Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

WhatsApp: 0812-2391-4000

Fanpage: Komunitas Misykat

Twitter: Sekolah Islam Ilmiah

BERBAGI BUKU ISLAM

MISYKAT akan memberikan buku-buku ISLAM secara gratis. Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan WhatsApp (aktif) pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Catatan untuk Ustadz Hidayat Nur Wahid (2)

image

Pada mulanya kami sebagai murid seperguruan dengan Ustadz Hidayat Nur Wahid merasa takjub dengannya. Betapa tidak! Di saat kita merasa sulit menembus birokrasi Uni-versitas Madinah, ada kakak seperguruan yang berhasil me-nyelesaikan S3 di salah satu universitas unggulan milik pe-nguasa Saudi yang Wahabi itu.

Rasa takjub semakin ber-tambah ketika ada yang menyebut Ustadz Hidayat Nur Wahid sebagai salah satu pakar Syi’ah yang dimiliki Indonesia saat ini. Mungkin karena kepakarannya” itulah, setiap tahun HNW diberi kesempatan untuk menyampaikan materi pem-bekalan (Syi’ahologi) kepada para calon alumni setiap bulan Ramadan (Paling tidak sejak kedatangan beliau dari Madinah sampai bagian ini saya tulis tahun 2002). Mungkin karena itu pula HNW yang dipilih oleh para “pakar” Syi’ah Indonesia yang Sunni untuk memberi kata pengantar buku berjudul Ensiklopedia Sunnah-Syi’ah yang lucu itu.

Akan tetapi, setelah menyimak pembekalan yang HNW sampaikan, rasa takjub saya mulai berangsur musnah. Karena materinya bertentangan dengan motto perguruan kita: “Di Atas dan Untuk Semua Golongan”.

Alih-alih mengayomi semua golongan, bila mendengar ceramah HNW, yang lebih pas disebut provokasi daripada pembekalan orang yang tidak mau tahu malah akan memusuhi salah satu madzhab yang penganutnya lebih banyak daripada pengikut paham golongan-nya HNW, dan sudah muncul sebelum madzhab HNW muncul di Jazirah Arabia.

Sudah lama saya ingin menanyakan materi pembekalan HNW. Namun, karena satu atau lain hal, keinginan itu hanya tinggal keinginan. Akhirnya, kesempatan itu datang ketika saya pindah ke ISID. Kesempatan yang langka ini tidak saya sia-siakan. Kebetulan hal ini bersamaan dengan kampanye HNW memasarkan hasil Seminar Istiqlal.

Masih segar dalam ingatan, waktu itu saya mengajukan tiga pertanyaan kepada HNW  sebagai berikut:

1. Bahwa Dr. Syalabi, ahli sejarah Mesir, penulis Târîkh al-Hadhârah al-Islâmiyyah,  pernah menulis tentang pentingnya memisahkan antara orang-orang Syi’ah yang sesungguhnya dan orang-orang yang menunggangi tasyayyu‘ untuk menjelekkan wajah Islam. Saat itu penulis mencoba membacakan paragraf tulisan beliau, tetapi diinterupsi oleh moderator (Ust. H. Syamsul Hadi Untung, M.A.). Karena alasan sempitnya waktu, dia meminta saya untuk tidak membacakannya. Karena kebijaksanaan HNW, akhirnya paragraf tersebut sempat saya baca semuanya; yang intinya, kita harus arif dan bijaksana dalam menilai Syi’ah. Namun himbauan Dr. Syalabi bertentangan dengan materi ceramah Ustadz yang penuh dengan fitnah. Oleh karena itu, saya bertanya: “Mengapa Ustadz, sebagai seorang politisi Muslim sekaligus aktifis dakwah yang konon sebagai penjaga kemurnian Islam, tega memfitnah Syi’ah?”

2. Dr. Mushthafa Syak’ah dalam kitabnya, Islâm bilâ Madzâhib, memasukkan Syi’ah Imamiyah Itsna’asyariyah ke dalam Al-Firaq al-Mu’tadilah dan menggolongkannya dengan Al-Madzahib as-Sunniyah. Artinya, bagi beliau, Syi’ah sama saja dengan madzhab-madzhab yang menamakan dirinya sebagai “Ahlussunah wal-Jama’ah”. 

Dalam bukunya yang diberi kata pengantar oleh Mahmud Syaltut, Rektor Al-Azhar waktu itu, beliau mengajak seluruh umat Islam, dengan beragam madzhab dan go-longannya, untuk melihat sesama saudaranya yang Muslim dengan bijak dan dengan kaca mata Islam. Tetapi mengapa para aktifis Islam di Indonesia yang menamakan diri sebagai Ahlussunah wal-Jama’ah, di antaranya Ustadz Hidayat Nur Wahid, justru memfitnah golongan lain?

3. Karena dalam makalah Ustadz menukil pendapat Dr. Mûsa al-Mûsawi dalam kitabnya, As-Syî‘ah wat Tashhîh, saya pun bertanya tentang siapa Mûsa al-Mûsawi dan kebenaran bukunya. Penulis yakin, Ustadz mengenalnya bahkan mengetahui motivasinya menulis buku tersebut sehingga Ustadz menjadikannya sebagai referensi makalah yang Ustadz sampaikan dalam Seminar Istiqlal untuk menghujat Syi’ah.

Pertanyaan terakhir tidak sempat Ustadz jawab, sedang-kan dua pertanyaan pertama, dengan “piawai,” Ustadz berkenan menjawabnya. Jawaban Ustadz waktu itu adalah sebagai berikut:

1. Bahwa penulisan buku yang menjadi pegangan IAIN tersebut, menurut Ustadz, ditulis tidak memenuhi standar kualitas penulisan karya ilmiah yang diakui.

2. Ketika menjawab pertanyaan kedua, dengan enteng, Ustadz menuduh Mushthafa Syak’ah dalam menulis bukunya dilandasi sentimen pribadi. Namun sayang, forum yang sebenarnya cocok untuk menjernihkan seluruh permasalahan itu dihentikan begitu saja dengan alasan sedikitnya waktu yang tersedia. Mendengar jawaban yang sangat menggelikan dan lucu—yang dalam peribahasa Arab disebut ma yudhhiku ats-tsaklâ—saya semakin penasaran untuk mengenal “musuh” Ustadz lebih jauh lagi.

Mungkinkah karya tulis seorang doktor sejarah lulusan Cambridge sekaliber Dr. Syalabi tidak memenuhi standar ilmiah yang diakui? Sungguh jawaban yang sangat “ilmiah” dari seorang doktor Madinah yang melecehkah doktor Cambridge! Ataukah, seorang tokoh seperti Mahmud Syaltut tidak mengetahui kebenaran sejati? Alangkah “berkualitasnya” para lulusan Jami’ah Madinah yang Wahabi itu? Beragam pertanyaan muncul dalam benak saya dan sempat saya angkat dalam topik kuliah subuh yang saya sampaikan di Mushala ISID sehari setelah pertemuan itu.

(SUMBER: Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah karya Muhammad Babul Ulum; penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam)

 


Sun, 7 Jun 2015 @08:39

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved