Rubrik
Terbaru
MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Shalat Tiga Waktu dan Sujud di Atas Tanah

image

Seseorang mengirimkan pertanyaan sebagai berikut: Assalamualaikum Wrb. Saya hanya sedikit mengetahui tentang Syiah sehingga saya tertarik untuk bertanya kepada saudara: 1) Di mana dalam alquran mengatakan shalat 5 waktu dan 3 waktu? 2) Mengapa kita shalat diharuskan memakai turba (tanah)? Dan 3) Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hiriz?

JAWABAN KAMI: Wa’alaikumussalam wa rahmah wa barakah. Terima kasih sudah melayangkan pertanyaan. Kami yakin dengan berdialog kita akan semakin terbuka dan tercerahkan. Sebagian dari jawaban ini kami ambil dari pendapat KH Jalaluddin Rakhmat yang terdapat dalam buku Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer (Mizan, 1999).

Pertanyaan yang pertama tentang shalat tiga waktu atau yang biasa dikenal shalat jamak. Berkaitan dengan ini tercantum pada hadis dalam kitab Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Hadisnya shahih.

Dalam hadis itu disebutkan Rasulullah saw menjamak shalat zuhur dan ashar, maghrib dan isya di Madinah bukan karena uzur, bukan karena bepergian dan bukan karena sakit. Dalam riwayat lain disebutkan bukan karena hujan. Tentang ini lengkapnya silakan baca buku Menjamak Shalat Tanpa Halangan karya Alwi Husein, Lc (Jakarta: Zahra, 2012) dan buku Supersalat: Fikih 5 Salat Fardhu Dalam 3 Waktu   karya Muhammad Babul Ulum (Jakarta: Nur Al-Huda, 2013).

Ayat Al-Quran yang berkaitan dengan hadis yang boleh menjamak shalat wajib adalah “Dirikanlan shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) ” (QS Al-Isra: 78). Dalam ayat ini dikatakan shalat itu dalam tiga waktu, yaitu sesudah tergelincir matahari, waktu malam, dan waktu fajar. Itu menunjukan waktu shalat jamak.

Syaikh Dr. Muhammad At-Tijani As-Samawi, seorang ulama dari Tunisia, pernah shalat di suatu tempat di Irak.

Dia shalat di belakang Sayyid Muhammad Baqir Shadr, ulama Syiah. Sesudah shalat zuhur, ternyata mereka shalat lagi, yaitu shalat ashar. Syaikh At-Tijani ini awalnya merasa keberatan, tetapi merasa sayang juga kalau dilewatkan karena terasa khusyuk. Akhirnya, dia ikut juga. Tetapi, di dalam hatinya, dia tetap merasa tidak enak karena harus menjamak shalatnya.

Kemudian At-Tijani dibawa oleh Sayyid Muhammad Baqir Shadr ke rumah dan diperlihatkan kitab Shahih Al-Bukhari. Kata Syaikh At-Tijani, saya hampir-hampir tidak percaya, apakah benar itu dari kitab Bukhari atau bukan? Lalu, kata beliau, Rasulullah saw tahu bahwa umatnya suatu saat akan banyak disibukkan oleh kehidupan ini. Oleh sebab itu, beliau berikan keleluasan dengan kebolehan menjamak shalat untuk meringankan umatnya.

Yang kedua tentang sujud di atas tanah. Tercantum dalam kitab As-Sujud ‘ala Al-Ardhi, dijelaskan dalil-dalil tentang sujud di atas tanah. Salah satu dalilnya adalah hadis yang mutawatir, “waju’ilat lii ardhu masjidaan wa thahuuraa; dan dijadikan tanah itu bagi-Ku untuk bersuci dan sebagai tempat sujud ” (HR Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah Al-Anshari).

Ada yang mengatakan bahwa itu bukan tanah, tetapi seluruh bumi. Tetapi, itu tidak cocok dengan kata berikutnya, yaitu thahuuraa yang maksudnya adalah tanah untuk tayamum. Bukankah tidak seluruh bumi itu untuk tayamum? Kalau ardh diartikan bumi yang bulat, globe, berarti kita bertayamum kepada bulatan bumi itu. Jadi, jelas yang dimaksud adalah at -turab.

Para sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ibnu Umar, katanya kalau sujud di atas tanah. Bahkan Ibnu Umar kalau berpergian naik perahu, ia selalu membawa tanah untuk sujud. Pada suatu saat Rasulullah saw menemukan sahabat yang akan bersujud di atas tanah yang panas karena masjid Rasulullah saw berlantaikan tanah dan tak beratap. Kemudian karena tanah itu panas, para sahabat menghamparkan serbannya. Melihat begitu Rasulullah saw mengambil serban itu seraya bersabda, “Ke tanahkan wajah kamu!” (Kanz Al-Ummal, hadis ke-2129).

Ada riwayat bahwa kalau tanah panas, para sahabat mengambil dahulu dan didiamkan dahulu supaya dingin kemudian dipakai untuk sujud ketika shalat (Kanz Al-Ummal 4: 188; Al-Nasai 2: 204; Abu Dawud, 110; Ahmad 3: 327; Sunan Al-Baihaqi 1: 439).

Suatu saat sahabat datang kepada Rasulullah saw. Ia mengadu, “Ya Rasulullah, kami sujud di atas tanah itu panas. Apakah boleh sujud di atas yang lain?” Rasulullah saw menjawab, “Tidak” (HR Muslim dari Khabab).

Rasulullah saw memang kita kenal sebagai orang paling prihatin dengan penderitaan umatnya. Namun urusan ibadah ini, yaitu sujud dalam shalat, Rasulullah saw tidak mengizinkan sujud di atas selain tanah. Tentu saja banyak ulama yang membawakan hadis-hadis tentang bolehnya sujud selain di atas tanah.

Sebagai tambahan, dalam buku Fiqih Imam Jafar Shadiq karya Muhammad Jawad Mughniyah (Jakarta: Lentera, 2004) terdapat hadis dari Imam Jafar Ash-Shadiq: “Tidak boleh sujud kecuali di atas bumi atau yang tumbuh dari bumi, kecuali yang dimakan atau dipakai. ” Imam Jafar juga berkata, “Sujud di atas tanah kuburan Husain menyinari tujuh bumi. Siapa yang memiliki tasbih yang terbuat dari tanah kuburan Husain maka ia dicatat sebagai orang yang bertasbih, sekalipun ia tidak bertasbih dengannya.

Berdasarkan hadis tersebut, fuqaha menyatakan boleh sujud menggunakan bahan dari bumi yang tidak dimakan dan tidak dipakai oleh manusia, tetapi yang tidak berubah bentuk. Tempat sujud juga tidak boleh dari hasil tambang seperti akik, firuz, emas, dan sebagainya (halaman 146). Masih dalam buku tersebut bahwa Imam Jafar Shadiq membolehkan sujud di atas kertas (halaman 147).

Jawaban yang ketiga, silakan Anda baca artikel Hiriz Rasulullah saw yang ditulis Guru kami: KH Jalaluddin Rakhmat. Terima kasih.

(misykat)

Fri, 2 Sep 2016 @22:02

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved