MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Tiga Tingkat Islam menurut Muthahhari [by KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Ayatullah Murtadha Muthahhari membagi makna Islam pada tiga tingkat karena keinginannya untuk menjawab pertanyaan: Apakah amal saleh orang yang tidak beragama Islam diterima Allah.

Banyak orang, dengan merujuk antara lain pada Al-Baqarah 62, Al-Maidah 69, dan ayat-ayat lainnya yang bermakna sama, menyatakan bahwa amal saleh bukan orang Islam diterima Allah juga. Bukankah apa yang disebut amal saleh itu tetap amal saleh apa pun agamanya? Bukankah membahagiakan orang yang menderita itu disepakati sebagai amal saleh apa pun agama para pelakunya?

Secara akal, kita dengan mudah menerima argumentasi di atas. Tetapi kita mengalamai kesulitan untuk memahami ayat Inna al-Dîn ‘ind Allâh al-Islâm dan wa man yabtaghi ghayr al-Islam dinan fa lan yuqbala minhu wa huwa fi al-akhirat min al-khasirin (Ali Imran 85). Bukankah agama di sisi Allah itu hanya Islam? Bukankah orang yang mencari selain Islam sebagai agama ia tidak akan diterima dan pada hari akhirat menjadi orang-orang yang merugi. Lagi pula, bila Tuhan menerima amal saleh dari siapa pun, maka apa perlunya kita memeluk agama Islam? Apa juga gunanya kita memanggil manusia kepada Islam?.

Dengan kembali kepada makna asal Islam —berserah diri, kepasrahan— Muthahhari menjelaskan tiga macam kepasrahan. Pertama, Islam fisik. Di sini orang pasrah kepada seseorang atau sesuatu karena terpaksa atau karena mengikuti lingkungannya. Muthahhari menyebut istilah al-islam al-jughrafiy kepada mereka yang lahir, hidup, dan mati dalam lingkungan Islam. Jika Anda memeluk Islam sekarang ini, karena orangtua Anda juga Muslim dan lingkungan Anda juga Muslim, padahal Anda tidak pernah mempelajari Islam, Anda baru masuk Islam secara fisik saja. Muthahhari menulis, “Kebanyakan kita hanyalah muslim tradisional dan geografis. Kita menjadi Muslim karena orangtua kita Muslim. Kita juga hidup dan tumbuh besar di tengah-tengah masyarakat Muslim.”

Di samping Islam geografis ada Islam aktual, al-islam al-waqi’iy. Inilah Islam yang “memikul nilai ruhiyah samawiyah”. Menurut Muthahhari, Islam aktual ialah Islamnya orang yang sudah pasrah kepada kebenaran dengan hatinya. Ia mengamalkan kebenaran yang diyakininya setelah ia menerima kebenaran itu melalui penelitian dan tanpa fanatisme. Bila ada orang yang telah berusaha mencari kebenaran, lalu ia menerima kebenaran itu dengan sepenuh hati, tetapi ia tidak memeluk agama Islam, Tuhan tidak akan mengazabnya. Berdasarkan firman Tuhan —Kami tidak akan mengazab mereka sebelum Kami bangkitkan Rasul (Al:Isra 15)— dan kaidah Ushul yang menyatakan “buruknya sanksi tanpa keterangan”, mustahil Tuhan menghukum orang di luar kemampuannya. Bila seseorang hanya mampu mengetahui kebenaran Kristen, misalnya, dan mengikutinya dengan setia, pada hakikatnya ia sudah menerima Islam dalam pengertian kepasrahan yang tulus.

Muthahhari memberikan contoh Descartes. Dalam pencarian kebenaran, Descartes menerima Kristen sebagai agama yang benar, seraya mengatakan bahwa itulah agama yang dikenalnya dengan baik. Ia tidak menolak kemungkinan agama lain juga benar, hanya saja ia tidak mengetahuinya.

Muthahhari menulis, “orang-orang seperti Descartes tidak mungkin kita sebut kafir, karena mereka tidak mempunyai sifat membangkang kepada kebenaran dan tidak menyembunyikan kebenaran. Bukankah kekafiran adalah pembangkangan dan penutupan kebenaran. Mereka adalah Muslim secara fitriah. Jika kita tidak dapat menyebut mereka Muslim, kita juga tidak dapat menyebut mereka kafir.

Dalam pandangan kelompok al-mutasyaddidun —menurut sebutan Muthahhari— Descartes tetap saja kafir. Amal salehnya tidak akan diterima Allah. Akhirnya ia masuk neraka. Ada lagi kelompok yang lebih menyempitkan lagi pengertian Islam. Buat mereka, yang diterima Allah hanyalah Islam yang benar; yakni, yang mengikuti paham kelompok-nya. Orang Sunni menganggap amal saleh orang Syiah tidak akan diterima Allah. Orang Syiah beranggapan amal saleh orang Sunni justru akan ditolak. Di Indonesia, Islam yang diterima dibatasi jauh lebih sempit lagi— pada kotak kecil yang bernama jamaah, harakah, atau kelompok satu imam.

Alkisah, Imam Ja’far al-Shadiq ingin menasehati kelompok mutasyaddidun, yang menganggap bahwa orang yang tidak mengenal imamah adalah kafir. Kita turunkan kembali dialog antara Imam dengan para pengikutnya :

Pada suatu hari, aku (Hasyim), Muhammad bin Muslim, Abu Al-Khattab, sedang berkumpul. Abu Al-Khattab berkata kepada kami: Apa pendapat kalian tentang orang yang tidak mengetahui urusan ini (imamah)? Aku berkata: Barang siapa yang tidak mengetahui urusan ini, ia kafir. Berkata Abu Al-Khattab: Tidak disebut kafir sebelum tegak di atasnya hujjah (keterangan). Bila sudah tegak keterangan tapi ia tidak mengetahuinya, ia kafir. Berkata kepadanya Muhammad bin Muslim: Subhanallah, bagaimana kau sebut kafir orang yang tidak mengetahui dan tidak membangkang? Tidak disebut kafir orang yang tidak membangkang. Ia berkata: Setelah aku berdebat, aku masuk ke kediaman Abu Abdillah as dan aku kabarkan kepadanya peristiwa itu. Imam berkata: Kamu hadir sekarang ini tapi kedua orang sahabatmu tidak ada. Marilah kita bertemu dan tempat pertemuan kalian adalah malam ini di Jumrah Wustha, Mina.

Pada malam tersebut, kami berkumpul di hadapannya bersama Abu Al-Khattab dan Muhammad bin Muslim. Ia mengambil bantal dan meletakkannya di dadanya seraya berkata kepada kami: Bagaimana pendapat kalian tentang pembantu kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian. Apakah mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah? Aku (Hasyim) berkata: Benar. Ia bersabda: Bukankah mereka bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah? Aku berkata: Benar. Ia bersabda: Bukankah mereka salat, puasa, dan haji? Aku berkata: Benar. Ia bersabda: Apakah mereka mengetahui Imamah yang kalian ketahui? Aku berkata: Tidak. Ia bersabda: Bagaimana mereka menurut kalian? Aku berkata: Barangsiapa yang tidak mengetahui dia kafir. Ia bersabda: Subhanallah, apakah kau mengenal para petunjuk jalan dan para pelayan air? Aku berkata: Benar. Ia bersabda: Bukankah mereka salat, puasa, dan haji? Bukankah mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Aku berkata: Benar. Ia bersabda: Apakah mereka mengetahui apa yang kalian ketahui? Aku berkata: Tidak. Bagaimana mereka menurut kalian? Aku berkata: Barangsiapa yang tidak tahu dia kafir.

Ia bersabda: Subhanallah, tidakkah kamu lihat Ka’bah dan orang-orang yang thawaf serta penduduk Yaman dan keadaan mereka ketika bergantung di tirai Ka’bah? Aku berkata: Benar. Ia bersabda: Bukankah mereka bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, salat, saum, dan haji? Aku berkata: Benar. Ia bersabda: Apakah mereka mengetahui apa yang kalian ketahui? Aku berkata: Tidak. Ia bersabda: Bagaimana pendapat kalian tentang mereka? Aku berkata: Barangsiapa yang tidak mengetahui, ia kafir.

Subhanallah, ini ucapan Khawarij. Kemudian ia bersabda: Jika kalian mau aku akan beritahukan kepada kalian. Aku berkata: Tidak. (Menurut Almarhum Al-Faydh, Hasyim mengatakan tidak karena ia tahu bahwa Imam akan mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan pendapatnya). Imam bersabda: Sangat buruklah bagi kalian untuk mengatakan sesuatu yang tidak kalian dengar dari kami.

Pelajaran dari kisah ini sederhana saja. Kita tidak boleh menetapkan seorang kafir karena tidak mengetahui keyakinan yang kita ketahui. Orang-orang yang disebut Imam Ja’far sebagai orang —orang yang salat, saum, haji, dan menangis ketika bergantung pada tirai Ka’bah tidak boleh serta-merta disebut kafir, hanya karena mereka tidak meyakini Imamah yang diyakini oleh orang-orang Syiah. Bandingkanlah dengan sebagaian saudara kita yang “sangat saleh” yang menetapkan dengan tegas bahwa Syiah itu kafir dan bahkan halal darahnya. Setelah menyimak tulisan berikutnya, maukah Anda menyebut Thabathabai —mufasir Syiah mutakhir— sebagai seorang kafir?

 

[KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI]

 

Fri, 23 Nov 2018 @19:52

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved