AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Ajaran Syiah: Prinsip Al-Imamah

image

Dalam prinsip al-imamah (kepemimpinan), Syiah meyakini bahwa kebijakan Tuhan (al-hikmah al-Ilahi-yah) menuntut perlunya kehadiran seorang imam sesudah meninggalnya seorang rasul guna terus dapat membimbing umat manusia dan memelihara kemurnian ajaran para nabi dan agama Ilahi dari penyimpangan dan perubahan.

Selain itu, untuk menerangkan kebutuhan-kebutuhan zaman dan me nyeru umat manusia ke jalan serta pelaksanaan ajaran para nabi. Tanpa itu, tujuan penciptaan, yaitu kesempurnaan dan kebahagiaan (al-takamul wa al-sa’adah) lebih sulit dicapai.

Oleh karena itu, Syiah meyakini bahwa sesudah Nabi Muhammad Saw wafat ada seorang imam untuk setiap masa yang melanjutkan misi Rasulullah Saw. Mereka adalah orang-orang yang terbaik pada masanya.

Dalam hal ini, Syiah (Imamiyah) meyakini bahwa Allah telah menetapkan garis imamah sesudah Nabi Muhammad Saw pada orang-orang suci dari dzuriyatnya atau keturunannya, yang berjumlah 12 orang, yaitu 1. Ali ibn Abu Thalib, 2. Hasan ibn Ali Al-Mujtaba, 3. Husan ibn Ali Sayyidussyuhada, penghulu para syuhada,  4. Ali ibn Husain, 5. Muhammad Al-Baqir, 6. Ja’far ibn Muhammad Ash-Shadiq, 7. Musa ibn Ja’far, 8. Ali ibn Musa Ar-Ridha, 9. Mohammad ibn Ali Al-Taqi Al-Jawad, 10. Ali ibn Mohammad an-Naqi Al-Hadi, 11. Hasan ibn Ali Al-Askari, dan terakhir, 12. Muhammad ibn Hasan Al-Mahdi. Syiah meyakini bahwa Imam Muhammad ibn Hasan Al-Mahdi masih hidup hingga sekarang ini, tapi dalam keadaan gaib, namun akan muncul kembali pada akhir zaman.

Syiah meyakini bahwa kedua belas Imam tersebut di atas telah dinyatakan oleh Rasulullah Saw sebagai imam-imam sesu dahnya. Adapun pengangkatannya, Syiah meyakini bahwa seorang imam diangkat melalui  nash  atau pengangkatan yang jelas oleh Rasulullah Saw atau oleh imam sebelumnya. Imam Ali ibn Abu Thalib, misalnya, Syiah meyakini bahwa Nabi Saw telah mengangkat dan menetapkannya sebagai imam sesudah   beliau. Demikian pula Imam Hasan dan Husain, putra-putra Ali. Keduanya telah ditetapkan oleh Rasu lullah Saw dan kemudian dikukuhkan oleh Imam Ali ibn Abu Thalib dan kemudian oleh Imam Hasan ibn Ali.

Syiah meyakini bahwa  imamah  bukan sekadar jabatan politik atau kekuasaan formal, tetapi sekaligus sebagai jabatan spiritual yang sangat tinggi. Selain menyelenggarakan pemerintahan Islam, imam bertanggung jawab membimbing umat manusia dalam urusan agama dan dunia mereka. Imam juga ber tanggung jawab memelihara syariat Nabi Muhammad Saw dari kemungkinan penyimpangan atau perubahan dan bertanggung jawab untuk terus memperjuangkan tercapainya tujuan pengutusan Nabi Muhammad Saw.

Syiah meyakini bahwa seorang imam tidak membawa syariat baru. Kewajibannya hanyalah menjaga agama Islam, memperkenalkan, mengajarkan, menyam paikannya, dan membimbing manusia kepada ajaran-ajaran yang luhur. Semua yang mereka sampaikan adalah apa-apa yang sebelumnya telah di-sampaikan oleh Rasulullah Muhammad Saw.

Syiah juga meyakini bahwa seorang imam wajib bersifat ma’shum, terpelihara dari perbuatan dosa dan kesalahan, karena seorang yang tidak maksum tidak dapat dipercaya sepenuhnya untuk diambil darinya prinsip-prinsip agama maupun cabang-cabangnya.

Oleh karena itu, Syiah meyakini bahwa ucapan seorang imam maksum, perbuatan, dan persetujuannya, ada-lah  hujjah syar’iyyah,  kebenaran agama, yang mesti dipatuhi.

Dalam Al-Quran Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amr di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu be-nar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (ba-gimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. Al-Nisa [4]: 59).

Syiah meyakini ketaatan kepada Ulil Amr berarti ketaatan kepada imam yang ma’shum. Karena, dalam ayat di atas, ketaatan kepada Ulil Amr disebutkan secara bersamaan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, sebagaimana ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya secara mutlak wajib, maka demikian pula ketaatan kepada Ulil Amr. Oleh karena itu, secara logis dapat difahami bahwa kewajiban untuk taat kepadanya harus sejalan dengan keharusan Ulil Amr terjaga dari kesalahan. Sebab, Jika Ulil Amr tidak terjaga dari kesalahan, maka ketaatan mutlak kepadanya bisa menimbulkan dampak kekeliruan atau kesesatan.

Akan tetapi, perlu ditegaskan bahwa konsep imamah dan kemaksuman hanya berlaku pada 12 Imam penerus Rasulullah. Dengan demikian, semua ulama walaupun menggunakan gelar Imam seperti Imam Khomeini, gelarnya itu bersifat  majaz (kiasan) dan tidak sama dengan imam yang telah disebutkan dalam teks.

Imamah juga tidak ada kaitannya dengan konsep nation-state (negara-bangsa) dalam konteks modern. Bahkan, sampai zaman sekarang pun ulama Syiah membatasi peran sebagai pemimpin spiritual, baik sebagai model keluhuran akhlak maupun sebagai penjamin terpeliharanya syariat Islam di segala bidang kehidupan. Kalaupun ada ulama yang terlibat dalam pemerintahan, maka keterlibatannya tak terkait langsung dengan keulamaannya.

Oleh sebab itu, pandangan bahwa Syiah bertujuan menegakkan ke pemimpinan atau pemerintahan (imamah) sebagai bagian dari rukun agama tidaklah berdasar. Sebagai mana Ahlus Sunnah (Ahlus Sunnah wal Jamaah), Syiah memandang penegakan pemerintahan sebagai bagian dari prinsip kemaslahatan umum.

Dalam prinsip al-‘adl (kemahaadilan Tuhan), Syiah meyakini bahwa Allah Swt Mahaadil. Dia tidak pernah dan tidak akan pernah berbuat zalim atau berbuat sesuatu yang dianggap jelek oleh akal sehat kepada hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Syiah meyakini bahwa manusia tidak terpaksa dalam perbuatan-perbuatannya. Ia melakukannya atas pilihannya sendiri karena Allah telah memberikannya kebebasan kepadanya dalam perbuatan-perbuatannya.

Oleh karena itu, manusia akan menerima konsekuensi dari perbuatan-perbuatannya. Yang baik akan mendapat kan balasan kebaikan, sedangkan yang berbuat jahat akan menanggung akibat perbuatannya.

Dalam prinsip  al-ma’ad (hari akhir), Syiah meyakini bahwa suatu hari nanti seluruh umat manusia akan dibangkitkan dari kubur dan dilakukan hisab atas perbuatan-perbuatan mereka di dunia. Yang berbuat baik akan mendapatkan surga, sementara yang berbuat keburukan dimasukkan ke neraka.

Syiah meyakini bahwa tubuh dan jiwa atau ruh manusia bersama-sama akan dibangkitkan di akhirat dan bersama-sama pula akan menempuh kehidupan baru, sebab keduanya telah bersama-sama hidup di dunia, karena itu bersama-sama pula harus menerima balasan yang setimpal, pahala atau hukuman.

Syiah meyakini bahwa pada hari kiamat nanti setiap orang akan menerima buku catatan amalnya masing-masing. Orang salih akan menerimanya dengan tangan kanan, sementara orang fasik akan me-nerima dengan tangan kirinya.

Syiah meyakini bahwa di akhirat nanti akan ada timbangan amal dan jembatan  sirathal-mustaqim, yaitu jembatan yang terbentang di atas neraka, yang akan dilalui oleh setiap orang. Akan tetapi, untuk dapat selamat dari timbangan atau mampu melewati jalan yang amat berbahaya itu bergantung pada amal perbuatan manusia itu sendiri.

Syiah meyakini bahwa para nabi, imam maksum, dan wali-wali Allah akan memberi syafaat kepada sebagian pendosa dengan izin Allah, sebagai bagian dari pemberian maaf Allah kepada hamba-hambaNya. Akan tetapi, izin itu hanya diberikan kepada orang-orang yang tidak memutus hubungan dengan Allah dan para kekasih-Nya. Dengan demikian, syafaat tidak berlaku mutlak, tetapi dengan syarat-syarat tertentu, yang ada hubungannya dengan amal dan niat kita.

Syiah meyakini bahwa di antara alam dunia dan alam akhirat ada alam ketiga yang disebut dengan alam barzakh, yaitu alam di mana ruh manusia bersemayam di sana sesudah kematian hingga datang Hari Kiamat. Di alam itu, orang yang salih akan hidup nikmat, sedangkan orang yang kafir dan atau bejat akan hidup sengsara.

[Sumber: Buku Putih Mazhab Syiah: Menurut Para Ulamanya yang Muktabar. Penulis oleh  Tim Ahlul Bait Indonesia.    Cetakan IV, Desember 2012]

 

Sun, 29 Oct 2017 @12:50

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved