AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Catatan untuk Ustadz Hidayat Nur Wahid (3)

image

Saat Ustadz menyampaikan materi pembekalan kepada siswa akhir KMI mencatat; Ustadz menyitir ucapan salah satu Trimurti pendiri Pondok Modern Gontor, yaitu K.H. Zarkasyi, seperti yang termaktub dalam biografi beliau yang dicetak Gontor Press.

Dalam buku tersebut beliau mengatakan bahwa perbedaan antara Syi’ah dan Sunnah tidak seperti perbedaan di antara madzhab-madzhab Ahlussunah lainya. Oleh sebab itu, beliau meminta para calon alumni untuk bersikap waspada terhadap paham Syi’ah.

Dengan menukil ucapan Pak Zar tersebut di atas, seolah-olah Ustadz menjadikan beliau sebagai pembenar bagi sikap Ustadz yang sangat memusuhi Syi’ah. Sebagai sesama santri yang menyaksikan sendiri hasil perjuangan Pak Zar, penulis, yang merasakan pendidikan tiggi di Gontor, sama sekali tidak menyangsikan keikhlasan perjuangan dan pengabdian beliau dalam memperjuangkan Islam.

Namun, ketahuilah, ucapan beliau yang selalu Ustadz nukil sebagai peluru tambahan untuk menembak Syi’ah, sama sekali tidaklah bijaksana. Alasannya,bacalah yang berikut:

1. Beliau wafat pada tahun 1985, di saat informasi tentang Syi’ah yang sesungguhnya belum banyak—untuk tidak mengatakan tidak sama sekali—beredar di Indonesia. Jadi, bila beliau berpendapat demikian tentang Syi’ah, sikap seperti itu semata-mata karena sebab tidak sampainya informasi yang benar tentang Syi’ah kepada beliau. Muhammad Amin saja yang berdiam di Mesir, pusat pengetahuan dunia Islam Sunni, banyak mendapatkan informasi yang salah tentang Syi’ah. Apalagi beliau yang hidup jauh di pelosok desa seperti Gontor. Terlebih, hubungan beliau yang selama ini terjalin adalah dengan orang-orang Saudi yang Wahabi. Jangankan kepada Syi’ah, kepada sesama saudarannya “Ahlussunah” saja, orang-orang Wahabi berani menuduh kafir, musyrik, ahli bidah, dan tuduhan-tuduhan keji lainnya.

Kalau saja beliau mengetahui Syi’ah dari para ulamanya, bukan dari para penulis bayaran, seperti para guru Ustadz di Jami’ah Madinah, saya yakin beliau tidak akan berkata demikian; beliau akan bersikap arif dan bijaksana. Beliau tidak akan meniru orang-orang Wahabi yang berpandangan picik. Bukankah salah satu motto perguruan kita adalah “Ber-pikiran Bebas setelah Berpengetahuan Luas”?

2. Bahwa pondok kita sekarang berkembang, di antaranya untuk memenuhi “wasiat” Syekh Mahmud Syaltut yang mengharapkan berdirinya seribu Gontor di Indonesia.

Beliau adalah salah satu pendiri  Dâr at-Taqrîb bain al-Madzâhib al-Islâmiyyah,  yang membenarkan siapa saja untuk memeluk ajaran Syi’ah. Usaha beliau ini sesuai dengan motto perjuangan kita, “Di Atas dan Untuk Semua Golongan”.  Oleh karena itu, beliau mengharapkan ber-dirinya seribu Gontor di bumi Indonesia sebagai upaya menggalang persatuan umat Islam Indonesia. Sebagai alumni, seharusnya Ustadz mengikuti langkah pondok yang berusaha menyatukan potensi umat Islam; bukan malah menunggangi pondok untuk kepentingan go-longan Ustadz saja.

Penulis yakin, kebijakan pimpinan Pondok Modern Gontor memberikan kesempatan kepada Ustadz untuk memberikan materi Syi’ahologi disebabkan oleh adanya annggapan bahwa Ustadz mengetahui hakikat Syi’ah yang sesungguhnya. Sungguh bijaksana bila Ustadz menyampaikan kebenaran apa adanya seperti yang Ustadz ketahui; bukan karena sentimen pribadi atau karena takut reputasi Ustadz hancur, atau takut ditinggal-kan para pengikut bila Ustadz berkata yang sejujurnya tentang Syi’ah.

3. Saya harus berterimakasih kepada Ustadz. Hasutan dan profokasi yang Ustadz sampaikan itu justru menghantar-kan keberhasilan saya menyelesaikan studi di ISID. Tulisan ini dibuat bukan untuk mengajari Ustadz yang lebih pintar dari saya. Saya yakin Ustadz mengetahui pelajaran yang diberikan di Gontor. Namun, pemahaman saya tentang Syi’ah berbeda dengan pemahaman Ustadz yang melahirkan sikap tidak proporsional. Oleh karena itu, saya berharap, bila buku ini bertentangan dengan ilmu yang Ustadz terima dari Jami’ah Madinah, karena di Gontor tidak diajarkan untuk menfitnah Syi’ah, kiranya Ustadz berkenan mengoreksi isi buku ini yang telah diuji oleh dosen yang menemani Ustadz di mushala ISID saat terjadi dialog tersebut di atas.

Saya yakin, Ustadz bukan seorang yang tidak bisa mem-baca sehingga harus ditunjukkan bagaimana bersikap secara proporsional. Ustadz juga bukan “anak kemarin sore” yang harus diajari bagaimana bersikap dewasa dalam menghadapi perbedaan pendapat. Bukankah Ustadz salah seorang deklator dan sekarang menjadi Presiden Partai Islam yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi ala Indonesia? Saya

tidak usah mengajari seorang doktor untuk memahami firman Allah, “Ud’u ilâ sabîli rabbika bilhikmati wal-mau’izhatil-hasanati wa jâdilhum bil-lati hiya ahsan”.  Saya juga yakin Ustadz me-ngetahui asbabun-nuzul  ayat yang memerintah Rasulullah Saw untuk bermubahalah dengan kaum Nasrani Najran.

Kalau tidak, saya anjurkan supaya Ustadz banyak belajar dari para pengikut Syi’ah. Jika sedemikian itu sikap Rasulullah saw kepada kaum Kuffar, jika beliau adalah suri teladan Ustadz, mengapa Ustadz tidak mengikuti langkah beliau dalam berargumentasi, apalagi bila yang dihadapi adalah sesama saudara seiman. Apakah cara Ustadz dan kawan-kawan yang mendakwa-kan diri sebagai penjaga kemurnian Islam dengan menyerang Syi’ah sesuai dengan praktik Rasulullah Saw?

Sebagai alumni pesantren yang punya syiar “Di Atas dan Untuk Semua Golongan”, apalagi merasakan langsung didikan Pak Zar yang pada setiap Khutbatul ‘Arsy selalu me-ngatakan, “Sal dhamîrak!”, alangkah baiknya bila Ustadz ber-tanya kepada hati nurani terlebih dahulu sebelum menyampai-kan sesuatu tentang Syi’ah.

Sungguh sayang bila ilmu Ustadz yang tinggi itu hanya digunakan untuk menfitnah Syi’ah yang telah berhasil mengusir Israel dari Lebanon. Apa kontribusi Ustadz untuk melawan Israel? Gerak jalan dari bunderan HI menuju Monas?

 

(SUMBER: Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah karya Muhammad Babul Ulum; penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam)

 

 

Sat, 14 Dec 2013 @21:27

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved