Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Cerita Polisi tentang kelompok Anti-Asyura

image

Seorang kawan menyampaikan cerita. Saya dengarnya langsung ucap istighfar. Saya tak menyangka bahwa bersorban dan berbaju putih sambil teriak Allahu Akbar dan mengaku umat Islam itu ternyata hanya tampilan saja. Mereka ini hanya mengatasnamakan umat Islam.

Anehnya yang didemo itu umat Islam yang sedang mengenang wafat Imam Husain, cucu Nabi, yang dibantai di Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah, penguasa Dinasti Umayyah, pada 10 Muharam 61 Hijriah. Peristiwa ini kemudian disebut Asyura.

Asyura di Indonesia telah menjadi budaya Nusantara. Setiap 10 Muharram, umat Islam Indonesia di kampung - kampung sering buat bubur asyura. Ada perayaan Tabot di Bengkulu, Hoyak Tabuik Husen di Padang Pariaman, dan Kanji Asyura dan tarian Saman di Aceh. Di Tatar Sunda ada keyakinan urang Sunda bahwa pada 10 Muharram dilarang untuk melakukan hajatan atau perayaan bahagia. Kalau melakukan akan kena bencana. Di Yogyakarta setiap malam 10 Muharram, masyarakat  mengadakan malam renungan dengan menyepi dan memadamkan lampu.

Saya kira itu semua bentuk keprihatinan atas tragedi kemanusiaan yang dibingkai dengan aneka bentuk oleh leluhurnya. Bukankah banyak para penyebar Islam dari Tanah Persia, India, dan Arab Saudi yang ikut menyebarkan Islam. Tentu dalam hal ini ada proses untuk membaurkan dakam budaya lokal sehingga menjadi budaya tersendiri. Yang disebutkan di atas adalah wujud aktual dari Islam yang bercampur budaya.

Kini di Indonesia dengan adanya organisasi Islam yang mencintai Ahlulbait Rasulullah saw mengenang syahid Imam Husain, cucu Rasulullah saw, menjadi lebih tampak nuansa Timur Tengahnya. Ada pembacaan kisah pembantaian cucu Rasulullah saw di Karbala, ada shalawat, nasyid, dan doa-doa. Seperti yang dilakukan IJABI dan ABI di berbagai tempat. Meski bersifat tradisi, tetapi nuansa keagamaannya sangat kental: ada pembacaan quran, shalawat, ceramah, dan doa.

Anehnya acara Asyura tersebut di demo dan dianggap sesat. Di Bandung ada spanduk yang mengatasnamakan umat Islam menolaknya. Saya hanya senyum melihatnya. Saya tahu pasti bahwa itu hanya klaim. Yang jelas umat Islam itu tak akan menolak Asyura. Apalagi ini dalam rangka mengenang cucu Rasulullah saw.

Nah, kawan saya hadir dalam acara Asyura dengar cerita dari seorang polisi yang menghadang pendemo. Seorang polisi saat berhadapan dengan pendemo anti Asyura di Jakarta.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, mari kita serbu dan bubarkan acara orang Syi’ah”… Terus kata Pak Polisi, “kalian tidak tau malu, teriak teriak Allahu Akbar, tapi mulut kalian bau alkohol, selangkah lagi maju ke depan, kalian ditembak di tempat!!!…”

Juga ada cerita, petugas keamanan, seorang POM AL yang beragama Nasrani berkata,” Saya seorang kristen pun yakin, kebenaran berada di dalam gedung ini, bukan berada di luar sana yang sedang berdemo”.

Sudah bisa dipastikan setiap tahun orang yang anti asyura akan terus gerak untuk halangi umat Islam mengenang tragedi yang menimpa cucu Rasulullah saw. Ketahuilah acara asyura tidak merugikan masyarakat dan akan menambah kesadaran untuk cinta kepada keluarga Nabi Muhammad saw. 

Sumber: Kompasiana (asyura tahun lalu)

 

 

Sat, 8 Oct 2016 @07:27

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved