CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Hiriz Rasulullah Saw [KH Jalaluddin Rakhmat]

image

KALI ini saya akan membicarakan sejenis doa yang di dalam istilah para ulama disebut dengan Hiriz. Doa-doa lain dalam jenis itu disebut adalah Hizb, istiadzah dan Doa Kemenangan. Semua doa itu merupakan doa permohonan perlindungan seorang manusia yang lemah kepada Allah yang Mahaperkasa dalam menghadapi berbagai ancaman, bencana, atau hal-hal yang buruk yang dikuatirkan menimpanya.

Hiriz merupakan doa preventif. Artinya, sebelum terjadi sesuatu yang menakutkan dan mengancam kita, kita membentengi diri kita dengan Hiriz. Jika sesuatu itu sudah terjadi, dan kita ingin dilepaskan oleh Tuhan dari hal itu, maka kita memohon dengan Doa Kemenangan. Jika kita sedang berhadapan dengan lawan atau dikelilingi oleh musuh, dan kita ingin melindungi diri kita dari serangan mereka, kita memohon dengan Hizb. Adapun yang akan kita bahas berikut ini adalah Hiriz. Hiriz adalah doa untuk melindungi diri kita atau orang lain dari ancaman bahaya yang akan dihadapi.

Semua doa tersebut di atas (Hiriz, Hizb, istiadzah , dan Doa Kemenangan) adalah bagian dari doa perlindungan secara umum yang kita sebut dengan istiadzah. Istiadzah selain berarti berlindung juga berarti menempel. Potongan daging yang menempel kepada tulang dalam bahasa Arab disebut isti’adzah . Oleh karena itu, perlindungan berarti menempelkan diri kita kepada sesuatu atau seseorang yang lebih perkasa dan kuat seperti menempelnya daging kepada tulang. Secara istilah, isti’adzah berarti doa-doa yang bisa kita bacakan atau tuliskan untuk melindungi seseorang atau sesuatu.

Ketika Sayyidah Aminah as sedang mengandung Rasulullah saw, ia bermimpi didatangi seseorang yang menyuruhnya untuk menggantungkan Hiriz atau doa perlindungan pada leher Rasulullah saw ketika ia lahir. Kemudian, Aminah as terbangun dan melihat satu serpihan besi kecil yang di dalamnya ada tulisan doa.

Zaman dahulu, sebagian orang Indonesia meniru hal itu dengan menggantungkan kalimat-kalimat suci di leher anaknya untuk melindungi anak itu. Hal itu bukan musyrik dan ada contohnya dari Rasulullah saw. Rasulullah saw yang sangat dicintai oleh Allah swt saja masih harus diberikan isti’adzah , apalagi manusia biasa seperti kita.

Hiriz Nabi yang digantungkan Aminah as itu antara lain berbunyi: Aku mohonkan perlindungan kepada Allah untuk Muhammad bin Aminah dari setiap orang yang dengki, baik dia sedang menjalankan kedengkiannya maupun dia sedang duduk, atau orang yang berusaha menimbulkan kerusakan, dari kalangan tukang-tukang sihir, dan dari setiap makhluk yang berbuat maksiat (yang memberontak kepada Tuhan), yang selalu siap menghadang di jalan-jalan yang dilewati.

Kita memohon perlindungan dari gangguan setan, baik dalam bentuk jin maupun manusia. Namun dalam doa perlindungan untuk Rasulullah saw, pertama kali dimohonkan perlindungan dari manusia-manusia yang dengki. Kita dianjurkan untuk memohon perlindungan dari para pendengki. Biasanya makin tinggi kedudukan seseorang, makin banyak para pendengkinya. Apalagi seseorang dengan kedudukan seperti Rasulullah saw, kedudukan Sayyidul Anam, junjungan seluruh amal semesta. Tentu saja, orang yang mendengki Rasulullah saw juga luar biasa.

Sejarah kecelakaan manusia sejak awal selalu diakibatkan oleh ulah para pendengki. Iblis menjatuhkan Adam as dari surga karena kedengkiannya. Ia iri hati kepada Adam yang dijadikan khalifah oleh Tuhan. Oleh karena itulah kepada Rasulullah saw diberikan Hiriz untuk melindunginya dari setiap kejahatan para pendengki, baik yang sedang menjalankan kedengkiannya melalui rekaperdaya maupun yang sedang diam; untuk melindunginya dari pendengki aktif dan pendengki pasif.

Seorang ustadz pernah menasehati saya agar mendoakan bayi yang baru lahir dengan doa supaya banyak orang yang mendengkinya. Alasannya, jika seseorang banyak pendengkinya, kedudukannya akan makin tinggi. Saya kira ustadz itu keliru karena sebetulnya seseorang banyak didengki itu karena posisinya yang tinggi. Bukan karena banyak didengki lalu posisinya menjadi tinggi.

Setiap kemajuan, baik kemajuan material maupun kemajuan ruhaniah, akan selalu mendatangkan pendengki. Untuk melindungi dari hal itu, Al-Quran memberikan kita salah satu doa yang disebut Mu awidzah, yaitu surat Al-Falaq. Dalam Al-Falaq disebutkan: Katakanlah: aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang meniup dalam ikatan, dan dari kejahatan orang yang dengki dan apabila ia dengki. (QS. Al-Falaq 1-5)

Sebelum tidur kita dianjurkan untuk membaca Mu awidzatain atau dua buah Mu awidzah; yaitu surat Al-Falaq dan Al-Nas. Surat Al-Falaq diakhiri dengan meminta perlindungan dari para pendengki sementara Al-Nas diawali dengan meminta perlindungan dari semua setan yang akan menyesatkan kita, baik berupa jin maupun manusia.

Dalam hadis-hadis yang diriwayatkan baik oleh Ahlus Sunnah maupun Ahlul Bait, kita temukan keterangan bahwa ketika kita membaca Mu awidzatain itu, kita dianjurkan untuk meniup tangan kita dan mengusapkannya ke wajah dan tubuh kita. Mu awidzatain termasuk Hiriz.

Hiriz Rasulullah saw selanjutnya meminta perlindungan dari orang-orang yang menimbulkan kerusakan atau kecelakaan. Orang-orang yang dengki sebetulnya berusaha menimbulkan kerusakan pada diri kita. Jika kita kaya, mereka akan berusaha membuat kekayaan kita musnah. Kalau kita cantik, mereka akan berusaha untuk menghilangkan kecantikan kita. Orang yang dengki hanya akan puas dan tentram hatinya bila ia melihat kerusakan pada orang yang didengkinya.

Kedengkian terjadi juga di antara para ulama. Banyak derita ulama disebabkan karena kedengkian rekan sejawatnya. Seperti yang terjadi pada seorang ulama bernama Al-Marasyi. Dahulu, Al-Marasyi adalah ulama yang hijrah dari Iran ke India untuk mengajar di kalangan Ahlus Sunnah. Beliau tidak membawa paham Syiahnya. Ia hanya mengajarkan agama dengan mengikuti mazhab kebanyakan penduduk di situ, yaitu Ahlus Sunnah. Sampai kemudian karena ketinggian ilmunya, ia menjadi seseorang yang sangat dihormati, bahkan oleh para penguasa di zaman itu. Itulah awal bencana baginya.

Ia dihormati penguasa. Raja mengundangnya ke istana dan mau mendengarkan nasihat-nasihatnya. Ulama lain mulai tumbuh rasa dengkinya. Mereka mencari-cari kesalahan Al-Marasyi dan menceritakannya di hadapan penguasa. Akhirnya suatu saat, para ulama itu mendengar bahwa dalam salah satu pengajian, Al-Marasyi menyebut nama Imam Ali dengan diimbuhi kalimat alaihis salam. Mereka langsung menuduh Al-Marasyi menganggap Ali sebagai Nabi, tidak lagi sebagai sahabat. Para ulama lain lalu menyebarkan dan mengembangkan cerita itu.

Tuduhan itu tidak mempan karena Al-Marasyi bisa menjelaskan ceramahnya. Satu saat, ulama yang lain itu berhasil menyusup ke rumah Al-Marasyi dan mencuri salah satu naskah beliau. Mereka menyampaikannya ke hadapan Raja. Naskah itu ternyata naskah Ahlul Bait. Mereka mengatakan bahwa telah ada bukti tentang ke-Syiahan Al-Marasyi. Ia ditangkap dan dihukum dengan siksaan yang mengerikan; ia disiram dengan timah panas sampai daging-dagingnya berserakan. Al-Marasyi menjadi seorang syahid.

Bencana atau kerusakan yang menimpanya diakibatkan oleh rekan sejawatnya yang iri hati akan posisinya yang tinggi. Salah satu cara para pendengki untuk menimbulkan kerusakan adalah dengan menyebarkan desas-desus atau fitnah tentang orang yang didengkinya. Mereka meniup-niup untuk menimbulkan kerusakan. Seperti disebutkan dalam surat Al-Falaq ayat 4:  (Aku berlindung) dari kejahatan orang yang meniup dalam ikatan.

Jjika Anda menjadi pemimpin yang dihormati dan orang mendengki Anda, orang itu akan berusaha menjatuhkan Anda. Orang itu akan meniup-niupkan fitnah supaya orang-orang yang terikat dengan Anda menjadi lepas. Karena itulah dalam surat di atas disebutkan orang yang meniup-niup dalam ikatan. Para pendengki berusaha untuk melepaskan ikatan antara orang dengan pemimpinnya, isteri dengan suaminya, atau murid dengan gurunya. Ulama yang dengki akan meniupkan berita buruk tentang seorang ulama lain agar murid yang terikat dengan ulama itu akan meninggalkannya dan bergabung dengan ulama itu.

Ayat selanjutnya dari Al-Falaq itu berbunyi: Dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. Ayat ini sebetulnya merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya. Ayat ini menerangkan bahwa yang dimaksud dengan kejahatan orang yang meniup dalam ikatan itu adalah kejahatan orang-orang yang dengki ketika mereka melancarkan kedengkiannya.

Hiriz Rasulullah saw selanjutnya meminta perlindungan dari orang yang menghadang pada tempat-tempat pengintaian di jalan-jalan. Orang yang dengki akan selalu mengintai kita untuk mencari kesalahan kita. Mereka mengawasi kita guna mencari kelemahan dan aib kita, kemudian membesar-besarkan dan menyebarkannya.

Hasad atau dengki dalam Islam dipandang sebagai dosa yang besar. Dalam bahasa Inggris, dengki diterjemahkan menjadi dua macam;  envy atau jealousy. Dalam bahasa Indonesia, jealousy diartikan sebagai kecemburuan. Salah satu makna hasad memang adalah kecemburuan. Kita berlindung dari kecemburuan para pencemburu. Kita mengenal apa yang dinamakan kecemburuan sosial (social jealousy); ada sekelompok masyarakat yang mendapatkan keberuntungan lebih banyak dari masyarakat lain. Masyarakat lain itu lalu mendengki mereka.

Seorang isteri yang amat mencemburui suaminya adalah seorang pendengki juga. Kita berlindung dari keburukan yang timbul dari hal itu. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa hasad paling dominan di kalangan perempuan. Para istri ketika berkumpul biasanya suka saling menilai sesamanya dan dari situlah timbul kedengkian. Terkadang seorang perempuan terobsesi akan kedengkiannya kepada perempuan lain. Salah satu hal yang menyebabkan seorang suami yang beristri dua akan hidup tak rukun adalah kedengkian dari istri pertama kepada istri kedua dan demikian pula sebaliknya.

Ketika Al-Hasan as dan Al-Husain as lahir, Rasulullah saw membacakan Hiriz di atas kepada kedua cucunya itu. Hiriz yang diucapkan Rasulullah saw ini diriwayatkan baik dalam Ahlus Sunnah maupun Ahlul Bait. Dalam Ahlus Sunnah, Hiriz itu berbunyi: Hai anak, aku serahkan kamu kepada perlindungan Allah, kepada kalimah Allah yang sempurna, dari setiap setan yang akan menyesatkan kamu, dan dari setiap mata yang akan mencelakakan kamu.

Bila kita ingin mencontoh sunnah Rasulullah saw, doa yang pertama kali kita bacakan ketika seorang bayi lahir adalah doa perlindungan.

Saya menceritakan ini karena tradisi membacakan istiadzah atau doa perlindungan bagi anak-anak sekarang sudah mulai hilang. Padahal itu sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. Anak yang dititipkan kepada kita ini akan berhadapan dengan dunia yang sangat mengerikan. Setan-setan yang mengintainya dari setiap jalan-jalan masuk akan mencelakakan mereka. Kecelakaan itu bisa berupa virus-virus penyakit yang menakutkan atau berupa bahaya-bahaya yang gaib yang tidak kita ketahui. Anak itu berasal dari rahim; tempat yang amat terpelihara tetapi begitu dia keluar dari rahim, dia akan dibanjiri oleh jutaan bakteri dan mikroba yang mengepungnya.

Oleh karena itu, kita harus membacakan doa perlindungan bagi anak. Bahkan doa perlindungan itu sudah harus kita ucapkan ketika kita mempersiapkan anak itu. Sebelum seorang suami bergaul dengan istrinya, ia harus membaca doa sebagai berikut: Ya Allah, jauhkanlah aku dari setan dan jauhkanlah setan itu dari keturunanku. [KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI]

 

Sat, 24 Feb 2018 @11:16

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved