AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Masuk Syiah karena Hasil Penelitian

image

“Mabniyyun ‘ala Sunni,” tegas Engkos Kosasih, seorang doktor yang bekerja sebagai dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Pernyataan itu saya dengar dalam diskusi Kesesatan Sunni Syiah–sebuah buku yang ditulis oleh M.Babul Ulum–di UIN Bandung.

Awalnya saya mengira beliau bukan dosen UIN. Seorang kawan mahasiswa bilang: ia lulusan Al-Azhar. Pantas. Sangat percaya diri. Apalagi melihat kasus kemarin ulama yang dibunuh dengan keji. Wah Mesir yang memiliki khazanah Islam dalam peradaban Islam semakin memudar dan tak mampu menampakkan kearifannya.

Pernyataan di atas, saya kira suatu yang wajar. Namun, bagi seorang akademis pasti bukan suatu kepastian karena bisa jadi nanti sekira sepuluh sampai dua puluh tahun kemudian ada perubahan. Itu juga yang diungkapkan Prof Rosihon Anwar, Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Bandung dalam diskusi.

Banyak orang yang memilih Syiah sebagai mazhab atas dasar penelitian-penelitian yang mendalam. Misalnya Dr.Muhammad Tijani Samawi yang memilih Syiah karena mendapatkan jawaban dan senantiasa rasional saat dibandingkan dengan dalil-dalil Ahlussunah yang dahulu dipegangnya.

Sampai-sampa Tijani mengembara ke Irak dan bertemu dengan Sayid Muhammad Baqir Shadr yang merupakan ulama Syiah. Tijani melakukan dialog dan membaca referensi Syiah. Setelah mantap baru beralih pada mazhab Syiah.

Di Indonesia ada sosok Kang Jalal (saya menyapanya dengan Ustadz Jalal). Seorang pakar komunikasi yang mempelajari Islam dari berbagai referensi kemudian belajar di Qum, Iran, dan berinteraksi dengan ulama-ulama Syiah. Dari perjalanan keagamaannya dari mulai aktivis Persatuan Islam (ormas yang menyerupai mazhab Wahabi) kemudian bergabung dengan Muhammadiyah (ormas Islam).

Kemudian dalam sebuah konferensi Islam Internasional di Kolombo (kalau tak salah dengar dari pengajian di masjid al-munawwarah) bertemu dengan Syaikh Muhammad Ali Taskhiri dari Iran dan mendapatkan buku-buku Syiah darinya. Kabarnya, Ustadz Jalal datang bersama Haidar Bagir dan Endang Saefudin Anshari. Dari tiga orang itu, hanya satu yang tetap berpegang pada mazhab Sunni (karena keburu meninggal dunia kemungkinan kalau masih hidup di akhir hayatnya berpotensi masuk Syiah).

Dari bacaan itulah kemudian Ustadz Jalal menelusuri dalil dan argumen yang digunakan Syiah. Akhirnya–saya tidak tahu persis kapannya–Ustadz Jalal menjadi seorang Syiah dan bergerak dalam dakwah Islam Syiah sampai mempelopori lahirnya ormas resmi IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia) di Gedung Merdeka Bandung, 1 Juli 2000.

Meski dikenal sebagai tokoh Syiah, tetapi sekarang ini Ustadz Jalal bergerak untuk merajut ukhuwah Islam di Indonesia. Beliau membuat deklarasi Majelis Ukhuwah Sunni Syiah Indonesia bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan menjadi perwakilan ulama Indonesia untuk persatuan Islam di dunia internasional.

Saya kira Ustadz Jalal memilih mazhab Islam Syiah merupakan pilihan setelah meneliti dengan mendalam. Bahkan menulis buku Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih yang berupaya untuk melibas konflik mazhab dan bentrok pemahaman fiqih. Menurut Ustadz Jalal, yang diusung Rasulullah saw adalah menyebarkan akhlak. Seperti biasa, tidak hanya disambut oleh para pecinta damai dari Sunni, bahkan oleh orang Syiah sendiri dipermasalahkannya. Bagi saya sosok Ustadz Jalal sekarang ini bukan milik orang Syiah, tetapi orang Sunni yang cinta damai dan ingin merajut ukhuwah.

Begitu juga Muhammad Babul Ulum, penulis dan doktor bidang hadis. Dalam diskusi buku menyampaikan bahwa dirinya sebelum menjadi pembela mazhab Ahlulbait atau Syiah adalah seorang NU (Nahdhatul Ulama).

Kemudian belajar dan membaca khazanah Islam yang lebih luas sehingga sampai simpulan untuk memeluk mazhab Syiah. Kalau dicari mungkin banyak yang menjadi faktor seorang Muslim atau Muslimah memeluk mazhab Syiah. Hal yang perlu direnungkan dari orang-orang yang memeluk Mazhab Syiah di Indonesia senantiasa berdasarkan penelitian dan kajian yang mendalam sehingga memiliki khazanah Islam yang luas.

Saya kira di negeri Iran dan Irak atau Bahrain yang banyak memeluk Syiah, tidak seperti orang Syiah Indonesia. Umumnya di negeri yang mayoritas mazhab Syiah dalam memeluk Islam mazhab Syiah berdasarkan turun temurun. Kalau orang Islam Syiah di Indonesia tidak demikian sehingga memiliki pengetahuan Syiah dan Sunni. Pengetahuan agama yang ganda itulah sebetulnya dapat menjadi wahana untuk semakin bijaksana dan tidak mudah kecam terhadap orang-orang yang memiliki pemahaman yang berbeda.

Beda kalau ia seorang yang kukuh dengan satu mazhab, terus enggan menimba ilmu dan belajar dari orang lain atau sumber yang lain, pastinya akan tetap bertahan. Biarlah kalau memang itu jalannya. Asalkan tidak kecam yang berbeda sebagai sesat. Kalau demikian sudah masuk dalam kelompok takfirisme.

Mengerikan kalau setiap beda pemahaman dianggap musuh dan sesat. Bahkan sampai berani menumpahkan darah orang lain. Itulah gerakan takfirisme. Dengan fatwa ulama, kaum takfiri berani serang dan bunuh orang.

Dan sekarang ini, gerakan takfirisme mulai merasuki masjid-masjid. Mereka larang baca shalawat sebelum adzan dan shalat, singkirkan bedug dan tahlilan dikatakan bidah, rayakan ulang tahun Rasulullah saw dikatakan bidah, ucapkan hari raya orang non Muslim dikatakan sesat dan kafir.

Saya kadang pusing dengan celotehan mereka. Dikit-dikit kafir. Dikit-dikit sesat. Yang berbeda dalam gerakan shalat dikatakan menyimpang. Berbeda memahami teks agama disebut menyimpang.

Bagi saya, menjadi Muslim Syiah atau Sunni, itu hanya pilihan. Dan dua-duanya termasuk Islam. Jadi, tak perlu repot urus orang lain. Saya ingat dengan sabda Rasulullah saw: khiyaarukum ahaa sinukum ahlaaqan. Ini diriwayatkan Bukhari dan Muslim. (as)

Wed, 2 Nov 2016 @07:44

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved