AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Akhlak Solusi Krisis Kemanusiaan [Prof.Dr.H.Ahmad Tafsir]

image

Allah berfirman di dalam al-Quran: Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (Q.S. al-Anbiyaa: 107). Maksud dari ayat ini adalah kedatangan Muhammad SAW yang membawa agama Islam kepada kita mestinya menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Ada orang yang mengaku lebih pintar mengatakan bahwa seluruh alam maknanya seluruh manusia. Jadi kedatangan agama Islam itu harus menjadi rahmat bagi seluruh manusia.Tidak hanya bagi umat muslim saja, bahkan bagi orang-orang kafir. Di sinilah yang perlu kita perhatikan.

Islam itu rahmat

Beberapa arti rahmat adalah anugerah, faedah, manfaat, guna. Karena itu, agama Islam diturunkan Allah kepada kita karena ada manfaatnya, tidak menyusahkan, dan malah sebaliknya memudahkan (mengenakkan) kita. Dalam Islam kita mengenal Rukun Islam yang terdiri dari membaca dua kalimah syahadat, menunaikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa, dan menunaikan ibadah haji. Jika kita membaca syahadat, apakah orang lain mendapatkan manfaatnya atau berguna bagi yang lain. Jawabannya “tidak”, berarti ayat di atas belum terbukti. Kemudian setiap hari kita shalat, apakah yang didapatkan orang lain dari shalat itu. “Pahala” hanya untuk kita yang melaksanakannya, “tidak” untuk orang lain. Zakat ada manfaatnya, tapi “tidak” untuk orang kafir, apalagi puasa, kita merasakan lapar sementara orang lain tidak mendapatkan apapun. Dan yang terakhir adalah haji, sama juga. Paling-paling oleh-oleh. Itupun hanya untuk orang-orang tertentu saja.

Makanya, banyak yang “tidak senang” kepada Islam karena tidak ada gunanya, menurut sedikit uraian saya tadi. Tapi kita tidak berhenti sampai di sini karena Islam itu harus berguna bagi siapa saja menurut surat al-Anbiyaa’ : 107 di atas. Islam seharusnya mulia (bersinar) tetapi malah sebaliknya terkutuk akibat “ulah” orang-orang tertentu seperti “Teroris” (begitu orang Barat menyebutnya).

Karena itu kita kembali lagi kepada pembahasan di atas bahwa, buah dari pelaksanaan Rukun Islam ditambah dengan yang lainnya adalah akhlakul karimah.

Akhlakul karimah inilah yang mampu memberikan manfaat, memberikan guna atau memberikan faedah untuk semua orang. Sebagai contoh, jika di sebuah kampung yang penduduknya berakhlak baik meskipun orang-orangnya lupa menutup kunci pintu tapi mereka merasa aman karena tidak ada barang yang kehilangan atau dicuri. Tetapi jika sebaliknya (akhlak mereka jelek) maka akan membuat sulit, susah, bahkan kerugian bagi orang lain.

Islam sebagai rahmat dan Akhlakul karimah ini ibarat pohon dengan buahnya. Kalau kita ambil bagian dari pohon tersebut misalkan akarnya, maka pohon itu akan mati. Berbeda jika kita mengambil buahnya, maka pohon tersebut akan tetap berbuah dan bermanfaat terus bagi orang lain. Akhlakul karimah itulah buah dari pengamalan Islam yang benar.

Dengan akhlakul karimah ini jangan sampai kita bertengkar hanya karena perbedaan dalam masalah ibadah (khilafiyah) misalkan shalatnya tidak memakai usholli. Akhlak yang mulia inilah yang akan menentramkan dunia. Sekarang ini Indonesia sedang mengalami krisis kemanusiaan, yaitu krisis akhlak.

Bagaimana supaya kita berakhlak? Imam al-Gazali menjelaskan akhlak dengan beberapa tingkatan. Tingkatan pertama (paling rendah) adalah selalu merasa dilihat Allah. Sampai di sini belum muncul akhlakul karimah. Barulah ketika merasa melihat Allah (tingkatan kedua) akan muncul akhlak tersebut dan tingkatan yang paling tinggi tatkala merasa bersatu dengan Allah, seseorang akan memiliki akhlak yang paling tinggi.

Dzikir Jahar dan dzikir Khofi kita lakukan dalam upaya untuk selalu mengingat Allah yang merupakan sebuah latihan untuk memunculkan akhlakul karimah karena selalu merasa dilihat Allah. Juga dengan berpuasa karena hal ini merupakan ibadah yang merupakan usaha untuk mencontoh sifat Tuhan seperti tidak makan dan minum, serta tidak bersetubuh; karena Allah pun tidak makan dan minum serta tidak beranak.

 

Prof.Dr.H.AHMAD TAFSIR adalah Gurubesar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung

 

Fri, 12 May 2017 @05:20

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved