MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Politisi Sebar Fitnah terhadap Muslim Syiah

image

“Agama Syiah sedang mau menunjukkan dirinya dan mempublikasikan kesesatannya. Banyak sekali kesesatan agama Syiah, yang sangat berbahaya untuk umat Islam dan kesatuan NKRI. Salah satunya, ditampilkan di Trans7 waktu itu.” Demikian kalimat yang saya baca dalam sebuah forum diksusi maya (mailing list).

Berita yang sama, saya dapatkan dari SMS yang berasal dari aktivis PKS: “Bismillah, berita dari Ust Muh Elvy Syam: mari kita dukung tayangan khazanah Trans7 dengan cara memberi SMS dukungan kepada KPI: kami Umat Islam Indonesia sangat mendukung acara khazanah Trans7 yang mengupas kesesatan hari raya Idul Ghadir. Sebab idul ghadir yang berisi cacian kepada sahabat Nabi tidak pernah ada dalam Islam…..” dan seterusnya (maaf tidak saya salin, provokatif kalimat lanjutannya).

DAPAT info di atas saya hanya senyum. Saya ingat dengan pelajaran ketika kuliah di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Setahu saya dan memang tercatat dalam buku-buku ilmu kalam, buku-buku mazhab fikih, dan buku-buku sejarah Islam bahwa Syiah itu mazhab, bukan agama. Hanya memang ada banyak alirannya. Ada yang keras dan ada yang moderat. 

Syiah itu Islam karena yang disembah oleh pengikut mazhab Syiah adalah Allah dan Nabi pembawa risalah Allah itu Nabi Muhammad saw. Hanya mereka anggap ada Imam-imam dari Ahlulbait/keluarga Nabi yang lanjutkan misi Nabi sampai kiamat kelak dengan datangnya Imam Mahdi. Mungkin kalau memuliakan daripada sahabat, tentu ini layak disematkan pada Syiah. Karena pengikut Syiah memuliakan Ahlul Bait didasarkan nash dan kecintaan. Saya kira itu tidak masuk syirik dan masih wajar seorang kekasih mencintai dan mengidolakan yang dikasihinya atau sosok yang dicintanya. Yang mungkin tidak wajar adalah mempertuhankannya. Saya kira Muslim Syiah di Indonesia tidak demikian.

Begitu juga Kitab suci yang digunakan mereka sama, yaitu Al-Quran. Hadis yang digunakan juga masih dari Rasulullah saw yang jalur riwayatnya dari sahabat dan keluarga Nabi. Saya pernah lihat kitab tafsir Mizan, ayat yg ditafsirkan sama persis dgn ayat Quran yang beredar di Indonesia dimulai dengan surah fatihah berakhir denan surah annas.

Tentang Al-Ghadir, yang saya baca dalam buku sejarah Muhammad saw karya Jafar Subhani bahwa itu banyak riwayatnya. Kalau tak salah sampai 110 sahabat dan tabiin yang riwayatkannya.

Kemudian acara di Jakarta, yang diselenggarakan oleh IJABI dihadiri tokoh NU, Muhammadiyah, perwakilan Jokowi, dan Engkong Ridwan Saidi, tokoh Islam Jakarta. Saya lihat acaranya dimulai dengan baca Quran, shalawat, dan diakhiri doa. Tidak ada yang melenceng dari ajaran Islam.

Saya tidak mendengar seruan caci maki seperti yang dituduhkan dalam SMS di atas. Seminar pun tajuknya Persatuan Umat. Jadi, isinya seruan untuk merajut ukhuwah dan persaudaraan. Terbukti dengan hadirnya perwakilan NU dan Muhammadiyah, dua ormas yang mewakili mazhab Sunni atau Ahlussunah.

Ketika selesai acara sekira zuhur, jamaah Seminar Al-Ghadr menyelenggarakan shalat berjamaah. Bedanya, hanya tangannya yang lurus ke bawah. Muslimin Syiah yang saya lihat pada waktu itu dalam shalat tangannya tidak disimpan pada perut. Tangannya  lurus ke bawah. Cara shalat yang begitu dilakukan juga oleh pengikut mazhab Maliki di Spanyol dan Madinah. Semua ulama Islam sepakat kalau mazhab Maliki itu bagian dari Islam dan masuk kategori Ahlussunah.

Tayangan Trans7 yang menyebutkan Syiah bukan Islam itu saya kira sebuah kesalahan dalam kode etik jurnalis. Mengambil gambar acara IJABI, tetapi dengan konten suara yang disampaikan tidak sesuai dengan peristiwanya. Mereka mengambil informasi tentang Syiah dari orang yang bukan pengikut Syiah sehingga yang kekuar berupa pernyataan yang merugikan kaum Muslim Syiah.

Seharusnya tokoh Islam Syiah langsung ditanya dan diwawancarai seperti pengurus IJABI dan ABI. Keduanya adalah ormas resmi di Indonesia. Kenapa ambil sumber informasi dari orang yang bukan Syiah? Malah ambil dari yang benci, yang pasti isinya penuh kebencian dan provokasi orang untuk benci. Kalau yang demikian, saya kira akan runtuhkan NKRI. Muslim dengan Muslim akan konflik kalau terus diedukasi dengan informasi yang tidak benar. Saya kira pihak yang benci Syiah harus tabayun/konfirmasi langsung kepada pengikut Islam Syiah Indonesia: anggota IJABI dan ABI, termasuk pada ustadz-ustadznya. Sehingga jelas persoalannya. Bukankah itu prinsip Islam?

Ormas ABI telah membuat satu buku yang menjawab seluruh fitnah yang selama ini dialamatkan pada Syiah. Bukunya berjudul Buku Putih Mazhab Syiah. Buku ini dengan jelas menyebutkan sumber dalil Syiah diambil dari Quran dan riwayat Rasulullah saw, bahkan dari hadis-hadis Bukhari dan Muslim serta ulama Ahlussunah lainnya. Saya kira bagi saya yang awam atau Anda, cukup baca buku tersebut kemudian kalau ada waktu dialog dengan orang yang mewakili Muslim Syiah. Silaturahim ke kantor IJABI dan ABI pasti bisa. Itu juga kalau mau melakukan tabayun. Kalau mau jatuh pada fitnah, ya itu urusan Anda dengan Allah.

Sudahlah kalau memang berbeda pemahaman ajaran Islam, jangan sebut agama tersendiri kepada yang berbeda dalam memahamani ajaran. Jelas-jelas Syiah itu bukan agama. Syiah itu mazhab. Kalau tak salah MUI Pusat pernah sebut begitu oleh KH Umar Shihab yang saat itu menjadi ketuanya. Dalam Risalah Amman juga diakui sebagai Islam. Entahlah… kalau definisi yang disebut Islam itu harus sama dengan yang kita pahami dan cara ibadahnya harus sama dalam gerakan dan bacaan, tentu akan beda penjelasannya.

Apalagi kalau yang menyerunya dari parpol tertentu. Tentu dibalik seruan itu ada ambisi politik dan raih masa. Sudahlah agama jangan dipolitisir. Biarkan Islam itu suci jangan dikotori dengan penafsiran dan perilaku umatnya yang tidak meneladani Rasulullah saw. Kalau memang ada yang keliru dalam mazhab Syiah, silakan undang tokoh Islam Syiah beserta kaum akademisi Islam untuk membuka kembali wacana Islam. MUI juga bisa dilibatkan. Posisinya sebagai mediator bukan sebagai penghakiman terhadap mazhab yang berbeda. Biarkan MUI berada pada fungsinya sebagai majelis yang mewakili seluruh umat Islam di Indonesia.

SUMBER: Kompasiana

Thu, 3 Apr 2014 @23:26

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved