BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

RSS Feed

Dari Al-Quran hingga Menghadirkan Allah [by KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Beberapa waktu yang lalu saya berdiskusi kembali tentang pluralisme di Jakarta dengan seorang yang pernah menulis buku yang menentang pluralisme. Dia menentang pluralisme tidak dengan mengirimkan pasukan bermotor tapi dia menulis buku yang menentang pluralisme. Namanya Pak Adian Husayni. Saya seperti biasa menyampaikan ayat-ayat Al-Quran tentang pluralisme.

Dari awal sampai akhir yang saya sampaikan hanyalah ayat-ayat Al-Quran. Pak Adian membalasnya tanpa mengutip satu ayat Al-Quran pun. Ia hanya mengutip orang-orang liberal, orang-orang Kristen, ada gambarnya, pendeta ini—katanya—melakukan homosek, mudah-mudahan berada di surga bersama Pak Jalal.

Sampai ada teman saya berkata bahwa diskusi itu tidak nyambung. Yang satu baca ayat dan yang lain tidak. Persis juga dengan diskusi-diskusi yang lain. Mestinya Al-Quran dengan Al-Quran lagi. Untuk membuat satu perbandingan—misalnya—membahas apel harus dengan apel lagi. Tapi yang menarik bagi saya ialah pada waktu saya membacakan ayat Al-Quran itu, ada orang yang berteriak-teriak. Waktu itu saya emosinal. Jadi, saya bilang saya mau mati untuk menegakkan akhlak yang baik.

Saya bacakan lagi ayat Al-Quran yang turun untuk mengajar kita adab di dalam majelis. Tidak boleh kita mengeraskan suara di dalam majelis. Apalagi ketika ada yang membaca Al-Quran. Saya bacakan ayat Al-Quran, “Janganlah kamu keraskan suara kamu diatas suara Rasulullah, nanti terhapus amal-amal kamu dan kamu tidak merasakannya.” Mereka berteriak juga, “Ini bukan Rasul!” kata dia. Ketika dibacakan Al-Quran yang menegur mereka, mereka mestinya menangis. Ini tidak, mereka berteriak-teriak seperti orang yang kebakaran janggut. 

Mari kita mulai belajar menghayati isi Al-Quran sampai berlinang-linang air mata karena mendengar bacaan Al-Quran atau ketika kita sendiri membaca Al-Quran. Kemudian apa kiat-kiatnya supaya kita bisa sampai kepada tangisan ketika membaca Al-Quran? Yang pertama memang harus belajar bersikap takzim, bersifat sopan ketika menghadapi Al-Quran. Kita agungkan Al-Quran. Mereka yang berteriak-teriak menyebut “mengagungkan Al-Quran” sebagai syirik. Yang harus diagungkan itu Allah saja katanya. Sehingga orang-orang yang namanya pakai Agung itu katanya orang musyrik termasuk Agung Laksono. Kita harus mengangungkan Al-Quran ini, memuliakan Al-Quran ini.

Saya anjurkan anda berwudlu ketika akan membaca Al-Quran. Ada orang menganggap berwudlu sebelum membaca Al-Quran itu dhaif haditsnya. Jadi kata mereka, bid’ah wudlu sebelum membaca Al-Quran itu. Yang lebih penting—kata dia—bukan bacaan Al-Qurannya tetapi hukum-hukum yang ada di dalam Al-Quran. Al-Quran mulia itu karena hukum-hukumnya kita praktekkan.

Kemudian dia membawa Al-Quran ke mimbar, kemudian di hadapan jemaah ia injak-injak Al-Quran itu. Kata dia, “Ini kertas aja, yang penting itu hukum-hukumnya.” Jemaah marah dan dia hampir dibunuh rame-reme dan orang itu lari kepada saya dulu. Dia meminta perlindungan kepada saya. Ini kejadian puluhan tahun yang lalu. Jadi keliru sih. Betul hukum-hukumnya harus kita tegakkan, betul bahwa makna yang paling penting. Tetapi tempat menyimpan makna itu harus kita agungkan, kita muliakan.

Ulama-ulama yang soleh, di manapun mereka membaca Al-Quran, mereka cium Al-Quran itu sebelum maupun sesudah membaca Al-Quran. Jadi ketika menghadapi Al-Quran kita membawa hati yang penuh penghormatan kepada Dia yang berfirman di dalam ayat suci itu. Dia membayangkan dirinya berhadapan dengan Allah Swt. Dia menghadirkan Allah Swt..

Saya pernah menceritakan tentang seorang pemuda yang mau mulai belajar tasawuf, mau mengungkap cahaya ilahi. Jadi dia datang menemui gurunya. Gurunya memberikan pelajaran yang pertama. Pemuda itu rajin shalat malam dan pada shalat malam tentu dia bacakan ayat-ayat Al-Quran. Kata gurunya, “Nanti kalau kamu shalat malam, bacalah Al-Quran dan bayangkan aku guru kamu mendengarkan di hadapanmu. Biasanya dia selalu khatam.

Setiap kali shalat malam dia khatam Al-Quran, biasanya begitu. Lalu akhirnya dia mulai membaca dan menghadirkan sosok gurunya. Esoknya dia lapor, “Guru saya hanya bisa sampai satu juz saja, saya tidak bisa menyelesaikan seluruh Al-Quran.”

Kata gurunya, “Sekarang bayangkan oleh kamu, nanti ketika kamu shalat malam, ketika kamu membaca ayat Al-Quran bayangkan kamu membaca di hadapan para sahabat Nabi.” Lapor lagi dia kalau satu juz pun tidak selesai. Pada hari yang ketiga ia dianjurkan untuk melakukan lagi shalat malam dan membayangkan bahwa dihadapannya ada Rasulullah Saw mendengarkan bacaan Al-Quran. Lalu anak itu lapor keesokan harinya, “Hampir saja Al-Fatihah pun tidak selesai.”

Yang terakhir dia dianjurkan untuk membayangkan di hadapannya Allah Swt mendengarkan bacaan Al-Quran.Padahal kita semua tahu kalau kita shalat, kita berhadapan dengan Allah.

Keesokan harinya dia tidak datang lagi untuk melapor. Dan gurunya mendengar kabar bahwa dia jatuh sakit. Ketika dikunjungi katanya semalam dia hanya sampai membaca ‘Iyya kana’buduwa iyya kanasta’in...’ lalu dia pingsan, dia tidak sanggup lagi menanggungnya. Dan akhirnya dia menghembuskan nafasnya yang terkahir. Dia tidak sanggup menanggung kehadiran Allah Swt. pada waktu membaca Al-Quran.

Tampaknya dia tidak sanggup menanggung kehadiran Allah Swt. pada waktu membaca Al-Quran. Atau mungkin pemuda itu terlalu cepat ingin merasakan kehadiran Allah Swt. atau gurunya terlalu cepat membimbing dia dan jiwanya tidak sanggup menanggungnya.

Itu para sufi zaman dulu. Untuk zaman sekarang ada kursus shalat khusuk dengan membayar satu juta setengah, dalam satu hari beres. Kalau memang benar beres dalam satu hari, orang-orang pada meninggal dunia sama seperti pemuda itu. Ada juga orang di Jakarta mengajarkan bahwa dalam satu minggu kita bisa melihat Allah sampai kepada ma’rifat. Bayarannya juga tidak mahal, cuma enam ratus ribu.

Saya pernah ditawari untuk bisa melihat Allah dengan cepat tapi saya tolak. Bukan saya enggan mengeluarkan uang enam ratus ribu tapi saya takut mati seperti pemuda itu. Buat kita itu terlalu jauh.

Kiat kita sekarang, paling tidak hadirkan hati kita ketika membaca Al-Quran dulu. Jangan dulu membayangkan Allah hadir di hadapan kita atau bayangkannya sedikit saja. Atau mungkin lakukanlah seperti yang dilakukan Iqbal. Setiap bada Subuh ia selalu baca Al-Quran. Selalu dianjurkan bapaknya untuk baca Al-Quran. Tetapi bapaknya selalu saja berkata “Kamu sudah baca Al-Quran?” “Sudah” “Bacalah Al-Quran” seakan-akan dia belum baca Al-Quran. Setiap subuh begitu sampai suatu saat anaknya bertanya kepada bapaknya kenapa bapaknya selalu bertanya begitu.

Lalu kata bapaknya “Bacalah Al-Quran seakan-akan Al-Quran itu turun hanya untuk kamu.” Bayangkanlah bahwa Al-Quran itu sedang berdialog dengan kamu, sedang berbicara dengan kamu. Jadi kita bisa baca Al-Quran dan untuk saudara bacalah terjemahannya dan bayangkanlah ayat-ayat itu ditunjukkan kepada saudara. Jadi misalnya sampai pada ayat “…Orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang diberi peringatan atau tidak diberi peringatan sama saja mereka tidak mau beriman.”

Bayangkanlah bahwa itu teguran bagi kita. Kita dapat nasehat atau tidak dapat nasehat, kita sama saja tidak berubah. Kita dengar pengajian atau tidak, tetap saja begitu. Bayangkan bahwa itu teguran buat kita. Insya Allah setiap ayat itu akan memasukkan keharuan yang mendalam kepada kita. Itu cara supaya pembacaan Al-Quran di bulan Ramadhan meningkat lebih daripada bulan Ramadhan sebelumnya.

Saya sangat tidak menganjurkan orang yang berusaha membaca Al-Quran dengan lagu-lagu direkayasa supaya orang yang mendengarnya itu menangis. Bukan karena mereka faham tapi karena ketularan imamnya. Imamnya menangis bohongan, makmumnya menangis beneran. Saya pernah ikut shalat Jumat di pinggiran jalan di Bandung. Tiba-tiba Imamnya itu saya dengar membaca Al-Quran dengan nada memelas. Makmum banyak yang menangis, saya tidak. Saya pikir Abdullah Ibn Mas’ud tidak membaca Al-Quran seperti itu karena bacaanya sudah merusak makhraj dan tajwid.

Saya, Alhamdulillâh tidak nangis. Sekali lagi yang menjadi sunnahnya bukan menangisnya itu tetapi karena apa ia menangis. Yang menjadi sunnah itu bukan karena Rasulullah saw menangis tapi pada waktu seperti apa beliau menangis.[]

Jalaluddin Rakhmat adalah Cendekiawan Mulslim


 

Thu, 10 Jan 2019 @11:25

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved