AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Dua Versi Kelahiran Nabi Muhammad saw [Dewa Gilang]

image

Menurut mazhab Ahlul Bait, Rasulullah lahir pada 17 Rabi’ul Awwal. Namun, menurut mazhab yang lebih populer, 12 Rabi’ul Awwal. Jadi Rasulullah -karena perbedaan mazhab - dilahirkan dua kali. Oleh sebab itu, di Iran, pada setiap tahunnya berlangsung Konfrensi Wahdah yang menggabungkan dua mazhab di atas. Konfrensi itu diadakan pada 12-17 Rabi’ul Awwal.

Konon, ketika Rasul dilahirkan, Abu Jahal menyambut gembira. Ia segera meliburkan budaknya untuk membantu ibunda Nabi. Konon pula, karena kebaikannya itu, setiap hari Senin siksa neraka diangkat dari Abu Jahal. Terlepas benar-tidaknya kisah yang meragukan itu, inilah Maulid pertama di muka bumi. Belakangan Maulid bak menjadi tradisi dan menyebar di seluruh negeri.

Menurut orientalis Annemarie Schimmel, semua peringatan Maulid Nabi di mana pun di dunia Islam mempunyai tiga ciri khas yang sama. Pertama, disampaikannya shalawat dan salam kepada Rasul. Kedua, dibagikannya makanan kepada orang yang hadir. Ketiga, dibacakannya penggalan riwayat kehidupan Nabi.

Mengapa membaca shalawat? Syahdan setelah Nabi hijrah ke Madinah, Nabi mendirikan masjid. Masjid itu sangat sederhana, beralaskan tanah beratapkan langit. Di tengah-tengah masjid Nabi, sekarang ada ruang dengan atap seperti payung yang bisa dibuka. Dahulu pada zaman Nabi, di tempat itu ada kebun kurma. Ketika Nabi berkhotbah, Beliau selalu bersandar pada satu batang pohon kurma, di sebelah kanan yang sekarang kita kenal sebagai mihrab Nabi.

Ketika jumlah jamaah bertambah, orang-orang berdesakan sampai ke ujung masjid. Mereka yang duduk paling jauh dari Nabi tidak bisa lagi melihat wajahnya. Para sahabat mengusulkan untuk membuat mimbar. Di atas mimbar itu, Nabi dapat sesekali duduk beristirahat. Karena posisi mimbar lebih tinggi daripada tempat duduk jamaah, maka semua hadirin dapat melihat Nabi. Nabi menyetujuinya.

Pada suatu hari Jumat, setelah mimbar dibuat, tiba-tiba terdengar tangisan keras nan merintih. Tangisan itu lama-kelamaan makin keras. Nabi pun turun dari mimbarnya. Beliau mendekati pohon kurma. Beliau meletakkan tangannya yang mulia pada batang kurma itu, mengusapnya, dan kemudian memeluknya.

Perlahan-lahan tangisan itu mereda. Para sahabat mendengar Nabi berbicara kepada pohon kurma itu. “Maukah kamu aku pindahkan ke kebun semula, berbuah dan memberikan makanan kepada kaum mukmin atau aku pindahkan ke surga? Kurma itu memilih yang kedua.

Tahukah anda mengapa kurma itu merintih? Rasul bersabda, “Karena kerinduannya kepada Rasul!” Pohon kurma itu merintih karena rindunya pada Nabi, lalu bagaimana dengan kita? Nenek saya di kampung lebih memilih membaca shalawat dan salam kepada Nabi, khususnya di bulan kelahiran Beliau. Ia tak mampu merintih, memelas layaknya pohon kurma itu, tetapi bibir tuanya senantiasa menggumamkan shalawat. Shallu a’la Nabi wa Alihi!

Kini zaman telah berganti. Dahulu orang tua kita rela kehilangan harta ketimbang melewatkan syahdunya bulan Maulid. Namun, kini, sekelompok ustad muda berteriak-teriak mengatakan bahwa merayakan Maulid adalah bid’ah. Pelakunya bisa masuk neraka.

Anehnya, jika merayakan Maulid Nabi adalah bid’ah, tetapi tidak jika merayakan Maulid para raja-raja mereka. Merayakan Maulid Nabi terancan neraka, tetapi tidak bila merayakan Maulid partai-partai mereka. Sungguh aneh bukan?

Saat bid’ah itu saya sampaikan ke telinga nenek saya, ia hanya menatap sendu kepada saya. Setengah berbisik ia berucap, “Tidak bolehkah bila nenek mengucap syukur atas kelahiran Nabi dan menyatakan cinta kepada Beliau dengan cara yang nenek ketahui?”.

Nenek benar! Ia mungkin tidak sefasih ustad-ustad itu mengutip dalil-dalil agama, tetapi dengan kepolosannya ia mampu “mengejawantahkan” hadis Nabi, “Man Ahabbani Kana Ma’i fi Al-Jannah”. Barang siapa yang mencintaimu, ia niscaya besertaku di surga!.

Di balik kepolosannya, nenek mampu menemukan arti cinta pada Nabi. Selamat Maulid wahai kekasih Allah. Labaik Ya Rasulullah. Allahumma Shali a’la Muhammad, Wa a’la Ali Muhammad.

Gitu aja koq repot!

Sumber: Dewa Gilang

Sat, 10 Dec 2016 @23:55

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved