AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Jalaluddin As-Suyuthi, Abu Mikhnaf, dan Karbala (2) [KH.Jalaluddin Rakhmat]

image

Pada tanggal 10 Muharram ini, seluruh peristiwa Karbala itu akan berulang kembali di hadapana kita tidak dalam bentuk cerita atau tulisan. Tetapi dalam bentuk artefaks.

Di sana terdapat tempat tangan Abu al-Fadhl Abbas ditebas, tempat jatuh tangan kirinya, tempat kemah-kemah yang dibakar oleh Amir bin Jausyan dan balatentaranya.

Semuanya masih tersimpan dengan baik dan semua orang berusaha merekonstruksi peristiwa itu sekali lagi.

Saya sempat menyaksikan pada acara Karbala, di arak seekor kuda. Melambangkan kuda Imam Husein, Dzuljanah. Digambarkan seekor kuda putih yang berlumuran darah.

Dan orang banyak mengambil berkah dari kuda yang hanya simbol itu, untuk menyegarkan kembali ingatan dalam benak kita; tentang peristiwa sejarah yang harus kita kenang, terutama apabila ada sekelompok orang yang berusaha untuk menghilangkan peristiwa bersejarah tersebut.  

Jadi, terlihat bahwa memang kita memperingati Muharram ini sebagai bagian dari upaya untuk tidak menghilangkan peristiwa bersejarah itu.

Rupanya, ada upaya yang dilakukan secara terperinci untuk menghapuskan jejak sejarah tersebut. Jika peristiwa tersebut sudah tak dapat lagi dihapuskan—karena peristiwa Karbala itu memang terlalu jelas untuk dapat dihapuskan—silahkan baca seluruh tarikh Islam dalam bahasa apa pun. Anda akan menemukan peristiwa Karbala disebut. Atau silahkan baca sejarah bangsa Arab, sejarah itupun akan menyebutkan peristiwa Imam Husein.

Oleh karena itu kemudian ada cara yang kedua: menjadikan Yazid bukan sebagai pembunuh Imam Husein. Sebagaimana dikutip oleh Republika:

“Yang pertamakali mengatakan bahwa Yazid pembunuh Imam Husein itu adalah Abu Mikhnaf, dan dia adalah seorang pembohong besar! Menurut siapa? Menurut as-Suyuthi……………”, dia menyebutnya Imam as-Suyuthi.

Saya membuka kitab Tarikh Al-Khulafa , ditulis oleh al-hafidz Jalaluddin as-Suyuthi. Saya tidak menemukan rujukan yang dimaksud oleh Syahrudin Elfikri (lihat bagian satu). Kitab yang disebutkannya tidak saya temukan pada Maktabah Ahlil Bayt . Tetapi bila Elfikri menisbatkan rujukan itu pada Jalaluddin As-Suyuthi, sekarang mari kita cek peristiwa Karbala sebagaimana yang ditulis oleh Jalaluddin As-Suyuthi. Apa betul menurut as-Suyuthi bahwa Yazid bukan pembunuh Imam Husain. Saya bacakan langsung dari sumber aslinya:

“Maka Yazid kemudian menulis surat kepada gubernurnya di Irak, yaitu Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuh Imam Husain. Lalu dia kirimkan pasukan yang terdiri dari 4000 prajurit yang dipimpin oleh Umar bin Saad bin Abi Waqash (putera dari sahabat Nabi Saad bin Abi Waqash—red). Maka kemudian penduduk Kufah mengkhianati Imam Husain sebagaimana mereka telah lakukan terhadap ayahnya (yaitu Imam Ali). Dan setelah senjata-senjata dihunuskan, Imam Husain mengajak mereka kepada keadaan semula. Dan mereka semua menolak dan bersikeras ingin membunuhnya. Lalu terbunuhlah Imam dan kepalanya dibawa di dalam sebuah wadah, sampai di hadapan Ibnu Ziyad.”

Perhatikan ucapan Jalaluddin as-Suyuthi setelah itu, “Maka laknat Allah, bagi pembunuhnya, bagi Ibnu Ziyad beserta dia, dan laknat Allah juga bagi Yazid.” (semua kutipan As-Suyuthi diambil Tarikh al-Khulafa , halaman 193, terbitan Darul Kutub al-Islamiyyah, Beirut).

Apabila kita membaca Republika kita dapat pesan bahwa Jalaluddin As-Suyuthi tidak percaya bahwa Yazid memerintahkan pembunuhan Imam Husain. Karena menurut Elfikri, Abu Mikhnaf adalah satu-satunya orang yang meriwayatkan bahwa Yazid adalah pembunuh Imam Husain. Dan Abu Mikhnaf itu adalah pembohong besar.

Saya tidak menemukan ucapan-ucapan dalam kitab bahwa Abu Mikhnaf itu adalah pembohong besar kecuali dalam harian Republika . Yang saya temukan dari as-Suyuthi justeru adalah bahwa as-Suyuthi melukiskan peristiwa Karbala dengan sangat dramatis sebagai berikut:

“Terbunuhnya beliau itu ialah di Karbala, dan dalam kisah terbunuhnya itu, ada peristiwa yang panjang, yang hati ini tidak akan sanggup untuk menanggungnya, hati ini tidak akan sanggup untuk mengenangnya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Kemudian ia bercerita pada waktu terbunuhnya Imam Husain:

“Matahari itu memudar selama tujuh hari terus menerus, dan langit menguning, kemudian gemintang di malam hari seperti bertubrukan satu sama lain. Dan terbunuhnya itu pada hari Asyura, dan matahari pun mengalami gerhana, dan ufuk-ufuk langit memerah enam bulan terus menerus setelah peristiwa tersebut, dan ada satu bagian kemerah-merahan di langit yang tidak hilang sesudah itu, yang tidak pernah kelihatan sebelumnya. Pada hari itu, tidaklah dibalikkan bebatuan di Baitul Muqaddas kecuali orang-orang melihat di bawahnya darah kental mengalir.”

Dan diceritakan oleh beberapa ahli tarikh bahwa pada hari itu juga terjadi hujan merah.

Di internet saya pernah menemukan sebuah fotokopi scanning sebuah dokumen dari perpustakaan di London, yang kebetulan sama dengan tanggal 10 Muharram 60H.

Penulis dokumen ini melingkari sebuah berita di situ bahwa pada tanggal yang sama di London pun terjadi hujan berair merah, seperti hujan darah.

Di sisi lain, di internet ada juga ceramah Dr Zakir Naik. Dia memberikan ceramah dalam bahasa Inggris. Ketika dia mengucapkan nama Yazid, dia menyebut “May Allah be pleased with him.”

Ceramahnya itu mendapatkan reaksi bantahan dan penolakan keras dari para ulama, bahkan ulama-ulama Ahlu Sunnah. Dia pun menambahkan gelaran Sayyidina kepada Yazid dan ia mendapatkan banyak kecaman. Dia mengatakan bahwa Yazid bukanlah pembunuh Imam Husain, bahwa yang bersalah ialah Imam Husain sendiri karena ia ingin merebut kekuasaan yang sah. (lihatlah “Mufti besar Saudi mengatakan cucu Nabi sesat” .

Yang membuat penasaran redaksi ialah apakah Dr. Zakir Naik menganggap perbuatan ‘Aisyah sama juga salah karena ia telah memerangi khalifah yang haq yaitu Imam Ali as—pen).

Dia berpendapat bahwa kita tidak boleh melaknat Yazid. Bahkan menurutnya Imam al-Ghazali sekali pun tidak melaknat Yazid. Katanya, kita dilarang untuk melaknat Yazid karena ia adalah salah seorang amirul mukminin dan banyak lagi alasan lainnya.

Dalam telaah kita ditemukan bahwa Jalaluddin Suyuthi pun melaknat Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan (pembunuh Imam Husain bin Ali, cucu Rasulullah saw ). As-Suyuthi ialah ulama besar Ahlus Sunnah, dari madzhab Syafi’i.

Semua orang NU di Indonesia—dengan syarat ia Kyai—pasti mengenal nama Jalaluddin as-Suyuthi. Ayah saya dulu seorang Kyai, dan dia ngaji di pesantren, belajar tafsir, namanya tafsir Jalalain. Salah seorang penulisnya ialah Jalaluddin as-Suyuthi. As-Suyuthi adalah ulama besar Ahlus Sunnah dan dia melaknat Yazid. Dia melaknat pembunuh Imam Husain, melaknat Ubaydillah bin Ziyad, dan melaknat Yazid sekaligus.

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI

 

Mon, 25 Sep 2017 @18:28

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved