Basmalah: Tinjauan Sufistik (1) [KH Jalaluddin Rakhmat]

image

RASULULLAH saw bersabda, “Semua urusan yang tidak dimulai dengan basmalah, maka urusan itu terputus.” Apa yang dimaksud dengan amal yang terputus? Amal yang terputus adalah amal yang tidak mempunyai ujung, tidak ada tujuannya. Amal yang tidak mempunyai ujung atau tidak mempunyai tujuan adalah amal yang tidak dimulai dengan nama Allah. Sebaliknya, amal yang dimulai dengan nama Allah tidak akan terputus; amal itu akan berakhir dengan nama Allah lagi.

Menurut Syekh Jawad Amuli, begitu pula jika amal kita dimulai dengan hamdalah, maka amal itu akan berujung dengan hamdalah pula.

Berkenaan dengan hadis di atas, Syekh Jawad Amuli membagi amal-amal tersebut ke dalam dua macam perbuatan baik. Pertama, amal yang baik dari segi perbuatan. Istilah ini disebut dengan hasan al-fi’li. Yang termasuk kriteria hasan al-fi’li misalnya adalah menolong orang lain, membantu orang yang sedang kesusahan, dan berdakwah. Semua perbuatan itu sudah termasuk perbuatan baik. Kedua, amal yang baik dari segi pelakunya atau disebut hasan al-fâ’il. Orang yang melakukan suatu perbuatan itu memang terhitung baik dan ia memulai pekerjaannya dengan niat yang ikhlas.

Pada Perang Shiffin, tentara ‘Amr bin Ash dan Mu’awiyah mendapatkan kekalahan. Mereka meminta untuk berhukum. Tetapi orang Khawarij menolaknya seraya berkata, “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah.” Ketika Imam Ali bermusyawarah, berunding untuk memelihara perdamaian, orang Khawarij marah dan berkata, “Mengapa harus membuat pengadilan, karena semua hukum itu milik Allah.” Imam Ali lalu berkata, “Ucapan orang Khawarij bahwa tidak ada hukum kecuali hukum Allah adalah ucapan yang benar, tetapi diucapkan dengan maksud yang buruk.” Dalam pandangan Imam Ali, ucapan orang Khawarij itu adalah benar dari segi perbuatannya, tetapi tidak benar dari segi maksud orang yang mengucapkannnya. Pada saat itu Imam Ali as menggolongkan kelompok Mu’awiyah dan Khawarij dengan perkataan yang indah, “Orang-orang Khawarij lebih baik daripada orang Mu’awiyah, karena orang Khawarij adalah orang yang mencari kebenaran tetapi tidak menemukannya. Lebih baik orang yang mencari kebenaran walaupun tidak menemukannya daripada orang yang mencari kebatilan dan keburukan seperti Mu’awiyah.”

Basmalah adalah kalimat yang benar dan hasan dari segi fi’li. Jika orang melakukan suatu perbuatan baik yang dimulai dengan basmalah, berarti ia menisbahkan fâ’il-nya untuk Allah. Ia menyandarkan pekerjaannya kepada Allah sehingga ia mengubah hasan al-fi’li sekaligus menjadi hasan al-fâ’il.

Jadi, ada perbuatan yang fi’li-nya baik tetapi fâ’il-nya tidak baik, karena tidak berangkat dengan nama Allah. Perbuatan seperti ini dapat dikategorikan terputus atau batal.

Suatu perbuatan harus hasan al-fi’li dan hasan al-fâ’il; masuk dan keluarnya harus benar. Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang tujuan amal, yaitu kebenaran. Inilah yang dianjurkan Allah kepada manusia dalam amal sehari-hari: Dan katakanlah: Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS. Al-Isra 80)

Al-Quran menceritakan bagaimana agar tempat keluarnya menjadi tempat yang benar; seperti dalam surat At-Thalaq ayat 2-3: Dan mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik, atau lepaskanlah mereka dengan baik. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu menegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka olehnya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesunguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu…

Orang-orang yang masuk dari tempat yang baik dan mengakhiri pada tempat yang baik adalah orang yang digambarkan dalam ayat di atas.

Basmalah berarti kita melakukan suatu perbuatan dengan niat yang ikhlas dengan diiringi nama Allah, agar ketika kita keluar dari tempat itu dalam keadaan baik. Kita memulai perbuatan dengan al-haq agar ujung amal kita keluar dari al-haq pula.

Nama Allah dalam kalimat basmalah adalah nama yang sangat agung yang mencerminkan kesempurnaan. Seperti disebutkan dalam Al-Quran: Mahaagung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia. (QS. Al-Rahmân 78) Allah menjadikan nama-Nya sebagai sumber keberkahan. Allah juga memerintahkan kita untuk mensucikan nama-Nya; jangan sekali-kali mencemarinya. Dalam Al-Quran kita menemukan perintah untuk mensucikan nama-Nya. Allah mempunyai sifat sempurna dan harus dibersihkan dari segala sifat kekurangan: Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (QS. Al-A’la 1)

Ketika turun surat Al-Waqiah ayat 74: Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mahabesar, Rasulullah saw bersabda, “Jadikanlah pensucian nama itu di dalam ruku’ kamu.” Dan ketika turun surat Al-A’la ayat 1: Sucikanlah nama Tuhanmu yang Mahatinggi, Rasulullah berkata, “Jadikanlah pensucian itu di dalam sujud kamu.”

Ada sebuah riwayat di kalangan ‘irfani yang menyebutkan bahwa kata basmalah yang diucapkan oleh seorang hamba mempunyai kedudukan seperti lafad kun yang diucapkan Allah. Maksudnya, ketika Allah berkehendak dengan sesuatu, Dia hanya berkata Kun, maka jadilah sesuatu itu. (Lihat QS. Yasin 82). Bagi orang yang sudah mencapai maqam tertentu, ucapan basmalahnya akan sama dengan ucapan kun. Jika ia menghendaki sesuatu, terjadilah apa yang diinginkannya.

Sebelum Nabi Nuh pergi meninggalkan kaumnya dengan perahu yang besar, ia berkata, “Bismillâhi majrehâ wa mursâhâ” (QS. Hud 41). Dengan ucapan itu, majulah perahu itu. Perahu itu bergerak dengan nama Allah. Nabi Nuh memberi contoh bagaimana menggerakkan sesuatu dimulai dengan nama Allah, dan bahwa yang dilakukan oleh Nabi Nuh bukan kehendaknya, tetapi kehendak Allah.

Puncak dari perjalanan kepada Allah adalah ketika kehendak seorang hamba sudah bersatu dengan kehendak Allah. Ada beberapa tahap perjalanan menuju Allah. Pertama, ketika seseorang mendahulukan kehendaknya daripada kehendak Allah. Kedua, ketika seseorang mendahulukan kehendak Allah daripada kehendaknya. Jika seseorang sudah mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak dirinya, dia tidak dapat membedakan mana kehendak Allah dan kehendak dirinya. Kakinya yang berjalan adalah kaki Allah, matanya yang melihat adalah mata Allah, dan tangannya yang memegang adalah tangan Allah. Dalam hadis Qudsi disebutkan: Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan amal sunnah, Aku akan menjadi matanya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya untuk menyentuh, dan Aku akan menjadi kakinya untuk berjalan. Dan jika ia berdoa, Aku akan menjawab doanya. Jadi, hamba yang sudah dekat dengan Allah, kehendaknya sudah menjadi kun. Ucapan basmalahnya sama dengan kata kun dari Maula-nya, Allah.

Pada tahap kedua ini kita coba membuang keinginan-keinginan kita; yang ada dalam diri kita hanyalah keinginan Allah. Kita serahkan diri kita untuk Allah tanpa menyisakan sedikit pun kehendak untuk kita. [KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI ]

 

Fri, 27 Dec 2013 @14:40

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved