AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Seminar UNISBA: Tak Hadirkan Tokoh Syiah

image

Sabtu kemarin saya menghadiri Seminar di UNISBA (Universitas Islam Bandung). Saya dapat undangan dari face book. Dalam seminar kemarin itu saya tidak menemukan hal baru dari kajian Syiah. Apalagi dari tiga pembicara yang dihadirkan tidak ada yang berasal dari mazhab Syiah. Misalnya Pak Maman (Prof Dr Maman Abdurahman) adalah ketua umum Pengurus Pusat Persatuan Islam (Persis).

Setahu saya bahwa Persis ini adalah ormas yang melarang tahlilan, shalawatan, marhabaan, larang maulid Nabi, dan lainnya. Hampir seluruh kebiasaan masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) dikecam dan disebut tidak bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.

Hadir juga Wildan Yahya, seorang doktor sejarah. Saya tidak mengenalnya. Hanya disebutkan ia dari Jakarta. Narasumber yang masih muda adalah Acep Saeful Millah, aktivis KAMMI. Ketiga narasumber ini saya kira tidak ada yang mewakili Syiah karena dari pemaparan di awal sampai akhir tidak ada yang memberikan apresiasi positif terhadap mazhab Syiah.

Dari pembicaraan ketiganya tampak saling dukung dan mengulang cerita atau isu yang selama ini terus dituduhkan pada Syiah. Kalau saja ada yang mewakili dari Syiah kegiatan di UNISBA kemarin akan menjadi betul-betul layak disebut seminar.

Dari Pak Maman, ada yang baru. Namun, bukan berkaitan dengan mazhab Syiah. Menurut Pak Maman, orang-orang Syiah itu sama seperti orang-orang NU yang menghormati ulamanya.

Setiap kali bertemu pasti akan cium tangan dan air minum bekas gurunya pun tidak jarang ada yang memperebutkannya agar dapat berkah. Orang-orang Syiah di Sampang Madura terlihat begitu hormat dan langsung cium tangan saat ketemu kiai.

Berbeda dengan di Persis, bertemu saya saja seperti kepada teman. Kadang kalau saya sedang lewat hanya disapa sambil jalan. Kalau orang NU dan Syiah akan berhenti dan segera mencium tangan sambil menunduk saking hormatnya kepada kiai atau guru.

Cerita lainnya yang menarik dari Acep. Ia bilang bahwa di Yogyakarta ada seorang aktivis perempuan KAMMI yang dikenal pintar dan ahli dalam agama. Suatu hari bertemu seorang laki-laki Muslim Syiah. Ia menantang debat dan sebelumnya melakukan perjanjian kalau kalah akan ikut pada mazhabnya. Terjadilah dialog dan ternyata perempuan KAMMI itu kalah. Sesuai dengan janji, akhirnya perempuan KAMMI itu memeluk Syiah sebagai mazhabnya dan menjadi istri dari laki-laki yang menjadi lawan debatnya.

Dalam hati saya bergumam: orang Syiah itu berarti pintar-pintar. Saya teringat dengan buku Dialog Sunnah Syiah yang diterbitkan mizan. Orang Syiah yang dialog dengan tokoh Sunni menguasai ilmu agama dan sumber yang luas. Tidak hanya sumber-sumber Syiah, tapi juga sumber-sumber dari Ahlussunah. Kayaknya akan keren kalau seorang Muslim atau Muslimah Sunni Indonesia itu cerdas dan menguasai ilmu agama dari berbagai mazhab seperti kaum Muslim Syiah. 

SUMBER: kompasiana

 

 

Fri, 13 Dec 2013 @15:57

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved