Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Misykat Menjawab (2): Mengenai Mimpi Bertemu Rasulullah SAW

image

Kedua, kenapa saya tetap yakin pada pendirian sebagai Sunni ala mazhabil Imam Syafi'i rhm, hal ini disebabkan karena guru-guru dan masyikh-masyaikh yang kami menimba ilmu darinya itu adalah orang baik, baik akhlak dan tingkah lakunya, menjadi panutan dalam kehidupan kami, sehingga mereka kami dengar dan percayai.

Dalam pandanganku mereka adalah para sufi "waliyun min auliyaillah" , yang bertemu dengan nabi khidir mubasyaratan, dan mereka para masiyaikh kami bukanlah orang biasa; di antara kitab-kitab yang diajarkan adalah Ihya' , juga Minhajul'abidin, Sohih Bukhori dan Muslim (sebagaimana 'adat Sunni). Mereka juga menyampaikan bahwa "siapa yang mimpi bertemu Rasulullah, maka sebenarnya dia bertemu dengan Rasul, karena Rasul tidak bisa di serupai oleh setan.

Bagaimana tanggapan ikhwan mengenai orang Sunni yang bermimpi bertemu Rasul saw? Apakah hal tersebut menunjukkan ia benar dengan keimanannya atau kurang benar (bukan berarti tidak benar). Wallahu'alam.

JAWABAN : Yang kedua, mengenai “mimpi bertemu dengan Nabi SAW”, mazhab Syiah juga tentu saja mengenal konsep ini. Di Syiah, tashawwuf itu dikenal dengan nama “irfan”. Kami juga meyakini bahwa kita bisa bertemu dengan Nabi Khidhir as secara langsung. Juga ada keyakinan bahwa siapa saja yang mimpi bertemu dengan Rasul, pasti mimpinya itu benar, karena setan t ak mungkin bisa menyerupai manusia sesuci Rasul.

Ayatullah Jawadi Amuli saat menafsirkan ayat 40 dan 42 surah Al-Hijr, menyatakan bahwa ketika seorang hamba sampai pada tingkatan “dijaga kesuciannya” oleh Allah SWT, maka tak ada makhluk yang bisa menguasainya. Termasuk menguasai di sini adalah menyerupainya untuk kemudian mendatangi orang lain dalam mimpi.

Hanya saja, di sini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama harus dibedakan antara “orang yang bertemu dengan Nabi” dengan “orang yang mengaku-aku bertemu dengan dengan Nabi”. Mimpi bertemu Rasul adalah benar. Tapi tidak setiap orang yang menyatakan (mengaku atau mengklaim) bertemu dengan Nabi, maka pengakuannya itu benar. Kalau kita baca sejarah Islam, kita akan mendapati adanya pernyataan orang-orang tertentu yang mengaku bertemu Rasul dalam mimpi, dan Rasul membenarkan kata-kata orang itu (katakanlah si A).

Akan tetapi, kita akan dibuat bingung ketika mendapati pengakuan lain dari orang lain yang juga menyatakan diri bermimpi dengan Rasul. Anehnya, dalam mimpi itu, Rasul mengecam kata-kata si A. Dari sisi ini, kita mengambil kesimpulan bahwa pastilah salah satu dari kedua orang itu ada yang berbohong. Atau bisa jadi, kedua-duanya berbohong.

Kedua mimpi bertemu tersebut harus sampai pada tahap “yakin”. Terkadang, orang bermimpi yang biasa saja (bermimpi sesuatu yang lain). Tiba-tiba saja, mimpinya meloncat secara tiba-tiba, dan secara samar “mengira” melihat sosok Nabi. Mimpi seperti ini tidak sampai pada tahap yakin, sehingga tidak bisa disebut sebagai mimpi yang benar. Karena itu, kita tidak boleh terburu-buru mengklaim bermimpi benar bertemu Nabi, kalau mimpinya masih samar-samar.

Ketiga mimpi bertemu Nabi sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai landasan hukum syar’i; sama sekali tidak bisa menjadi landasan legitimasi. Mimpi bertemu Nabi hanyalah untuk panduan akhlak bagi diri sendiri. Maksud kami, jika ada ada orang yang (mengaku) bermimpi bertemu dengan Nabi, lalu dalam mimpi itu dikatakan bahwa Nabi menyuruhnya menikahi seorang gadis “fulanah”, maka hal itu sama sekali tidak bisa menjadi dasar hukum yang menyebabkan di gadis fulanah itu harus menerima pernikahan orang yang bermimpi itu.

Hal yang sama juga berlaku untuk jabatan. Jika seseorang mengaku bermimpi bertemu dengan Nabi, dan Nabi dalam mimpi itu menunjuka si A menjadi presiden, itu tidak berarti bahwa orang yang tidak memilih si A sebagai presiden lalu dianggap berdosa. Kenapa demikian? Itu karena “mimpi” tidak pernah menjadi sumber hukum Islam. Sumber hukum Islam adalah Al-Quran, Sunnah (yang nyata, bukan mimpi), Ijma, dan akal.

Berdasarkan keterangan para ulama kami yang didasarkan kepada literatur-literatur yang terpercaya, isi dari mimpi bertemu dengan Nabi biasanya terkait dengan upaya penyucian jiwa seseorang. Misalnya, terkait amalan yang masih kurang. Terkadang juga dalam mimpi tersebut, Nabi Muhammad SAW berbicara mengenai taktir mu’allaq (tentatif) di masa depan. Tapi, itu hanya untuk memandu orang tersebut, terkait dengan apa yang harus dilakukannya menyongsong takdir tersebut. Itulah penjelasan kami. Semoga bermanfaat.

[redaksi@misykat.net ]

 

Fri, 5 Dec 2014 @19:48

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved