BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Awas Banyak Cerita Fiktif Bertebaran

image

Memang tidak habis-habisnya. Terus saja ada yang coba memperburuk citra Islam Indonesia. Mulai dari cerita fiktif Ibnu Saba sampai Al-Quran yang dianggap beda. Bahkan, tidak tanggung menggelar acara penolakan secara jamaah dengan klaim warga Indonesia. Entahlah akan muncul hal-hal apa lagi yang akan ditebarkan oleh orang-orang pembenci persatuan Umat Islam Indonesia.

Bukan sekadar gerilya dari radio ke radio dan mimbar jumat ke mimbar jumat, bahkan milis dan grup email pun bermunculan. Juga situs-situs baru yang menggunakan istilah dan nama-nama yang berkaitan dengan label Islam diisi  dengan narasi-narasi penuh kebencian. Bahkan, berani melakukan aksi fisik dan menebar ancaman. Entah akan sampai kapan mereka benci terhadap umat Islam?

Berkaitan dengan cerita fiktif, seorang yang menggunakan nama akun Saif_anm dalam Kompasiana yang mengomentari artikel Cerita Polisi dengan Pendemo Anti-Asyura:

“Telah diadakan diskusi antara tujuh ulama Syiah di depan ulama Ahlu Sunnah atas undangan Presiden Iran. Diskusi ini diadakan untuk mengetahui titik perbedaan antara dua kelompok tersebut.nnKetika seluruh ulama Syiah telah hadir, akan tetapi tak satupun ulama Sunni yang datang.nnTiba-tiba masuklah seorang yang membawa sepatu di bawah ketiaknya. Ulama Syiah terheran-heran, kemudian mereka bertanya, “Kenapa kamu membawa sepatumu?”

Orang itu menjawab: “Saya tahu bahwa orang Syiah itu suka mencuri sandal di zaman Rasulullah.”nnUlama Syiah saling pandang terheran-heran akan jawaban itu. Mereka kemudian berkata: “Tapi di zaman Rasul belum ada Syiah…”nnOrang itu menjawab lagi: “Kalau begitu diskusi telah selesai. Dari manakah datangnya ajaran agama kalian? Kalau di zaman Rasulullah tidak Ada Syiah.”nnSemua ulama Syiah diam.nnTernyata orang yang datang membawa sepatu tersebut adalah Ahmad Deedat, da’i besar dan Kristolog dunia. Rahimahullah .

KEMUDIAN ditanggapi lagi oleh seseorang: “Saya dengar cerita yg disebutkan Saif itu saat diskusi di UIN Bdg ttg buku KESESATAN SUNNI syiah. Itu dari Dr.Engkos Kosasih yang menyampaikannya dalam diskusi. Saat ditanya oleh seorang Ustadz yg jadi peserta diskusi perihal data/sumbernya, Engkos yg menyampaikannya ngaku itu hanya guyonan dan tak bersumber.”

Seorang kawan dalam mailing list mengomentari bahwa sangat kelihatan tidak orisinal alias tidak nyata (cerita yang disampaikan di atas oleh Saif dan Engkos).

Pertama, Ahmad Deedat mendukung Revolusi Iran dan hadir dalam undangan Imam Khumaini. Beliau termasuk pendukung ‘taqrib baynal mazahib fil Islam’ (pendekatan antar mazhab dalam Islam).

Kedua, para ulama Syiah kebanyakan orang-orang yang sangat tahu sejarah. Sudah menjadi kesepakatan di kalangan Syiah, khususnya di antara para ulamanya bahwa Syiah, setidaknya, bibitnya atau cikal bakalnya sudah ada sejak zaman Rasulullah saw.

Baginda Nabi tidak jarang menyebut ‘Ali dan Syiahmu atau Sahabat-sahabatmu’ di masa beliau masih hidup. Nampaknya Baginda tahu bahwa Empat Pilar Syiah (Salman, Abu Zar, Ammar bin Yasir dan Miqdad) sudah ‘lekat’ dengan Imam Ali bahkan di saat Rasulullah sudah ada.

Ketiga, yang sering ditemukan justru kisah para ulama Sunni yang terdiam menghadapi ulama Syiah (lihat antara lain ‘Peshawar Night’) seperti kisah di bawah ini.

Ada ulama Syiah yang diundang jamuan makan oleh para ulama Sunni. Seorang ulama Sunni bilang ke ulama Syiah,”Nanti di jamuan jangan diskusi ya.” Ulama Syiah menjawab: “Baik”.

Namun tengah makan, ulama Sunni tidak tahan juga. Kemudian tanya: “Menurutmu siapa yang utama antara Ali dan Abu Bakar?”

Dijawab oleh ulama Syiah: “Tentunya Abu Bakar.”

“Bukankah Ali yang lebih utama menurut Syiah,” tanya ulama Sunni heran.

Ulama Syiah menjawab: “Bukan saja lebih utama dari Ali, bahkan dari Rasulullah saw.”

“Wah kamu keliru,” komentar ulama Sunni.

Ulama Syiah itu menjawab: “Tidak. Kita tahu bahwa saat akan wafat Abu Bakar masih sempat menunjuk Umar bin Khaththab sebagai penggantinya. Sementara, Rasulullah saw tidak  menunjuk siapa pun sebagai penggantinya.”

Mendengar itu, ulama Sunni terdiam. Cerita ini bisa dilihat pada buku karya Syaikh Muhammad Tijani As-Samawi. Silakan baca bukunya: Spiritual Traveller (yang diterbitkan Misykat) dan Bersama Orang-orang Yang Benar  (yang diterbitkan Zahra).

Sekadar tambahan, ada video dialog Kang Jalal dengan Nabhan Husen di ANTV. Dialog di TV Kompas dan diskusi yang di gelar di UIN Bandung antara Kang Jalal dengan Athian dari Forum Ulama dan Umat Islam (FUUI). Terlihat betapa tidak cerdas Athian dan Nabhan saat melawan Kang Jalal. Dialog orang Syiah dengan Sunni atau Wahabi sangat terlihat cerdas dan menguasai sumber rujukan. Hampir daam setiap dialog biasanya dari sisil ilmu, orang Syiah yang lebih unggul. Bacalah buku-buku karya Muhammad Babul Ulum dan buku karya penulis ABI: Syiah Menurut Syiah. Sangat kuat dan memiliki hujah yang ilmiah.

Dalam yutub memang ada diskusi Kang Jalal di Makassar. Hanya saja video tersebut sudah dipotong-potong dan tampak seolah-olah Kang Jalal kewalahan. Berdasarkan informasu yang hadir dalam acara diskusi di Makassar bahwa Kang Jalal mematahkan argumen kaum takfiri.

Cerita Fiktif

Sempat ada cerita fiktif yang dimuat dalam sebuah media yang tidak pernah terbit lagi. Kini beredar lagi dalam media sosial. Isi ceritanya tentang seorang perempuan yang kena penyakit kelamin gara-gara nikah mutah. Dari ceritanya tidak jelas sosok wanita dan dokternya. Benar-benar fiktif karena nama jalan dan asrama pun hanya dibuat saja alias tidak ada lokasinya. Dari narasi sangat mirip cerita pendek (cerpen). Yang tampaknya dibuat oleh penulisnya (dan lagi-lagi tidak diketahui orangnya) untuk membuat citra mazhab Syiah menjadi buruk. Apalagi menyebut nama panggilan dari tokoh Syiah Indonesia yang menjadi tempat mengaji dari perempuan dalam cerita fiktif tersebut. Ketahuilah bahwa nikah mutah yang disebutkan dalam cerita fiktif tersebut sangat jauh dari tuntunan syariat Islam yang tercantum dalam kitab Fikih Imam Jafar Ash-Shadiq atau pemahaman para ulama Syiah yang muktabar. 

 Cerita fiktif juga tentang seorang laki-laki yang nikah mutah dengan adiknya karena di malam hari sehingga tidak diketahui siapa perempuannya. Kalau dibaca ceritanya mirip pelacuran. Aneh sekali kalau dihubungkan dengan nikah mutah yang tercantum dalam surah Annisa ayat 24 atau yang tercantum dalam fikih Jafari sangat tidak sesuai dengan ketentuan fikih. Orang yang tidak mengerti fikih Jafari pasti akan mudah dibohongi. Namun, untuk yang menggunakan akal sehatnya atau yang belajar Islam secara komprehensif pasti akan segera menolaknya. Belajarlah menimbang segala sesuatu yang terkait dengan agama menggunakan akal sehat dan akal yang jernih; jika tidak mampu menggali informasi dari sumber yang otentik dan valid.

Kemudian cerita fiktif Aisyah yang debat dengan ustadz Syiah yang beredar di facebook. Saat ditelaah sangat jelas fiktif karena tidak ada detail dari kejadian tersebut. Kalau faktual harusnya ada detail tempat dan hari serta bukti dari terjadinya dialog tersebut. Lagi-lagi itu fiktif untuk mengecoh orang awam dalam agama supaya benci Syiah. Fitnah dan fitnah. Itulah yang dilakukan kaum takfiri terhadap Syiah. Fitnah kaum takfiri jelas menunjukkan mereka tidak mampu melawan argumen dan dalil dari mazhab Syiah yang kuat dan ilmiah. 

Syaikh Idahram

Saya teringat dengan karya Syaikh Idahram yang berjudul Mereka Memalsukan Kitab-Kitab karya Ulama Klasik: Episode Kebohongan Publik Sekte Wahabi (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2011).

Dalam buku ini, Syaikh Idahram menunjukan bagaimana kaum Wahabi memalsukan, memotong, mengganti, dan mengubah teks-teks dalam sejumlah kitab klasik seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Diwan Imam Syafii, Tarikh Yaqubi, dan lainnya. Karya ulama Sunni saja oleh mereka dipalsukan, apalagi kitab-kitab dan riwayat dari Ahlul Bait yang mereka benci, pastinya tidak mereka biarkan. 

Pernah Ayatullah Jafar Subhani membuat surat resmi dalam situsnya bahwa ada buku berbahasa Parsi dan Arab tentang Nahjul Balaghah yang ditulis atas namanya. Kalau dilihat isinya justru tidak mencerminkan pemikiran dan pemahaman Jafar Subhani yang selama ini ditulis dan disampaikan. Beliau dengan tegas menyatakan itu bukan karyanya, tetapi ada orang/lembaga yang dengan sengaja ingin menghancurkan Islam dengan menyerang Syiah.

Setiap kali kaum takfiri dan Wahabi berulah, ternyata ketahuan dan terbongkor makarnya. Insya Allah, semakin banyak kita belajar agama dari narasumber yang benar dan terpercaya akan terus terbuka dan mengetahui kebenaran sekaligus mampu mengenali yang benar dan yang salah.

Hal-hal yang disebutkan di atas merupakan bagian dari gerakan kaum takfiri dan musuh-musuh Islam yang hendak memusuhi kaum Muslimin Syiah. Indonesia negeri yang plural. Sudah sejak lama Islam mazhab Syiah masuk dan menjadi bagian dari khazanah Islam Nusantara.

Tokoh seperti Engkong Ridwan Saidi mengakui dalam seminar internasional di Jakarta bahwa Islam mazhab Syiah adalah bagian dari khazanah budaya Islam Indonesia.

Begitu juga para penulis sejarah seperti Agus Sunyoto, Azyumardi Azra, Muhammad Zafar Iqbal, Abu Bakar Atjeh, dan lainnya. Bahkan LIPI sebagai lembaga ilmiah mengkajinya hingga melahirkan buku yang berjudul: Syiah dan Politik di Indonesia.

(Ikhwan Mustafa, kontributor Misykat)

  

Tue, 20 Jun 2017 @13:29

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved