AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Dari Literatur Syiah Ke Marjaiyyah (2)

image

Sengaja saya berangkat dari hierarkhi intelektual itu untuk menggambarkan secara global khazanah literatur Ahlul Bait dewasa ini. Proses yang tidak mudah untuk menjadi seorang mujtahid atau ulama, secara tidak langsung menghambat perkembangan dunia pemikiran Syi’ah.

Maksud saya, awam, masyarakat kebanyakan akan langsung merujuk pada para ulama dalam bidang apapun, apalagi dalam bidang fikih yang menjadi spesialisasi mereka. Penambahan gelar “ayatullah”, “shahib al-fadhilah” “dâma zilluh” dan lain sebagainya di belakang nama sang pengarang adalah jaminan akan substansi buku yang berbobot. Taruhlah, misalnya, dua buku tentang filsafat. Yang satu ditulis oleh Ayatullah Muhammad Ashari dan yang lain ditulis oleh hanya “Abu Ali Akbar” saja. Walau kedua penulis itu ternyata sama, masyarakat Syi’ah akan memilih yang pertama. Ini, sekali lagi diakibatkan oleh hierarki yang berkembang turun temurun tadi. 

Di satu sisi, situasi seperti ini akan menghasilkan buku-buku yang berkualitas. Warisan intelektual Syi’ah adalah legasi yang bisa dinikmati sepanjang masa. Tengoklah buku-buku Mulla Shadra, yang walaupun tak bergelar “ayatullah” seperti zaman sekarang ini (karena dulu mungkin belum populer) tetapi tetap melewati jalur-jalur standar seorang mujtahid. Ibnu Sina, seorang Syi’ah Ismailiyyah, juga menghasilkan karya-karya yang abadi sepanjang masa. Belum lagi warisan di bidang ‘irfan yang tak terhitung banyaknya. Mulla Faydh Kasyani dan Nashiruddin Thusi adalah sedikit contoh di antaranya. 

Di sisi lain, hierarki itu sedikit banyak menghambat para pemikir muda. Mereka, biar bagaimana pun adalah murid para ayatullah senior itu. Sangat susah, dalam hierarkhi Syi’ah yang top down  untuk “menentang” fatwa sang guru. Bukan hanya susah,

kebanyakan murid adalah pelanjut dari guru mereka masing-masing. Karena itu, untuk menjembatani, atau menuju ke proses itu—sebagai salah satu cara legitimasi—para pemikir muda biasanya menyusun kitab (musannif ) alih-alih menciptakannya (mu`allif ). Maka bermunculanlah buku-buku hasil susunan para penulis muda. Buku demikian tak terhingga jumlahnya. Apalagi dengan sistem hawzah yang sekarang berkembang—khususnya untuk para santri asing—buku-buku standar itu diringkas dan dijadikan satu.

Masih ada jalan lain untuk memperoleh legitimasi masyarakat awam, ialah dengan menulis pada ratusan jurnal yang tersedia di tengah-tengah masyarakat. Jurnal-jurnal itu antara lain risalah al-tsaqalaynal-hayat at-tayyibah, sophia perennis, âfâq wa turats,  dan lain sebagainya. Para penulis muda itu antara lain Rasul Ja’fariyan, Thalib Sanjari, As’ad Abu Sa’id, ‘Irfan Mahmud dan sebagainya. Kebanyakan mereka masih menggunakan pola musannif  dan bukan muallif .

Dominasi hawzah (pesantren) sangat kuat dalam tradisi intelektual Syi’ah. Karena itu, sangat sulit bagi seorang Syari’ati atau Abdul Karim Shouroush untuk dapat menembus lingkaran elit itu. Syari’ati yang akrab dengan mahasiswa pada era sebelum revolusi mendapat ruang berbicara yang luas. Karena partisipasi para muridnya jugalah informasi yang disampaikan Syari’ati menembus ruang dan waktu. Walaupun kurang populer di masyarakat hawzah, Syari’ati mashur di kalangan universitas. Agaknya, untuk bidang keagamaan, para akademisi pun (khususnya dari kalangan universitas) masih mendapat kesulitan untuk menembus hiearkhi hawzah yang ada. Dr. Arif Zadeh, penulis buku Kamus ‘Irfan  adalah contohya. Beliau yang berasal dari Universitas Teheran tetap harus “menimba” ilmu dulu di hawzah, sebelum akhirnya menerbitkan buku.

Lebih jauh, keterbatasan perkembangan ilmu itu tidak saja didominasi oleh dua kota Qum dan Najaf, tetapi juga oleh warisan keluarga. Beberapa keluarga ternama dalam Syi’ah adalah penyumbang besar khazanah literatur Syi’ah dewasa ini. Tengoklah misalnya, keluarga Shadr (Muhammad Baqir Shadr, Bintul Huda Shadr), keluarga Amili (Murtadha al-Askari al-Amili, Haydar Amili), keluarga Hakim (Muhsin al-Hakim, Murtadha al-Hakim) dan sebagainya.

Belakangan ini, literatur Syi’ah diwarnai oleh corakan yang beragam. Ja’far Subhani mencuat sebagai teolog dan ahli ilmu kalam, sedang rekannya Ibrahim Amini lebih pada masalah-masalah kekeluargaan. Mazâhiri sebagai ahli ilmu akhlak, dan Jawad serta Hasan Zadeh Amuli yang terkenal dalam ‘Irfan. Di bidang filsafat, Sayyid Kamal Haydari dan Taqi Mishbah Yazdi menempati urutan atas. Tentu, kita harus segera menambahkan gelaran “ayatullah” di depan nama-nama itu.

Bagaimana halnya dengan bidang fikih? Fikih tentu adalah dominasi para ayatullah yang mencapai tataran itu setelah melewati serangkaian proses yang panjang. Di antara yang patut disebut adalah Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah yang banyak mengeluarkan terobosan baru dalam bidang fikih. Dalam bidang ushul, terobosan terakhir yang pernah meramaikan dunia pesantren Syi’ah diprakarsai oleh Syahid Sayyid Muhammad Baqir Shadr dengan bukunya, Ma’alim al-jadida fi al-ushul .

Tetapi, sumbangan terbesar bagi khazanah literatur Syi’ah adalah keberhasilan revolusi Islam di Iran. Dengan revolusi itu, tampil para penulis baru, angkatan kedua setelah Imam Khumaini. Sayang, kebanyakan mereka telah dipanggil Tuhan. Lihatlah Syahid Behesyti yang menguasai bahasa Perancis, Jerman, Inggris dan Belanda. Kenanglah Syahid Mustafa Khumaini yang menulis tafsir sufi al-Qur’an. Atau Syahid Musawi di Beirut yang meninggalkan naskah-naskah yang tak selesai. Syari’ati dan Muthahhari adalah contoh yang lebih kentara lagi. Tangan kasih Tuhan jelas lebih pantas untuk menerima keberadaan mereka daripada dunia yang fana ini.

Namun, ketiadaan mereka telah membuka kembali masalah lama dalam pengembangan khazanah literatur dan keilmuan Ahlul Bait dewasa ini: “dominasi” ulama, hirarki kesarjanaan, dan—salah satunya juga adalah—marja’iyyah. Apakah marja’iyyah mempersempit peluang untuk berbeda pendapat? Apakah karena seseorang patuh sebagai muqallid yang baik maka ia tak bisa mengambil alternatif dari marja’ yang lain? 

Berikut ini beberapa kritik terhadap marja’iyyah yang umum dibicarakan. Marilah kita jadikan pembahasan ini diskusi yang menarik. Sebagaimana kita membuka pintu lebar-lebar bagi seorang muslim untuk mempertanyakan keislaman mereka, agar pada akhirnya ia dapat memahami Islam dan menjalaninya dengan lebih baik.

Marilah juga kita buka lebar-lebar kritik kita terhadap paham-paham Syi’ah, dengan harapan kita dapat memahaminya jauh lebih baik dari apa yang mungkin sudah kita pelajari hingga saat ini.

Beberapa Kritik atas Marjaiyyah 

1. Ada sekitar 100 tahun setelah ghaybah  Imam Mahdi ketika masyarakat awam Syi’ah hanya merujuk kepada ulama saja, tanpa ada keharusan kepada satu marja’ tertentu, apalagi yang dibumbuhi syarat a’lamiyyah  (yang paling berilmu. Siapakah yang menilainya?).

2. Tampaknya kemunculan institusionalisasi marja’iyyah didasarkan atas proses sosial politik yang menyertainya. Ayatullah Shirazi sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme; Ayatullah Muhsin Hakim untuk melembagakan pendistribusian khumus; dan Ayatullah al-Imam Ruhullah Khumaini sebagai salah satu bentuk “kontrol” terhadap keutuhan negara Islam yang beliau dirikan. Bayangkan bila terjadi banyak marja’ dan ternyata mereka tidak semuanya sepakat tentang bentuk yang pasti akan pemerintahan Islam dan undang-undang yang menyertainya.

3. Marja’iyyah menutup ruang untuk kritik. Dari hierarkhi yang sangat panjang, orang akan enggan untuk mengeritik ulama yang lebih senior, karena faktor keilmuan.

4. Marja’iyyah tidak fleksibel. Keputusan seorang marja’ boleh jadi hanya didasarkan pada kondisi demografis tertentu.

5. Banyaknya metode istinbath  (pengambilan keputusan) akan berakibat pada beragamnya hasil keputusan mujtahid. 

6. Proses istinbath  berdasar pada nash. Nash yang menjadi dasar hukum adalah nash yang dilahirkan dengan situasi sosial waktu itu. Terdapat jarak yang sangat jauh antara penetapan nash dengan situasi sekarang ini. 

7. Menurut Syahid Baqir Shadr, seorang mujtahid bisa jatuh ke dalam lima kekeliruan (Ijtihad Dalam Sorotan, 1985) :

  • Justifikasi, Shadr menyebutnya dengan tabrir al-waqi’  (pembenaran realitas). Misalnya, ketika di masyarakat Islam berkembang bunga bank, seorang mujtahid harus “menundukkan” nash yang tidak mengenal bunga bank ke dalam penafsiran yang sesuai. Jadi, bukannya mengubah realitas untuk tunduk pada nash. Bunga bank, misalnya, dihalalkan karena riba yang dilarang dalam Al-Qur’an adalah adh’âf mudhafa’ât (berlipat ganda). Batasan “berlipat ganda” pun kemudian harus dirumuskan. Padahal dalam ayat lain disebutkan, “…jika kamu bertobat, maka bagimu pokok harta kamu, kamu tidak menganiaya dan tidak dianiaya …” (Q.S.  Al-Baqarah: 279).
  • Interpolasi, Shadr menyebutnya dengan damj al-nash dhimna ithar al-khash (memasukkan nash ke dalam kerangka tertentu). Misalnya, seorang mujtahid yang berusaha menafsirkan kata-kata dalam nash dengan pengertian mutakhir yang ia pahami dari istilah modern sesuai ilmu pengetahuan yang berkembang.
  • Manipulasi, Shadr menyebutnya dengan tajrid al-dalil al-syar’i min zhurufih wa syuruthih  (melepaskan dalil syar’i dari situasi dan kondisinya). Salah satu contoh kekeliruan ini ialah memahami taqrir . Taqrir adalah sunnah nabawiah yang dinyatakan dengan diam. Diamnya Nabi diartikan sebagai kebolehan. Taqrir bisa pada amalan tertentu ataupun yang umum. Tetapi, hadis yang menjadi taqrir tidak bisa menjadi sunnah kecuali dengan tiga syarat: harus terjadi di zaman Nabi; harus diyakini tidak ada larangan syari’at tentangnya; dan harus diketahui berbagai kondisi dan situasi ketika terjadi taqrir .
  • Subyektifikasi, Shadr menyebutnya dengan ittikhadz mauqif mu’ayyan bi shurah musabaqah tujah al-nash  (mengambil sikap tertentu [prematur?] terhadap nash). Dua orang mujtahid akan mencoba memahami nash yang sama, tetapi dengan kecederungan yang berbeda. Yang satu, misalnya, menyorotinya dari aspek sosial dan yang lain dari sisi hukum Islam dan ketatanegaraan. Kedua sikap itu akan menghasilkan keputusan yang berbeda.
  • Inakurasi, yang ini tambahan dari Ustad Jalaluddin Rakhmat. Menurutnya, seorang mujtahid  bisa merujuk pada nash yang tidak valid atau tidak relevan. Misalnya, nash dirujuk, dijadikan premis utama untuk premis-premis berikutnya. Tidak diteliti dulu apakah nash itu relevan untuk premis berikutnya.

8. Pada zaman Rasul kata “Ijtihad” tidak berarti sebuah proses pengambilan hukum. Hadis yang menunjukkan pujian Rasul atas ijtihad Mu’adz bin Jabal dicela oleh Ibn Hazm sebagai tidak shahih. Begitu pula sepeninggal nabi tercatat 32 kesalahan ijtihad yang dilakukan Abu Bakar; 109 Umar dan 29 ‘Utsman.

9. Sepeninggal Imam Mahdi as, komunitas Syi’ah terbagi ke dalam dua kelompok besar: akhbari dan ushuli. Faham ushuli kini mendominasi pemikiran dunia Syi’ah, terhitung sejak awal abad 19.

10. Zaman modern membutuhkan pengetahuan marja’ atas hal-hal yang berkembang dengan pesat.

Masih Pentingkah Ijtihad? 
Tentu. Yang baru dibahas hanyalah kemusykilan sebuah proses ijtihad dan panjangnya hierarki untuk menjadi mujtahid. Karena berbagai kemusykilan itulah mungkin, sebagian ulama menutup pintu ijtihad. Apalagi setelah ada kecenderungan dalam sejarah bahwa ulama tertentu bisa dipesan untuk mengeluarkan fatwa. Tetapi, biar bagaimana pun kebutuhan umat untuk memperoleh jawaban dari Islam terus berkembang. Umat sekarang dihadapkan pada banyak tantangan: pengaruh Barat, tradisi kuno, permasalahan-permasalahan kontemporer seperti perkembangan ilmu teknologi, kesehatan, sains, dan sebagainya. Menghadapi kekhawatiran itu, sebagian ulama kontemporer berkumpul dan merumuskan pentingnya ijtihad. Di antara alasan pentingnya ijtihad: jauhnya dengan zaman tasyri’, syari’at disampaikan secara komprehensif, nash hanya memberikan kaidah umum, dan Islam sebagai risalah universal.

Solusi 
Belakangan di dunia Syi’ah timbul pemikiran untuk membuat suatu institusi marja’iyyah internasional. Karena pola marja’iyyah sekarang sangat bergantung pada kondisi demografis dan banyak hal lainnya, maka diusulkan untuk dibentuk mu’assasah marja’iyyah , sebuah dewan yang terdiri dari kumpulan ulama besar (marja’) seluruh dunia, mewakili seluruh pengikut mazhab Syi’ah. Dewan ini kelak dipimpin oleh seorang juru bicara (semisal Paus di Vatikan). Dalam dewan ini dibagi tugas secara khusus kepada setiap marja’. Misalnya, ada yang menangani masalah ekonomi, ada yang khusus politik, dan ada yang khusus perkembangan teknologi, kedokteran dan berbagai bidang lain yang berkenaan dengan kehidupan umat sehari-hari.

Tetapi, ketika ide ini pertama kali dicetuskan Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, beliau ditentang dengan keras, bahkan sempat dikafirkan. Karenanya, wacana marja’iyyah dan dekonstruksinya, mungkin masih hanya sebatas perubahan paradigma pemikiran saja. Terima kasih.[]

Miftah F. Rakhmat adalah Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI)

Sun, 14 Feb 2016 @10:50


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved