CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Misykat Menjawab (1): Imamah dan Pemimpin Syiah Sekarang

image

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Muslim Sunni, tapi bukan sunni yang suka mengkafirkan atau menyalahkan dan menyesatkan orang lain. Hal yang paling saya tidak suka adalah sekarang ini orang sibuk saling mengkafirkan dan menyalahkan, menyesatkan apa lagi sampai saling menumpahkan darah sesama warga indonesia umumnya dan muslim khususnya. (kalau sudah seperti itu, apa kata Dia dan Utusannya?).

Pertanyaan saya (pertama): Syiah Imamiyah atau Itsna Asyariyah yang mempercayai 12 Imam setelah Rasulullah SAW, setelah imam yang ke 11 tidak ada  siapa yang berhak memimpin? Lalu apa bedanya saya, yang bermazhab Syafi'i dengan ikhwan yang lain yang bermazhab Syiah yang merujuk kepada misalnya Ayatullah Khamenei. Padahal, beliau bukan imam?

JAWABAN : Wa’alaikumussalam warahmahmatullahi wabarakatuh. Yang pertama, kami sampaikan ucapan salam persaudaraan. Kami juga yakin, jumlah orang Sunni yang berhati baik dan berpikiran jernih seperti Antum jauh lebih banyak dibandingkan dengan kaum takfiri.

Pada dasarnya, takfiri adalah musuh bersama Sunni-moderat seperti Anda dan juga kelompok Syiah atau pengikut Ahlulbait di Indonesia. Kami yakin itu karena sikap kaum takfiri yang dengan mudah mengkafirkan kelompok manapun yang “berbeda”. Padahal berbeda tidak sama dengan “bertentangan”. Antum juga sepertinya tahu bahwa cara ber-Islam yang Antum jalani, yaitu dengan mengikuti thariqah kebaikan, dengan mengikuti cara tertentu yang diajarkan oleh para wali yang saleh, itu juga tidak lepas dari pengkafiran kelompok takfiri.

Lalu, bagaimana orang Syiah memandang kelompok lain (Sunni)? Secara singkat bisa kami pastikan bahwa semua ulama Syiah sepakat terkait keislaman kelompok Sunni. Tidak adanya keyakinan kelompok Sunni terkait dengan Imamah (pemimpin agama pasca Rasulullah saw) sama sekali tidak menjadi alasan untuk mengeluarkan saudara -saudara kami Ahlussunnah dari “keluarga besar Islam”.

Terkait dengan ini, perlu kami sampaikan bahwa dalam pandangan para ulama Syiah, kebenaran dan hidayah itu memiliki tingkatan. Karena itulah, kita diperintahkan untuk selalu meminta petunjuk kepada Allah, meskipun kita sudah yakin berada pada satu titik kebenaran. Kita diperintahkan minimalnya selama 17 kali dalam sehari semalam (jumlah rakaat shalat fardhu), meminta kepada Allah: “Ihdinash-shiraathal mustaqim”.

Kita tidak boleh berhenti dan merasa puas pada satu terminal kebenaran. Sehebat apapun kita, karena masih pada tataran “manusia biasa”, bukan wali apalagi Nabi, kita hanya bisa mengklaim sebagai orang yang “benar sampai tahapan tertentu” dan pada saat yang sama masih keliru dalam hal lain. Dalam beribadah pun, kita hanya bisa mengklaim bahwa cara ibadah kita baru sampai pada tahap kebenaran; tapi belum melaksanakan tahapan selanjutnya.

Kami pikir, ini juga yang menjadi inti ajaran kaum tarekat, sebagaimana yang Antum jalani. Ibadah-ibadah lahiriah yang sudah dilakiukan seorang muslim sama sekali tidak menjamin bahwa ia sudah berislam secara sempurna. Ada gerak batin yang juga harus disertakan agar tujuan dari ibadah-ibadah itu mencapai sasarannya.

Dalam pandangan ulama Syiah, keber-Islam-an itu sangat sederhana. Ketika seseorang sudah mey a kini keesaan Allah (tauhid), meyakini bahwa Muhammad adalah N abi terakhir, menjalankan shalat dengan berkiblat ke K a’bah, menjadikan Al-Quran sebagai kitab suci dan sumber ajaran hidup, dan juga meyakini segala hal yang menjadi ajaran utama lainnya (zakat, haji, d an lainnya ) maka dia adalah orang Islam.

Status keislaman ini punya banyak konsekwensi. Misalnya, hal ini terkait dengan pewarisan (karena orang kafir tidak punya hak waris), perkawinan/perwalian, masalah boleh tidaknya pergi haji (masuk Mekah), kebolehan memakan hasil sembelihan, d an lainnya. Itulah makna dari pengakuan orang Syiah atas kaum Sunni bahwa mereka juga sama-sama Muslim.

Dalam pandangan Syiah, seorang anak Sunni tetap memiliki hak waris. Syiah juga memperbolehkan pernikahan dengan orang Sunni; menganggap sah perwalian orang tua Sunni, memakan makanan hasil sembelihan orang Sunni, dan lainnya.

Hanya saja, seperti yang kami kemukakan di atas, ketika seseorang sudah menjadi orang Islam, itu tidak berarti bahwa seluruh pikiran dan perilakunya sudah mencapai kebenaran mutlak. Orang Sunni adalah Muslim yang sudah sampai pada satu tingkatan kebenaran yang sangat hebat; tetapi belum melaksanakan kebenaran yang lain.

Tentu saja Antum tahu, yang menjadi isu utama adalah masalah Imamah. Kami sebagai pengikut Ahlulbait, telah sampai pada satu pemahaman yang tidak mungkin kami ragukan lagi bahwa pertama, umat Islam sangat membutuhkan keberadaan figur pemimpin, bahkan setelah wafatnya Rasul.

Y ang kedua, tidak mungkin Rasul yang mulia sampai tidak menunjuk pemimpin penggantinya.

Apalagi, berdasarkan hasil penelaahan kami atas sejarah, nash Al-Quran, dan juga riwayat yang tercantum di kitab-kitab hadits Sunni sendiri (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan kitab lainnya), kami menemukan fakta yang sangat kuat terkait adanya penunjukkan itu. Kami meyakini bahwa Rasul memang menunjuk Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah sebagai pemimpin penggantinya.

Tentu saja tidak mungkin membahasnya secara panjang lebar di sini. Cukuplah di sini kami menunjukkan adanya perbedaan tersebut, yaitu bahwa menurut kami, konsep Imamah adalah haq . Sedangkan Sunni tidak menganggapnya demikian.

Jadi, apakah menurut Syiah, orang-orang Sunni itu keliru dalam hal imamah? Tentu saja jawabannya adalah “iya”. Apakah kekeliruan itu menyebabkan dosa? Belum tentu, karena dalam hal ini Syiah meyakini konsep jahil-qashir dan muqashshir.

Kalau Antum sudi membaca buku Keadilan Ilahi karya Ayatullah Murtadha Muthahhari (terjemahannya diterbitkan Mizan), Antum akan memahami konsep ini dengan baik. Intinya, tidak semua yang salah itu berdosa. Kalau kesalahannya dilakukan tanpa sebuah kesadaran-kesengajaan, ia tidak berdosa.

Misalnya saja, kenapa Anda tidak meyakini imamah? Kalau jawabannya adalah: “Karena saya belum memahami kebenarannya”, maka itu yang disebut jahil-qashir. Anda keliru, tapi tidak berdosa.  Lain halnya jika situasinya adalah: Anda sudah tahu kebenaran imamah, tapi disebabkan alasan-alasan tertentu seperti masalah takut kehilangan jabatan, kehilangan teman, takut rizki menjadi sempit, tidak enak sama guru, fanatik terhadap keyakinan lama, d an lainnya maka Anda disebut jahil-muqashshir.

Anda keliru dan juga berdosa. Perlu juga kami tambahkan bahwa jahil-muqashshir itu meliputi orang yang belum faham, dan dia enggan untuk mencari tahu pemahaman itu, alias malas mencari kebenaran. Dia enggan membaca buku, enggan mendatangi pengajian, alergi membaca tulisan, d an lainnya.

Sebenarnya, hal yang sama juga terjadi pada kami, orang-orang awam Syiah. Kami punya kesadaran penuh bahwa pandangan dan perilaku kami belum sampai pada tingkatan kebenaran yang mutlak. Mayoritas kami (orang -orang awam dalam memahami mazhab) masih berkutat pada pemahaman tingkat rendah. Tata cara ibadah kami masih sangat sederhana. Bahkan dalam beberapa hal, Antum sangat mungkin lebih hebat cara beribadahnya dibanding kami.

Kemudian, mengenai imam kami saat ini, kami yakin bahwa imam kami adalah Imam Muhammad bin Hasan Al-Mahdi. Beliau sedang dalam masa ghaibah-kubra (menghilang dari pandangan lahiriah). Tapi, bukan berarti kami terputus dari beliau. Imam Mahdi di setiap zaman, selalu menunjuk wakilnya, yang disebut wali faqih.

Di masa kami ini, wali faqih mutlak kami adalah Ayatullah Sayid Ali Khamenei. Ini juga pembahasan yang agak panjang. Mengenai persoalan ini kami sarankan untuk membaca buku Imamah dan Wilayah atau Kepemimpinan Dalam Islam karya Ayatullah Murtadha Muthahhari. Juga tulisan tentang wilayah faqih, termasuk dari Ayatullah Ruhullah Musawwi Khomeini.

(redaksi@misykat.net )


 

Fri, 5 Dec 2014 @19:39

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved