AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Ajaran Syiah: Dimensi Akidah

image

Dalam Syiah ada tiga dimensi ajaran: akidah, akhlak, dan fiqih (syariat) sebagaimana pembagian yang disepakati sebagian besar ulama Islam.

Syiah telah memformulasikan akidah dalam tiga prinsip utama, yaitu tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan. Dari prinsip dasar tauhid, muncul prinsip ke adilan Ilahi; dari prinsip kenabian, muncul prinsip imamah. (Catatan: Meski demikian, Syiah tidak menganggap kafir orang yang tidak percaya kepada prinsip imamah ini).

Untuk memudahkan sistematika pengajaran, sebagian ulama memasukkan kedua prinsip ikutan di atas, yakni keadilan dan imamah, dalam Ushuluddin. Sistematika ini pada dasarnya mengikuti kaidah idkhalul juz’ ilal kull (menyertakan yang partikular kepada yang universal). Dengan demikian, berkembang menjadi lima prinsip, yaitu  al-tauhid, al-nubuwwah, al-imamah, al-‘adl, dan al-ma’ad.

Dalam prinsip al-tauhid (keesaan Allah), Syiah meyakini bahwa Allah Swt adalah Zat Yang  Mahamutlak, yang tidak dapat dijangkau oleh siapa pun (laa tudrikuhul abshar wahua yudrikul abshar). Dia Maha sempurna. Jauh dari segala cela dan kekurangan.

Bahkan, Dia adalah kesempurnaan itu sendiri dan mutlak sempurna,  mutlaq al-kamal wal kamal al-muth laq. Syiah meyakini  bahwa Allah adalah Zat Yang tak terbatas dari segala sisi; ilmu, kekuasaan, keabadian, dan sebagainya. Oleh karena itu, Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, karena keduanya terbatas. Te-tapi pada waktu yang sama, hadir di setiap ruang dan waktu karena Dia berada di atas keduanya.

Tak terlepas dari itu, Syiah meyakini prinsip Al-Bada’.  Al-Bada’ memiliki dua arti pertama adalah arti leksikal yang hanya mungkin disandarkan pada ke beradaan yang terbatas. Dan hal ini pasti tak pantas dinisbatkan kepada Allah Swt. Adapun arti kedua adalah pengubahan takdir karena amal salih atau tindakan jahat hamba. Di dalam Al-Quran disebutkan: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkannya, dan ummul kitab berada di sisi-Nya.” (QS. Al-Ra‘d [13]: 39).

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada sebuah kaum sehingga mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Al-Ra‘d [13]: 11).

Kedua ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa takdir Allah tidak mendominasi kekuasaannya, melain kan kehendak dan kemampuan-Nya mendominasi takdir itu. Dalam kerangka ini, diyakini bahwa takdir bukan berarti keterpaksaan manusia dan menghapuskan hak pilihnya (ikhtiyâr). Melainkan, seperti di sebutkan dalam banyak hadis, hamba bisa berdoa, ber harap, memperbanyak silaturahim, dan beramalsalih sehingga Allah mengubah akibat buruknya menjadi akibat yang baik. Ahlus Sunnah menyebut keyakinan seperti ini dengan mahw wa itsbât.

Syiah meyakini bahwa Allah Swt tidak dapat dilihat dengan kasatmata, sebab sesuatu yang dapat dilihat dengan kasatmata adalah jasmani dan memerlukan ruang, warna, bentuk, dan arah, pada hal semua itu adalah sifat-sifat makhluk, sedangkan Allah jauh dari segala sifat-sifat makhluk-Nya.

Syiah meyakini bahwa Allah Maha Esa. Esa dalam Zat-Nya, Esa dalam sifat-Nya, dan Esa dalam  af’al (perbuatan atau ciptaan)-Nya. Yang dimaksud Esa dalam zat ialah bahwa tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang me nan-dingi-Nya, dan tidak ada yang menyamai-Nya. Esa dalam sifat,  bahwa sifat-sifat seperti ilmu, kuasa, ke-abadian, dan sebagainya menyatu dalam Zat-Nya, bahkan adalah Zat-Nya sendiri. Sifat-sifat itu tidak sama dengan sifat-sifat makhluk, yang masing-masing berdiri sendiri dan terpisah dari yang lainnya. Dan Esa dalam af’al atau perbuatan, bahwa segala perbuatan, gerak, dan wujud apa pun pada alam semesta ini ber-sumber dari keinginan dan kehendak-Nya.

Dalam pada itu, Syiah juga meyakini bahwa hanya   Allah yang boleh disembah (tauhid al-ibadah) dan ti-dak boleh menyembah kepada selain Allah (laa ta’bu-duu illa iyyahu). Maka barang siapa menyembah selain Allah, dia adalah musyrik.

Adapun meminta syafaat Nabi Saw. dan atau para imam ma’shum dan bertawassul melalui mereka sama sekali bukan merupakan perbuatan menyembah atau beribadah kepada mereka karena perbuatan ini tidak bertentangan dengan tauhid perbuatan atau tauhid ibadah, sebab yang dilakukan hanyalah menjadikan mereka sebagai lantaran (washilah) dalam doa-doa.

Dalam prinsip nubuwwah (kenabian), Syiah meyakini bahwa tujuan Allah mengutus para nabi dan rasul ialah untuk membimbing umat manusia menuju kesempurnaan hakiki dan kebahagiaan abadi.

Syiah meyakini bahwa nabi pertama adalah Adam a.s. dan nabi terakhir adalah Muhammad Saw. Di antara para nabi itu terdapat lima nabi yang masuk kategori ulul-azmi atau lima nabi pembawa syariat Allah dan Shuhuf/kitab suci yang baru, yaitu, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan terakhir Nabi Muhammad Saw., yang merupakan nabi-nabi paling mulia.

Syiah meyakini bahwa Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir dan penutup para rasul. Tidak ada nabi atau rasul sesudahnya. Syariatnya ditujukan kepada seluruh umat manusia dan akan tetap eksis sampai akhir zaman, dalam arti bahwa universalitas ajaran dan hukum Islam mampu menjawab kebutuhan manusia sepanjang zaman, baik jasmani maupun rohani. Oleh karena itu, siapa pun yang mengaku sebagai nabi atau membawa risalah baru sesudah Nabi Muhammad Saw. maka dia sesat dan tidak dapat diterima.

Syiah meyakini bahwa semua nabi maksum, terpelihara dari perbuatan salah, keliru, dan dosa, baik sebelum masa kenabian maupun sesudahnya. Adapun adanya sejumlah ayat yang mengesankan seolah-olah sejumlah nabi pernah berbuat dosa difahami sebagai tark al-awla, meninggalkan yang utama (meninggalkan sesuatu yang lebih baik, bukan melakukan sesuatu yang buruk).

Syiah juga meyakini bahwa para nabi dibekali oleh Allah dengan mukjizat dan kemampuan mengerjakan perkara-perkara luar biasa dengan izin Allah Swt, seperti menghidupkan orang mati oleh Nabi Isa a.s.,

mengubah tongkat menjadi ular oleh Nabi Musa a.s., dan memperbanyak makanan yang sedikit oleh Nabi Muhammad Saw. Namun dari semua mukjizat itu, Al-Quran, yang merupakan mukjizat Nabi Muhammad saw, adalah mukjizat terbesar sepanjang masa. Karena itu, Syiah meyakini bahwa tidak seorang pun dapat membuat kitab seperti Al-Quran atau bahkan sebuah surat sekalipun.

Syiah juga meyakini bahwa kitab suci Al-Quran telah dijamin oleh Allah dari segala bentuk perubahan ayat-ayatnya (tahrif) oleh tangan-tangan pendosa.

Oleh karena itu, Syiah meyakini bahwa Al-Quran yang ada di tangan kaum Muslim saat ini adalah Al-Quran yang sama dengan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, tanpa sedikit pun mengalami penambahan atau pengurangan.

Terkait beberapa riwayat yang mengesankan telah terjadinya tahrif Al-Quran pada kitab-kitab hadis Syiah maupun Ahlus Sunnah, para ulama Syiah menegaskan bahwa riwayat-riwayat tersebut tidak dapat diterima atau bahkan   maudhu’,  palsu, karena bertentangan dengan teks Al-Quran sendiri.

Kalaupun ada yang menerimanya, maka harus difahami dalam arti perubahan yang bersifat maknawi, al-tahrif al-ma’nawi, yang ber arti telah terjadi penyimpangan terhadap tafsir ayat Al-Quran, bukan redaksinya. Atau paling tidak telah terjadi pencampuradukan antara tafsir ayat di satu pihak dan teks asli Al-Quran di pihak lain.

[Sumber: Buku Putih Mazhab Syiah: Menurut Para Ulamanya yang Muktabar. Penulis oleh  Tim Ahlul Bait Indonesia.  Cetakan IV, Desember  2012]

Mon, 27 Jan 2014 @12:02

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved