sekali lagi: "Inna akramakum 'indallahi atqakum."

(Misykat) 

Wed, 6 Nov 2013 @14:42

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved