CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Seminar UNISBA: Menghakimi Muslim Syiah

image

 

Seminar Kupas Tuntas Siapa Syiah yang diselenggarakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) bekerja sama dengan Universitas Islam Bandung (UNISBA) dan disokong ormas Persatuan Islam (Persis) ini tidak sesuai dengan standar lembaga pendidikan yang mengedepankan apsek ilmiah.

Pembicara yang hadir adalah Prof Maman Andurahman (Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Islam atau PP Persis), Dr.H.M.Wildan Yahya (ahli sejarah dari Jakarta), dan Acep Saeful Millah (aktivis KAMMI).

Dari tiga pembicara yang hadir tidak satu pun yang mewakili Muslim Syiah. Alih-alih bernuansa ilmiah malah lebih pantas disebut penghakiman terhadap mazhab Syiah.

Moderator pun tidak memberikan kesempatan untuk bicara pada peserta yang tidak setuju dengan uraian pembicara. Malah meminta peserta untuk menuliskannya dalam kertas kemudian nanti dijawab. Kontan saja peserta yang berasal dari luar kampus UNISBA kecewa.

Seorang lelaki yang mengaku dari komunitas Kerukunan Umat Beragama maju ke depan dan menyanggah pernyataan Prof Maman yang dinilai telah menyebarkan kebencian terhadap Muslim Syiah. Peserta lain yang berbadan besar berbicara dari belakang bahwa “hebat… datanya sangat valid”.

Pernyataan tersebut keluar ketika Prof Maman menampilkan gambar ulama yang berjabat tangan dengan tokoh Yahudi. Kemudian memperlihatkan foto-foto lama dari internet berkaitan prosesi peringatan asyura dianggap oleh Maman menyiksa diri.

Maman juga menyatakan bahwa Khomeini menghadirkan kembali agama Kerajaan Safawiyah di Persia. Hal lainnya yang disampaikan Maman tidak ada yang baru: mulai dari Quran yang berbeda, mencaci sahabat, Abdullah bin Saba sebagai pencipta Syiah, kawin mutah, dan menyatakan Ahlulbait tidak berkaitan dengan Syiah.

“Ada Syiah yang tidak kafir,” kata Maman, “yaitu Syiah Zaidiyah karena mereka menghormati sahabat dan menerima kepemimpinan khulafa rasyidin.”

Selanjutnya giliran Acep Saeful Millah yang membuat tulisan dua lembar dengan judul Dilema Syiah di Indonesia. Acep menyatakan Syiah menjadi doktrin yang bertentangan dengan Ahlussunah setelah perang antara Ali melawan Muawiyah, tidak mau meriwayatkan hadis selain dari Ahlulbait, dan sejumlah isu lama yang dikutipnya dari buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah , yang baru-baru ini diterbitkan atas nama MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Yang menarik dalam tulisannya itu (mungkin berasal dari mengutip dari buku tersebut) bahwa peristiwa Ghadir Khum tidak diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal, Al-Bani tokoh hadis modern dari Ahlussunah menyebutkan bahwa hadis Ghadir Khum terdapat dalam Sahih Muslim dengan sanad dari Zaid bin Arqam. Al-Amini menyebutkan hadis Ghadir Khum berasal dari 110 perawi yang dimuat dalam berbagai kitab sejarah dan hadis ini termasuk mutawatir (terjamin kebenarannya karena disampaikan oleh orang banyak).

Acep juga menyampaikan cerita seorang muslimah dari KAMMI yang kalah debat dengan lelaki Syiah kemudian menjadi Syiah.

“Paham sesat bukan hanya Syiah,” kata Acep menjawab penanya yang menanyakan posisi kafir dari Syiah.  

Dalam tulisan bagian akhir, Acep menulis, “KAMMI yang mana saya menjadi bagian di dalamnya, insya Allah terbebas dari infiltrasi kaum Syiah. ”

Begitu juga pembicara ketiga yang disebut ahli sejarah dari Jakarta.  Wildan Yahya mengulang kembali yang telah disebutkan dua pembicara sebelumnya. Misalnya bahwa Ali bin Abi Thalib membaiat tiga khalifah sebelumnya, Syiah belum muncul masa Khulafa Rasyidin, Ghadir Khum dibuat-buat oleh Syiah, Rasulullah saw tidak menunjuk Ali sebagai khalifah, dan Ali menerima saat Umar ditunjuk menggantikan Abu Bakar menjadi khalifah.

Wildan yang disebut oleh moderator dan Prof Maman sebagai ahli sejarah Islam dalam menguraikan wafatnya Ali bin Abi Thalib tidak mengetahui orang yang membunuhnya.

“Abu Luluah yang membunuh Ali. Eeh itu yang membunuh Umar,” kata Wildan sembari melirik kepada Prof Maman sambil melanjutkan, “Sampai sekarang ini tidak jelas siapa yang membunuh Ali.”

Mendengar itu ada beberapa peserta yang tertawa cukup keras. Sudah menjadi pengetahuan umum perkuliahan sejarah Islam bahwa yang membunuh Ali bin Abi Thalib adalah Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij, yang menikam kepala Ali ketika shalat subuh di Masjid Kufah, Irak.

Ketika ada peserta yang menanyakan status kekafiran Syiah, Wildan menjawab, “Syiah itu dapat membuat keropos keimanan.”

Pertanyaan yang sama tidak dijawab secara tegas oleh Prof Maman. Malah ia membenarkan adanya fatwa Al-Azhar dari Syalthut tentang Syiah sebagai mazhab kelima.

  “Masih Islam, tapi banyak penyimpangannya,” kata Maman sambil mengomentari slide yang ditampilkan berupa foto ulama yang berjabat tangan dengan tokoh Yahudi dan aksi menyiksa diri yang disebut perilaku Syiah.

Kontan pernyataan itu dapat reaksi dari peserta barisan belakang. Mereka meminta bicara, tapi tidak diberikan kesempatan oleh moderator.  “Silakan tulis pertanyaanya pakai kertas nanti dijawab,” katanya.

Panitia di tengah pembicaraan mengganggu seminar sambil teriak memberitahu bahwa ada selebaran artikel yang menjelaskan Syiah adalah Islam berdasarkan fatwa 200 ulama dari 38 negara yang terkabung dalam Konferensi Islam Internasional di Amman, Jordania.

Dalam selebaran itu disebutkan tokoh Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin, tokoh NU KH Abdurrahman Wahid (Gusdur), Ketua MUI Pusat Prof KH Umar Syihab, dan pernyataan ulama terdahulu seperti Al-Ghazali dan Abu Bakar Al-Baqilani yang dibenarkan Rektor Universitas Al-Azhar di Mesir Syaikh Mahmud Syalthut dan ulama Ahlussunah yang bernama Syaikh Abdul Halim Mahmud bahwa Syiah merupakan mazhab Islam.

 [redaksi misykat]

 

Sun, 8 Dec 2013 @09:33

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved