BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Dhogo in fi Shuduuri Aqwaamin [KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Saya ingin memberikan komentar pada selebaran yang dibagikan di Masjid Istiqamah Bandung pada ibadah shalat Jum’at yang lalu. Di sana disebarkan pada jamaah selebaran dengan judul: Kebencian dan Kebohongan Jalaluddin Rakhmat, terhadap Ummul Mukminin ‘Aisyah ra, Imam Bukhari, dan Imam Muslim.

(Rupanya selebaran itu berasal dari Makassar, tertanggal 29 Ramadhan 1429 H. barangkali hitung-hitung ibadah menutup Ramadhan—Red).

Menurut para sosiologi, ketika seseorang melihat sebuah peristiwa, ia selalu berusaha memberik makna: untuk apa peristiwa itu, mengapa, dan sebagainya. Kita akan mencari hubungannya dengan peristiwa lainnya yang berkaitan dengan peristiwa itu. Kita akan menemukan bahwa sebuah cerita itu saling berhubungan alam kehidupan ini. Sewaktu membaca selebaran ini saya juga tidak paham apa yang dia maksud. Untuk apa sebetulnya Masjid Istiqamah membagi-bagikan ini? Lalu saya berpikir, mungkin, karena sebentar lagi ada acara Asyura. Dan pasti yang memiliki lakon dalam acara ini ialah Jalaluddin Rakhmat.

Dia pasti akan bercerita tentang Karbala, dan dampak dari peristiwa Karbala adalah banyaknya orang yang akan terpengaruh (dan terperangah—red) dengan cerita ini.

Saya menduga, sekitar 20% pengunjung ialah orang yang tidak bermadzhab Ahlul Bayt. Orang yang datang ingin mendengar. Kemungkinan besar orang-orang seperti itu akan mempercayai cerita Jalaluddin Rakhmat.

Apalagi, karena—menurut selebaran itu—Jalaluddin Rakhmat memiliki keahlian dalam komunikasi. Disebutkan di dalamnya bahwa cara untuk menangkis serangan tersebut ialah menyiapkan suatu benteng dalam hati untuk ditanamkan dalam benak bahwa Jalaluddin Rakhmat itu ialah seorang pembohong besar.

Dahulu pada suatu ketika, Rasulullah Saw berjalan di luar kota Madinah bersama Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, dan Imam Ali as. Di luar benteng Madinah itu, ada taman-taman yang asri. Imam Ali berkata kepada Nabi, “Ya, Rasulullah. Betapa indahnya kebun-kebun ini.”

Rasulullah Saw menjawab, “Sesungguhnya tamanmu di surga jauh lebih indah dari ini.”

Beberapa saat kemudian kata Anas bin Malik, Rasulullah Saw meletakkan kepalanya di bahu Imam Ali. Menurut riwayat Imam Ali: Rasulullah meletakkan dahinya di bahuku, kemudian beliau terus menerus menangis, makin lama makin keras.

Kemudian Rasulullah Saw memberikan isyarat terhadap jatuhnya Imam Ali, dan orang-orang bertanya kepada Rasulullah: “Mengapa kau menangis, ya Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, “Aku sedih, aku menangis, karena kebencian yang ada pada hati kabilah-kabilah itu, dhogo’in fi shuduuri aqwaamin, terhadap kamu hai Ali. Yang tidak mereka tampakkan. Kecuali setelah aku meninggalkan dunia ini.”

Jadi, Rasulullah meramalkan bahwa suatu saat bakal ada orang yang menampakkan kebenciannya kepada Imam Ali, setelah Rasulullah meninggal dunia. Dan kebencian itu tidak memiliki dasar apa-apa. Bukan benci karena pribadi Imam Ali, karena tidak akan ada seorangpun yang menemukan dalam Imam Ali, suatu kepribadian yang membuat seseorang benci kepadanya.

Murtadha Muthahhari pernah menulis tentang gaya tolak dan gaya tarik (quwwatun jaadzibah wa daafi’ah) Imam Ali.

Seseorang tidak akan menemukan sesuatu yang membuat mereka benci terhadap Imam Ali. Saya hampir-hampir mengatakan “ini kebencian kolektif”.

Rasulullah Saw menyebutnya: “rasa benci pada hati kaum-kaum tersebut terhadapmu”. Dan rasa benci itu bukan disebabkan oleh pribadi Imam Ali.

Ketika Ibn Muljam dihadapkann kepada Imam Ali dan Imam Ali dalam keadaan kepala terbaring bersimbah darah dan wajahnya memutih, Imam Ali melihat Ibnu Muljam terikat.

Imam Ali meminta agar ikatan Ibnu Muljam itu dilonggarkan. Imam Ali bertanya padanya: Aku ini pemimpin seperti apakah menurut kamu? Apakah pernah aku menyakiti hatimu? Apakah pernah aku merugikanmu? Bukankah aku dahulukanmu daripada yang lain? Aku sudah tahu bahwa kamu akan menjadi pembunuhku………. tapi aku biarkan kamu. Apa sebetulnya dalam diriku sehingga kau melakukan apa yang kau lakukan kepadaku?

Ibnu Muljam tak dapat menjawab. Memang tidak ada alasan untuk membenci Imam Ali. Itu hanya karena sebuah ideologi yang diterapkan terus menerus. Sehingga menyebabkan orang membenci Imam Ali, bukan karena apa-apa, tanpa sebab yang jelas.

Dan apa yang terjadi pada Imam Ali, terjadi juga pada Imam Husein. Di padang Karbala, Imam Husein berkata: “Siapa yang mengenal aku pasti ia mengenal ayahku. Siapa yang tidak mengenaliku, mari aku sebutkan. Siapakah orang yang pertamakali shalat di belakang Rasululllah? Ayahku atau ayahmu?”

Mereka semua tak mampu menjawab, namun mereka tetap ingin membunuh Imam Husein. Itulah kedengkian yang tersembunyi dalam hati, yang baru mereka tampakkan sepeninggal Rasulullah Saw.

Lihatlah apa yang terjadi pada Imam Khomeini. Mengapa ada orang yang tidak mengenal Imam Khomeini namun sangat membencinya. Padahal Imam Khomeini tidak pernah merugikan dia. Imam tidak pernah mengancam kepentingan dia, tapi ada orang yang membencinya secara luar biasa. 

Facebook saya juga dikotori oleh orang-orang seperti itu, padahala saya sudah berusaha untuk me-remove orang-orang ini, namun mereka muncul kembali dengan nama-nama yang baru. Terpaksa saya harus menerima terus makian-makian terhadap Imam Khomeini. Mereka menggambarkan Imam Khomeini sebagai makhluk paling jahat di dunia. Mengapa mereka melakukan hal tersebut?

Tidak jelas. Itu karena kedengkian dalam hati mereka. Dan ini berlaku terhadap semua pengikut Ahlul Bayt.

Bila saudara mencintai Ahlul Bayt, saudara akan tiba-tiba dibenci oleh orang-orang di sekitar saudara. Mereka membenci saudara tanpa alasan yang jelas. Dan jawabannya ialah karena kebencian kolektif itu.

Karena itu, saya tidak lagi risau terhadap ungkapan-ungkapan kebencian. Itu harus kita terima sebagai kenyataan yang ada di tengah-tengah kita. Akan terus ada ungkapan-ungkapan kedengkian, bahkan mungkin ungkapan-ungkapan kekerasan yang diarahkan terhadap kita. Dimulai dengan kekerasan secara verbal, sampai kekerasan fisikal. Mereka sama sekali tidak menggunakan argumentasi.

Seseorang yang menumpahkan kebencian terhadap Ahlul Bayt, akan kehilangan cahaya wajah mereka. Sedangkan bagi yang mengungkapkan kecintaan mereka terhadap Ahlul Bayt akan memperoleh cahaya di wajah mereka.

Sepanjang sejarah para pengikut Ahlul Bayt selalu dihadapkan kepada kebencian dan kekerasan dalam hidup mereka karena kedengkian orang-orang dalam hatinya.

Namun meskipun begitu, kita harus tetap bersikap baik seperti Imam Ali terhadap Ibnu Muljam. Jangan melawan kekerasan dengan kekerasan. Kalau bisa kita ma’afkan. Kita tebarkan ampunan.

Seperti kata Imam Ali kepada Imam Hasan tentang Ibnu Muljam: “Jika aku mati, kalian dapat melakukan qishash terhadap dia. Tapi jangan ganggu keluarganya. Jangan melakukan mutilasi, karena Rasulullah melarangnya. Berilah dia pakaian seperti yang kamu pakai.” Imam Hasan bertanya: “Ya, Abah………sampai dalam keadaanmu saat ini kau masih menganjurkan hal yang baik kepada pembunuhmu?”

Lalu Imam Ali meminta minuman susu. Konon minuman itu adalah minuman terakhirnya. Imam Ali meneguk sebagian minuman itu, dan menyerahkan sisanya seraya berkata: “Berikan minuman ini kepada Abdurrahman Ibnu Muljam.”

Maka si pembunuh itu beroleh berkah dari cawan suci Amirul Mukminin. Inilah pelajaran betapa di saat terakhir sekali pun, Imam Ali tidak pernah mengurangi kasih sayangnya kepada sesama manusia bahkan kepada orang yang berbuat keji terhadapnya.

(Disampaikan pada peringatan Majelis Duka Husaini, DPW IJABI Jawa Barat, 7 Muharram 1432 H. Sekadar informasi: 7 Muharram adalah saat ketika Imam Husein dan kafilah keluarga Nabi mulai kelaparan dan kehausan, ditahan dari sungai Furat (EFRAT) oleh ribuan pasukan. Terhatur terima kasih bagi saudara Alfan Arrasuli yang telah mentranskripnya dalam semalam. Labbayka ya Husain!)

 

Sumber: Buletin Al-Tanwir (Edisi No 304, Edisi: 16 Desember 2010 M. / 10 Muharram 1432 H.)

 

 

Wed, 22 Oct 2014 @15:30

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved