Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Tenanglah, Anak Muda [by Miftah F.Rakhmat]

image

Berpergian itu menyehatkan jiwa. Ia makanan ruh yang terlupa. Bukan saja kita perlu belajar lepas dari keterikatan 'rumah' sementara kita, kita juga wajib mengumpulkan hikmah yang tersebar di semesta. Bukankah ia perbendaharaan yang hilang dari orang yang beriman, bukankah luas tak berbilang indahnya bumi Tuhan? Bukankah cinta itu hadir di beragam kesempatan, bukankah rindu kampung halaman mengingatkan kesejatian tempat berpulang..?

Setiap kali akan mendarat, sebuah maskapai penerbangan akan memutarkan lagu Frank Sinatra berikut ini.

It's very nice to go travelling
To Paris, London and Rome
It's oh so nice to go travelling
But it's so much nicer
Yes it's so much nicer to come home...

It's very nice to just wander
The camel route to Iraq
It's oh so nice to just wander
But it's so much nicer
Yes, it's so nice to wander back...
 

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bergerak. Tiada yang menetap pada dirinya kecuali hasrat untuk terus menuju, pada sesuatu yang dicintainya, yang membahagiakannya, yang membantu kesempurnaannya setinggi-tingginya. Berpergian membawa kita pada cerminan apa yang bisa dilakukan manusia. Bagaimana batas-batas sempit itu hilang. Bagaimana rintangan itu ditaklukkan. Bagaimana tekad yang kuat mengalahkan beragam alasan. Bagaimana manusia dapat berada pada setinggi-tingginya derajat kemuliaan.

Seperti satu saat, saya tepekur di depan nisan seorang guru besar, Allamah Burujerdi. Ia telah kembali ke pangkuan Kekasih Sejati limapuluh tahun yang lalu, tapi bagian dari kisahnya tak lekang menghentak saya. Ia seorang marja' besar. Rujukan umat di berbagai tempat. Ia satu di antara guru Imam Khumaini. Serban hitam di kepalanya perlambang keturunan Sang Nabi suci.

Saya berziarah. Saya bacakan Al-Fatihah sekali dan Al-Ikhlash tiga kali. Saya hadiahkan pada ruhnya yang kini menemukan tempat terbaik kembalinya. Lalu saya melihat diri saya dan ketidakmampuan menundukkannya, sebagaimana Sang Allamah pernah melakukannya.

Satu saat, ia sedang mengajar. Seorang ulama besar di hadapan ratusan murid-muridnya. Tiba-tiba seorang anak muda berdiri, menginterupsi, dan menyampaikan keberatannya pada apa yang disampaikan sang guru. Allamah Burujerdi menjawabnya. Anak muda itu menyanggah lagi kali yang kedua. Sang Allamah juga menjawabnya. Tapi manakala ia menyela ketiga kalinya, Sang Allamah berkata, "Tenanglah, anak muda." Nada bicaranya terdengar agak meninggi.

Sepertinya, Allamah menyadari sesuatu. Raut mukanya tiba-tiba berubah. Ia selesaikan khotbahnya. Ia panggil anak muda itu. Dan di hadapan semua mata yang menyaksikan, Allamah membungkuk dan mencium tangan anak muda itu. Ia lepaskan jubahnya, menyematkannya kepada penanya yang keheranan menerimanya. Allamah juga memberikan sejumlah uang kepadanya. Kemudian ia berkata kepadanya, "Maafkan kesalahan seorang Burujerdi. Aku tidak mengerti bagaimana kuasa atas diri tergelincir dari tanganku. Aku tidak tahu mengapa tadi aku memintamu diam di majelisku."

Untuk menebus 'kesalahannya', Allamah meminta maaf dan memberikan penghormatan kepadanya. Tidak cukup itu, mulai keesokan harinya, ia menjalankan kifarat berpuasa setahun penuh. Tebusan atas 'dosa' satu saat. Bayaran atas lepasnya satu kalimat, "Tenanglah, anak muda..."

Saya tepekur membayangkan, betapa banyak kata-kata anakku yang tak kudengar. Betapa sering ia menyelaku dan kuminta diam. Betapa banyak ia memohon perhatianku dan tak kuberi jawaban. Ya Allah, kifarat seperti apa yang harus kulakukan? Tebusan dosa yang bagaimanakah yang akan membayar penyesalan...sungguh, betapa sering kendali jiwa ini lepas dari genggaman...

Maafkanlah seorang Miftah, duhai anakku sayang...

(The Prophetic Wisdom 16 Jan 14; Miftah F. Rakhmat)

Wed, 13 Feb 2019 @20:00

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved