Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Hafidz Usman: Syiah Tidak Bisa Disamakan Dengan Kelompok Agama Lain

image

 

Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) III Siliwangi Mayor Jenderal Sonny Widjaya mengatakan kekerasan akibat perbedaan keyakinan atau agama seseorang tidak bisa dibenarkan. Dia berharap seluruh pihak menahan diri dengan tidak melakukan hal-hal yang memancing kemarahan umat lainnya.   

“Dari pihak Kodam, kita sifatnya hanya mencatat, memonitor, mendata, sama menahan mereka agar tidak berbuat anarkis,” kata Sonny di Bandung.   

Salah satu cara meredam atau mencegah terjadinya tindak kekerasan seperti yang menimpa umat Syiah di Sampang, Madura adalah dengan melakukan komunikasi dengan para pemuka agama. “Kita sudah pegang tokoh-tokohnya,” kata dia.   

Masalahnya, sambung Sonny, bukan tidak mungkin tindak kekerasan itu terjadi akibat kurangnya kontrol dari para pemuka agama. “Kita dekati tokohnya, tapi di bawahnya ada yang tidak terkendali. Itu kan wajar, namanya orang banyak,” ungkap Sonny.   

Anggota TNI, sambung dia, bertugas untuk melindungi seluruh warga negara. Apabila ada potensi terjadi kekerasan atau upaya main hakim sendiri terhadap kelompok atau orang memiliki keyakinan berbeda, sambung Sonny, pihaknya berkewajiban melindungi.   “Kita sifatnya hanya membantu meredam agar tidak anarkis. Tidak berkelahi, karena itu semua keluarga besar masyarakat Indonesia,” ujar dia.   

Menurut dia, berbagai tindak kekerasan dengan latar belakang agama itu kerap terjadi karena sampai saat ini belum payung hukum yang jelas. “Mau diapakan mereka? Kewajiban kita dengan polisi untuk menahan (agar tidak terjadi tindakan kekerasan),” imbuhnya.   

Sebelumnya, sekitar 200 orang menyerbu permukiman milik komunitas Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Minggu pagi, 26 Agustus 2012. Mereka melempari rumah warga Syiah dengan batu dan membakar 10 rumah. Setidaknya dua penganut Syiah tewas akibat sabetan celurit.   

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat Hafidz Usman mengakui keberadaan komunitas Syiah di Jawa Barat. “Kalau kita terbuka saja di Jawa Barat ada bibit-bibit itu tapi kita bergaul dengan cara bijak,” ujar dia.   

Menurutnya, para pemuka agama dan masyarakat harus memandang perbedaan pemikiran terkait agama itu sebagai hal yang wajar. Namun, perbedaan itu jangan sampai menjadi alasan pembenar untuk menyatakan dirinya sebagai pihak yang paling benar.   

Hafidz juga menyatakan kelompok Syiah tidak bisa disamakan dengan kelompok agama lain yang sudah dinyatakan sesat lewat fatwa MUI seperti ajaran Islam Suci di Kabupaten Sukabumi dan kelompok Ahmadiyah. “Syiah tidak (sesat),” tegas Hafidz sembari menambahkan fatwa-fatwa tersebut dikeluarkan bukan karena MUI membenci orang-orangnya tapi ingin meluruskan pemahaman agamanya.   

Secara terpisah, Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Brigadir Jenderal Hengkie Kaluara mengatakan antisipasi kasus kekerasan berlatar belakang agama bukan hanya menjadi tugas polisi. “Kalau sudah menyangkut aliran sesat ada MUI. Kami terus berkomunikasi untuk melakukan pencegahan (tindakan anarkis),” ujar dia.   

Mengenai potensi kekerasan terhadap komunitas Syiah di Jawa Barat, Hengkie mengatakan kelompok aliran agama yang berekses hingga terjadi kekerasan itu bukan dari kelompok Syiah. 

“Yang berdampak di Jawa Barat itu aliran sesat di Kabupaten Sukabumi. Kami mau mengamankan tapi ada kasus pembunuhan,” ujar Hengkie merunut pada kasus pembunuhan terhadap seorang ustad oleh penganut aliran Tarekat At-Tijaniyah Mutlak di Cisalopa, Kabupaten Sukabumi tanggal 19 Agustus 2012.

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/home/tentara-dekati-ulama-cegah-kasus-sampang-terjadi-di-jabar/23935

 

Mon, 25 Nov 2013 @14:43

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved