Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Kapan Nabi Menangis? Tinjauan Hadits [KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Kita sekarang akan membicarakan saat-saat ketika Nabi Muhammad saw menangis. Kita mulai dengan hadits yang pertama. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, diriwayatkan juga oleh Tabrani dalam Al-Kabir-nya, oleh Al-Haitsâmi dalam Majma’ul Zawa’id dan kata para ahli hadits, seluruh sanadnya bisa dipercaya.

Pada bulan Ramadhan, dulu saya menghindari baca hadits hanya membaca Al-Quran saja untuk pengajian kita. Dalam Mazhab Jafari, apabila orang membuat hadits-hadits palsu yang dinisbahkan kepada imam, puasanya batal dan dia harus menebusnya.

Kifaratnya membacakan hadits palsu ialah membebaskan budak belian plus puasa dua bulan terus-menerus plus memberi makan enam puluh orang miskin. Biasanya buat kesalahan lainnya yang tiga itu boleh dipilih. Kalau saudara-saudara di bulan puasa ini bergaul dengan istri di siang hari, tebusannya adalah salah satu yang tiga itu.

Kembali lagi kepada tangisan Nabi Muhammad Saw. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan sebagainya. Tadi saya sebutkan khusus untuk orang yang membacakan hadits palsu di bulan Ramadahan, ketika dia puasa maupun di malam harinya ketika dia tidak sedang berpuasa, ia melakukan dosa besar jauh lebih besar dosanya dibandingkan dengan melakukan hubungan suami istri pada siang hari karena tebusannya sangat berat.

Kalau satu hadits palsu diriwayatkan, ia harus dua bulan puasa terus-menerus, dan kalau—misalkan—enam hadits palsu, ia harus puasa satu tahun; nyambung lagi dengan puasa, bisa puasa terus-menerus. Karena itu di bulan puasa kita disuruh untuk berhati-hati untuk tidak berbohong apalagi berbohong atas Nabi Saw, Imam yang maksum, atau berbohong atas nama ulama, menisbahkan atas mereka yang sebetulnya tidak mereka ucapkan. Yang paling berat tentu berbohong atas nama Nabi dan Al-Ma’shumin.

Belakangan ini saya menemukan ternyata di kalangan para ustadz ada kebiasaan untuk menyampaikan hadits-hadits yang mawdhu’, hadits-hadits yang palsu. Itu kreatifnya ustad-ustad kita. Menyebar dan umumnya hadits-hadits itu menunjang atau membantu mereka untuk memuaskan hawa nafsunya. Sekarang saya akan mengadakan kajian dengan para ustad di sini. Ustadnya juga dibatasi, yang bisa baca kitab kuning. Mengapa tidak terbuka pada semua? Karena para ustad yang ikut itu harus membaca sebuah kitab kemudian melakukan presentasi, menyampaikannya dan berdiskusi di antara mereka. Seluruh ustad membaca kitab yang sama.

Salah satu yang akan kita baca adalah sebuah buku yang mengkritik hadits-hadits di kalangan Ahlul Bayt. Saya sering dikritik orang, “Kenapa ustad itu hanya mengkritik hadits-hadits Sunni. Kenapa tidak mau mengkritik hadits-hadits Syi’ah?” Waktu itu saya berkata, saya kritik hadits-hadits Sunni karena yang saya ajak bicara adalah Sunni, kalau yang saya ajak bicara itu Syi’ah, maka akan saya kritik juga hadits-hadits Syi’ah.

Karena itu kita berusaha juga untuk kritis di kalangan Ahlul Bayt sekalipun supaya kita tidak sampai meriwayatkan hadits-hadits palsu. Sekarang muncul beberapa orang, kalau saya tidak salah, dimulai oleh Ma’ruf Al-Husaini yang mengkritik hadits-hadits baik dari Ahlul Sunnah maupun dari kalangan Ahlul Bayt.

Bukunya kecil, Dirâsat Hadits wal Muhadditsîn studi tentang hadits dan para ahli hadits. Ia kemudian juga menulis tentang hadits-hadits mawdhu’ di kalangan ahlul bayt yang tersebar di kalangan masyarakat. Tapi buku itu—katanya—sulit ditemukan di toko-toko buku di karena para ulama-ulama yang populer berusaha melarang peredaran buku itu karena sangat kritis dengan hadits-hadits yang sering dibacakan oleh para ulama.

Hadits-hadits tentang peristiwa Asyura itu banyak yang lemah tetapi para ulama masih juga menyebarkannya terutama mungkin untuk menggerakkan emosi orang-orang awam. Dulu juga para ulama sering menggunakan hadits-hadits lemah untuk menyentuh hati orang. Ulama sekarang juga banyak yang tujuannya untuk menyentuh hati orang. Bedanya dulu ulama merujuk kepada hadits walaupun haditsnya lemah, sekarang malah tanpa hadits sama sekali.

Diriwayatkan oleh Abdullah ibn Mas’ud. Abdullah ibn Mas’ud adalah salah satu sahabat Nabi yang paling bagus bacaan Al-Quran-nya. Sehingga Rasulullah saw. bersabda, “Kalau kalian ingin mendengarkan bacaan Al-Quran yang segar seperti segarnya kurma yang baru dipetik, dengarkan bacaan Al-Quran dari Abdullah ibn Mas’ud .” Saya bacakan riwayat ini.

Pada suatu hari Rasulullah Saw berkunjung ke Masjid Bani Zhafar, sebuah kabilah yang tidak jauh dari Madinah. Lalu Rasulullah duduk di atas batu yang kebetulan berada di Masjid Zhafar. Sekedar gambaran saja, masjid-masjid dahulu itu tidak beratap dan tidak berlantai tikar. Jadi tanah saja langsung. Waktu haji yang lalu, saya berkunjung ke sebuah masjid yang dibangun untuk mengenang Bai’atur Ridwan.

Ketika para sahabat berjanji di sebuah pohon. Pohon itu masih ada di masjid itu. Dulu di pohon itulah Rasulullah bersandar. Selama ribuan tahun pohon itu tetap bertahan berada di masjid. Jemaah haji sering kali berkunjung ke tempat itu. Baru pertama kali saya diberitahu masjid itu.

Saya datang ke situ bersama Pak Dimitri juga dan Mas Joko. Masjid itu harus buru-buru dikunjungi sebelum berubah menjadi Mall, pusat belanja. Di Saudi banyak tempat-tempat bersejarah berubah menjadi Mall. Kami berkunjung ke situ. Apa yang kami saksikan, mereka membakar pohon itu. Karena apa? Pohon itu setiap kali dipotong selalu tumbuh lagi semakin kuat. Jadi mereka bakar pohon itu. Saya mengambil sisa-sisa pembakaran itu dan saya mengambil berkah dari sisa pembakaran pepohonan itu.

“…Jadi Rasulullah duduk di atas batu di masjid Bani Zhafar. Bersama beliau Abdullah ibn Mas’ud, Mu’ad bin Jabal, Wa unâsun min ash habih , dan sekelompok sahabatnya. Lalu Rasulullah Saw berkata kepada Ibn Mas’ud, ‘Bacakan kepadaku Al-Quran!’ Kataku (kata Ibnu Mas’ud), ‘Ya Rasulullah, aku bacakan Al-Quran kepadamu sedang Al-Quran itu turun kepadamu.’ Rasulullah Saw berkata, ‘Memang benar Al-Quran turun kepadaku tapi aku ingin mendengarkan Al-Quran dibacakan oleh orang selainku.’ Mulailah aku membaca surat Annisa. Aku bacakan surat Annisa itu ke hadapannya. Ketika aku sampai pada ‘…Bagaimana kalau aku datangkan seorang saksi dari satu umat, dan kami pun akan mendatangkan kamu sebagai saksi atas mereka’ (Surat Annisa ayat 41). Belum sampai ayat itu—kata Ibn Mas’ud—aku angkat kepalaku mungkin karena ada orang mencubit aku di sampingku, lalu aku mengangkat kepalaku, aku lihat air mata Nabi berlinang-linang. Lalu menangislah Nabi Saw sampai bergetar janggutnya karena tangisannya sambil beliau bergumam, ‘Duhai Tuhanku aku bersaksi, aku akan jadi saksi dari sahabat-sahabatku yang sezaman dengan aku. Bagaimana aku bisa bersaksi dengan mereka yang tidak sezaman dengan aku.’ Pada saat itulah Nabi Saw menangis. Beliau menangis ketika ayat Al-Quran dibacakan kepadanya.”

Ada hadits-hadits yang lain, Rasulullah menangis ketika membaca Al-Quran. Apa sunnah yang kita peroleh dari situ. Kita dianjurkan untuk menangis ketika membaca Al-Quran. Dan di antara keajaiban Al-Quran, ada orang yang tersentuh bacaan Al-Quran itu walaupun dia tidak pahami. Tapi jumlahnya kecil, kecil sekali. Kebanyakan orang tersentuh bacaan Al-Quran karena dia memahami kandungan Al-Quran itu. Dan bagi kita yang tidak paham—saya jadi menganjurkan—cobalah kalau membaca Al-Quran itu jangan khatam yang dikejar. Cobalah setiap hari ada ayat yang direnungkan maknanya sampai kita terharu, kalau bisa sampai kita menangis. Karena menangis ketika mendengarkan Al-Quran adalah sunnah Nabi saw.

Menurut Al-Quran, menangis itu sunnah orang-orang saleh sepanjang sejarah, sunnah para Nabi sebelumnya. Allah Swt berfirman di dalam surat Maryam ayat 58, “Mereka adalah orang-orang yang mendapat anugerah Allah berupa kenikmatan.” Dan siapakah mereka yang mendapatkan kenikmatan itu? Dalam shalat ketika kita baca Al-Fatihah, kita menginginkan jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang Allah anugerahkan kenikmatan kepada mereka.

Siapakah itu orang-orang yang mendapat anugerah kenikmatan itu? Dijelaskan Tuhan dalam surat Maryam ayat 58, “Mereka adalah orang-orang yang mendapat anugerah Allah adalah para Nabi dari keturunan Adam dan diantara orang-orang yang Kami angkat bersamamu dan dari keturunan Ibrahim dan Israil dan diantara orang-orang yang Kami tunjuk dan Kami pilih sebagai manusia pilihan.” Apa ciri mereka itu semua? “Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih, mereka merebahkan dirinya, sujud dan menangis.” Kata Ibnu Katsir, mufasir Al-Quran, “Apabila mereka mendengar firmah Allah yang mengandung Hujjah-Nya, Dalil-Nya dan Burhan-Nya, mereka bersujud kepada Tuhan mereka dengan penuh kerendahan dirinya, dengan penuh tawadhu’ sambil memuji dan bersyukur atas anugerah Allah Yang Maha Agung terhadap mereka.”

Jadi menangis ketika membaca ayat-ayat Allah adalah ciri orang-orang yang mendapat anugerah Allah Swt. yang digabungkan dengan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada dan para shalihin . Berulang kali Al-Quran menyuruh menghadapkan hati kita ketika membaca Al-Quran sampai kita menangis karena mendengarkannya. Dan ciri orang-orang yang durhaka adalah boro-boro menangis, malah mencemoohkan.

Al-Qurthubi di dalam tafsirnya ketika sampai kepada ayat, “Apakah ketika kalian mendengarkan Al-Quran itu kalian takjub? Tapi kalian tertawa-tawa dan tidak menangis.” Kata Al-Qurthubi: Ini adalah teguran Allah ketika mendengarkan Al-Quran dibacakan kepada mereka kemudian mereka mendusatakan Al-Quran itu, mendustakan dan mencomoohkan Al-Quran itu dan tidak mau menangis.

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI

 

Tue, 25 Oct 2016 @18:44

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved