Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Kaum Takfiri dan Kelompok Makar di Indonesia

image

Kaum takfiri yang benci dengan Islam mazhab Syiah menyebarkan isu akan terjadinya makar dari kalangan Muslim Syiah. Kaum takfiri menyebut imamah dan wilayah faqih sebagai ideologi yang bisa menggantikan Pancasila di Indonesia kalau Muslim Syiah memiliki massa yang banyak dan menguasai parlemen.

Sejarah Indonesia membuktikan bahwa tidak ada orang Islam Syiah yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Indonesia. Yang tercatat justru berasal dari umat Islam non Syiah dan non Islam seperti Pemberontakan DI/TII, Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Pemberontakan G30s/PKI, Republik Maluku Selatan (RMS), Pemberontakan Permesta, dan lainnya.

Demikian papar sejarawan Anhar Gonggong dalam media resmi Ahlul Bait Indonesia (ABI). Menurut Anhar Gonggong bahwa tidak ada dalam sejarah Indonesia, Syiah melakukan gerakan pemberontakan terhadap NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

“Kartosuwiryo, Kaharmuzakar maupun Ibnu Hajar yang pernah melakukan pemberontakan terhadap NKRI, mereka semua bukanlah orang Syiah,” kata Anhar.

Pernyataan sama dikemukakan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia (PP ABI) Hasan Daliel Alaydrus bahwa Imamah yang dikhawatirkan oleh sebagian orang sebagai anti Pancasila adalah tidak benar. Imamah dipahami Syiah tidak sama dengan Imamah yang ada di tempat lain yang ingin mengganti NKRI dengan kekhalifahan, khilafah, imarah, daulah, dan lainnya.

“Imamah yang dipahami oleh Syiah Indonesia adalah hubungan spiritual dengan seorang Marja’ atau Fukaha, seperti halnya hubungan spiritual kaum Katolik dengan pemimpin mereka di Vatikan,” tegas Hasan.

Begitu juga dengan IJABI (Ikatan Jamaah Ahlu Bait Indonesia) dalam situs resminya Majulah Ijabi menegaskan bahwa kelompok takfiri dikarenakan tak bisa melawan Muslim Syiah dengan nalar dan akal sehat, mereka menggunakan kekerasan. Mereka kemudian menghembuskan fitnah.

Tuduhan yang paling sering mereka alamatkan kepada pengikut mazhab Ahlulbait di Indonesia adalah bahwa pengikut mazhab Ahlulbait Nabi Muhammad Saw ini hendak mengimpor revolusi Iran. Mereka menuduh pengikut mazhab Ahlulbait di bumi pertiwi akan merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahwa pengikut mazhab pencinta keluarga Nabi Saw ini menjadi sumber potensi konflik di tengah masyarakat. Kalau ditelusuri justru yang menuduh itulah yang memiliki potensi meruntuhkan persatuan bangsa Indonesia. Pengurus Pusat IJABI dalam situsnya menulis:

“Siapa yang telah menebar teror dan pembunuhan di bumi Indonesia ini? Siapa yang telah membunuh orang-orang tak bersalah itu? Siapa yang mengebom di Kedutaan Australia 2004? Siapa yang melakukan peledakan di hotel JW tahun 2003 dan 2009?Siapa yang melakukan bom Bali tahun 2002 dan 2005? Siapa dibalik kerusuhan Ambon yang bertahun-tahun? Siapa pelaku kerusuhan Poso yang sampai sekarang belum selesai itu, yang membunuh polisi dan menghina negara? Siapa yang bersembunyi di pesantren Umar Bin Khattab di Bima yang melawan polisi itu, yang tidak menghormati bendera merah putih? Siapa yang melakukan bom bunuh diri di kantor polisi Cirebon tahun 2011? Siapa yang menolak Pancasila di negri ini ?

Siapa yang terang-terangan tidak menerima pemerintahan Indonesia yang disebutnya pemerintahan kafir yang tak berhukum dengan hukum Tuhan? Siapa yang berniat melakukan revolusi dan hendak mendirikan negara Islam di negri ini? Coba tanya Abu Jibril, adakah dia menerima Pancasila? Tanya Majelis Mujahidin dan Ansharut Tauhid, apakah yang mereka inginkan di negeri ini? Mereka adalah kelompok takfiri. Merekalah yang oleh organisasi NU disebut harus diwaspadai. Merekalah yang merasa benar sendiri  dan selainnya mereka kafirkan. Sungguh, merekalah penyebar keresahan dan penyebab kerusuhan. Merekalah yang merongrong NKRI. Merekalah yang menolak Pancasila sebagai dasar negara. Merekalah yang menodai Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan ketika jumlah mereka yang kecil, di usia mereka yang singkat, mereka berani melakukan kekerasan dengan menjadikan agama sebagai penutup muka.”

Pernyataan resmi IJABI tersebut sesuai dengan landasan organisasi yang termuat dalam anggaran dasar yang menyatakan Pancasila sebagai satu-satunya azasBahkan dalam beberapa kegiatan IJABI tidak lepas pembacaan Pancasila, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan menghadirkan orang-orang penting dari berbagai kalangan. Hal itu agar diketahui bahwa IJABI merupakan organisasi yang menjunjung tinggi UUD 1945 dan membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nah, coba bandingkan dengan orang-orang yang sering teriak Allahu Akbar! Jelas Muslim Syiah Indonesia adalah cinta NKRI.  

(misykat)

Mon, 15 May 2017 @08:46

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved