AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Bencana Paling Besar adalah Putus Harapan (1)

image

Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah itu kalau berbicara pendek-pendek. Imam Ali bersabda. Saya pernah menyampaikan “Imam Ali bersabda” di facebook. Ada yang protes, “Hah Imam Ali bersabda? Siapa sih Imam Ali itu kok bersabda.” Mungkin kalau dia mendengar Hamengkubuwono bersabda akan tercengang juga, “Hah Hamengkubuwono bersabda?” Menurut dia, yang bersabda itu hanya Tuhan saja. Ya Allah, tuhan itu kan menciptakan, ada yang pintar, ada yang bodoh. Tapi kok bisa ya, ada orang yang sebodoh ini.

Tabarokollah ahsanul shodiqin. Maha mulia Allah, pencipta yang paling baik, sampai dia berhasil menciptakan makhluk yang begitu bodoh yang tersinggung karena mendengar Imam Ali bersabda. Imam Ali bersabda: “a’zhamul bala’i, inqitha’ur raja’i bencana paling besar’.” Kata a’zhamul bala’i terdiri dari alif, ‘ain, dho, mim, alif lam, ba, lam alif, hamzah .

a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’i

a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’i

a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’i

Berikut adalah susunan kata-kata dari Imam Ali: harapan (al-raja’), putus (inqitha’), bencana (balaa), paling besar (‘azham). Jadi, bencana yang paling besar adalah kalau orang sudah putus harapan.

Kalau kita sudah kehilanggan harapan, datanglah bencana yang paling besar, sampai-sampai kehidupan pun tidak bisa kita nikmati. Orang itu sudah kalah, sudah putus asa. Orang yang sudah putus asa, air yang dingin pun, tidak berasa nikmat. Semuanya tidak enak.

Dalam peribahasa sunda disebutkan cai asa tuak bari, kejo asa catang bobo. Cai asa tuak bari artinya air pun terasa seperti tuak yang sudah basi. Inginya muntah terus. Kejo asa catang bobo artinya nasi terasa seperti kaya yang sudah lapuk. Bayangkan makan kayu yang sudah lapuk. Makan nasi terasa kayu yang sudah lapuk. Itula cirri-ciri orang yang sudah putus asa atau putus harapan. Dia juga sudah tidak bisa menikmati humor-humor. Apalagi humor-humor di televise, saya saja yang tidak putus asa, susah ketawa dengan humor-humor di televise itu. Sehingga saya harus mengecek juga, apakah saya sudah kehilanggan harapan. Saya malah sering tertawa bila membaca sms yang lucu-lucu. Malah, lebih banyak tertawa ketika menyaksikan ulah pemimpin politik di negeri ini. Saya tertawa, ketika membaca berita tentak pak susno duaji. Ini malah berita yang menyenangkan dan menarik. Kita melihat banyak sekali humor yang diperankan para pemimpin kita.

Jadi, orang yang sudah putus asa, tidak menikmati lagi air dan nasi. Bahkan kalau ada orang yang melawak di hadapanya pun, dia tidak bisa tetawa. Malah berkata, apanya yang lucu?” saya lebih senang istilah cucu saya, funny aki, funny aki. Lalu saya katakana, you are funny, kamu yang lucu. Artinya saya masih mempunyai harapan. Kalau anak-anak pun sudah tidak lucu lagi, kalau melihat anak-anak itu kita ingin menggetok saja, itu berarti sudah menjadi orang putus harapan (inqitha’ur raja’).

Bencana yang paling besar ialah apabila sudah putus harapan

Dimulai di Inggris, ada seorang pendeta, melakukan kebaktian (mengaji) setiap ahad di gereja. Ia menyarankan bagaimana kalau kita membuka jalur telepon terbuka “bencana yang paling besar apabila orang sudah putus harapan ” dan berkonsentrasi untuk membuka konsultasi kepada orang-orang yang cenderung bunuh diri. Biasanya orang cenderung bunuh diri karena frustasi, stress yang berkepanjangan, depresi, atau menghadapi masalah, yang menurut dia tidak ada jalan keluarnya, sehingga merasa terputus masa depanya. Karena itu, kita harus membuka jalur-jalur komunikasi dengan orang-orang yang suicide-prone cenderung bunuh diri.

Jadi singkat cerita, pendeta itu setelah kebaktian setiap ahad membuka forum dialog. Dia mengmumkan, barang siapa yang siap-siap bunuh diri silakan bercerrita kepada ki Romonya, kepada pendetanya. Ternyata, setelah pengmuman itu banyak sekali orang berdatangan. Karena banyak orang yang datang, maka ada orang yang mengatur tamu, resepsionis. Mareka tidak bisa lang sung berkonsultasi.

Di tempat pendeta ini untungnya ada resepsionis, sehingga tamu-tamu itu satu-satu bergilir. Apalagi inggris, itu negeri yang terkenal rapi. Rakyat di sana selal antri. Saya kira, bangsa yang rapi dalam antri adalah orang inggris. Bangsa yang ceroboh dalam antri, rakyat Indonesia.

Istri saya pernah menjadi saksi tentang begitu rapinya rakyat di inggris. Saya dan istri pernah suatu saat keluar dari underground , kereta api bawah tanah. Kereta api bawah tanah menyusuri di bawah kota London. Selesai menumpang kereta api bawah tanah, kita kalau keluar ke atas, ada suatu tempat yang tangganya itu paling tinggi, namanya piccadily . Saya dengan istri berjalan menuju tangga itu. Tiba-tiba istri saya melihat tali sepatunya terlepas. Jadi dia membetulkan dulu tali sepatunya di tangga itu. Dia tenang saja memperbaiki tali sepatu di depan tangga. Ketika dia lihat ke belakang, apa yang terjadi? Barisan orang sdah memanjang. Orang inggris tidak ada yang lewat untuk permisi. Tidak ada misalnya mengatakan, “please, excuse me!” semuanya antri menunggu. Tertahan langkahnya oleh istri saya. Sampai saya katakana kepadanya, “udah, lihat itu di belakang.”

Orang inggris itu selalu antri, apakah di tempat tunggu, di tempat parker, di halte bus. Orang yang paling depan, dia yang duluan masuk. Yang belakangan datang, dia bebaris di belakangnya. Di sana itu tidak ada yang datang belakangan langsung meloncat atau menyalip. Satu demi satu masuk bus. Pakah pernah kita menyaksikan orang antri masuk angkot? “tidak ada.”

Tentang orang yang berniat bunuh diri itu, mereka juga antri menunggu giliran mereka antri untuk ketemu pendeta. Sementara mereka belum bertemu dengan para pendetanya, ada sukarelawan untuk mengajak ngobrol mereka. Sambil menunggu giliran, mereka diajak ngobrol. Para sukarelawan itu Cuma mendengarkan curhat mereka. Mendengar saja, tidak mengasih komentar, juga tidak member nasihat. Jadi, tempat curhatlah. Ajaibnya, banyak di antara peserta itu tidak jadi ketemu pendeta dan tidak jadi juga bunuh diri. Mereka pulang dalam keadaan tenang. Hanya karena ada orang yang mau mendengarkan curhatnya, sudah menjadi obat bagi mereka. Akhirnya, berdirilah organisasi untuk mencegah bunuh diri namanya the saritans. Sekarang organisasi in sudah tersebar di seluruh dunia.

Menyambungkan Harapan

Para psikiater itu malah meminta kepada saya, untuk mengurus orang-orang yang mau bunuh diri. Tapi sayang, terlalu banyak yang saya urus. Jangankan mengurus orang yang bunuh diri, yang mau membunuh saya juga belum saya urus. Itu lebih penting daripada orang yang bunuh diri. Nah orang bunuh diri itu obatnya Cuma satu yaitu “sambungkan lagi harapanya yang terputus”. Dengan mengajaknya ngobrol kita menyadarkan dia bahwa sebetulnya ia masih mempunyai masa depan, karena “putusnya masa depan adalah bencana yang paling besar”. Karena itu, baca kalimat berikut sebanyak tiga kali sampai hapal benar.

a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’I bencana yang paling besar adalah putusnya harapan

a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’I bencana yang paling besar adalah putusnya harapan

a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’I bencana yang paling besar adalah putusnya harapan

pembaca sebaiknya menghapal kalimat, a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’I bencana yang paling besar adalah putusnya harapan, kita juga putus harapan akan akhirat, putus harapan aka kasih sayag Allah SWT. Ternyata orang yang bunuh diri itu tidak selalu bodoh. Bahkan ini menarik, menurut suatu penelitian, kebanyakan yang bunuh diri itu orang cerdas. Kalau saudara ingin disebut cerdas, cobalah bunuh diri saja.  

Saya teringat pengalaman dulu. Saya mengajar ngaji di kampong saya. Ada murid saya yang cerdas. Dia diterima di perguruan tinggi negeri. Padahal ibunya hanya berjualan di pasar. Selain di pasar, ibunya berjualan juga di pinggir-pinggir jalan. Orang kecilah, tapi anaknya bisa masuk unpad, jurusan ilmu pasti (eksakta). Anak itu murid yang cerdas. Dia sering datang ke rumah saya.

Suatu saat saya, saya sedang sibuk menulis. Dulu tidak ada computer, saya menulis masih memakai mesin tik. Dia datang menemui saya. “maaf, saya lagi sibuk, besok saja,” kata saya. Tidak lama setelah itu, saya mendengar dia bunuh diri, dengan meloncat ke rel kereta api dan akhirnya tergilas kereta. Sejak itu saya menyesal. Kenapa say tidak meluangkan waktu untuk mendengarkan curhat dia  walaupun sebentar saja. Mungkin dia tidak akan jadi bunuh diri. Atau mungkin dia sekarang sudah menjadi sarjana. Beberapa tahun setelah itu, kami bertemu dengan ibunya di pasar. Ibunya menangis melihat kami.

Anak itu sebetulnya mengalami stres. Tapi stresnya itu bukan karena hal lain. Stresna itu karena cerdas. Ada untungnya. Semakin bodoh semakin berkurang stres. Mengapa? Karena orang bodoh tidak membayangkan masa depan. Dia mengikuti apa yang terjadi. Orang yang cerdas itu berpikir tentang masa depan nya. “aduh nanti saya bagaimana? Cari pekerjaan dimana?” orang yang berpikir tentang masa depan berarti cerdas.

Saya teringat cerita salah seorang ustad, lupa namanya. Ia menceritakan kisah ini ada seseorang naik pesawat terbang. Tiba-tiba diumumkan bahwa sebentar lagi  penumpang akan menghadapi turbulence “goncangan”. Itu semacam goncangan  badai di udara. Semua orang panik. Ada yang membaca doa. Ada yang memejamkan mata . ada yang pucat pasi. Tetapi, ada seseorang di situ tenang-tenang saja. Dia begitu tenang. Goncangan-goncangan yang kemudian terjadi, dianggap biasa. Mungkin juga dia sering naik truk shingga biasa berada di antara goncangan. Ya, dia biasa saja tidak cemas sedikit pun. Akhirnya turbulence pun reda.

Beberapa saat kemudian diumumkan bahwa pesawat akan melakukan pendaratan darurat. Semua penumpang ketakautan lagi. Dan begitu mendarat, semuanya selamat, semuanya gembira kecuali orang itu. Dia malah heran, tadi betitu kelihatan menderita, sekarang malah bergembira, semua orang saling berpelukan. Dia saja yang tidak berpelukan sama sekali. Kalaupun ikut berpelukan, dia tidak sebahagia yang lain. Mengapa? Karena pengumuman itu disampaikan dalam Bahasa Inggris dan dialah satu-satunya tidak paham bahasa inggris.

Itulah untungnya menjadi orang bodoh. Menjadi orang bodoh itu tidak mencemaskan masa depan karena dia tidak mengetahuinya. Jadi sebenarnya, bunuh diri tidak ada hubunganya dengan bodoh an sich. Bunuh diri ada hubunganya dengan “bodoh” yang tidak mengetahui masa depan”. Yang bunuh diri itu bisa orang cerdas dan bisa juga orang bodoh. Salah satu obatnya  ialah sambungkan kembali harapanya yang terputus karena bencana yang paling besar adalah putusnya harapan.

A’zhamul bala-I, inqitha’ur raja-I , bencana yang paling besar adalah putusnya harapan. “harapan” dalam bahasa arabnya arroja.

Sun, 8 Dec 2013 @11:37

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved