Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Isu-Isu Ikhtilaf Ahlus Sunnah dan Syiah (1)

image

Tahrif Al-Quran

Orang Syiah meyakini bahwa pendapat yang menyatakan adanya kemungkinan perubahan dalam Al-Quran adalah mengingkari Al-Quran dan jaminan Allah untuk menjaganya, berikut ini: ٩ : ﹶﹶﺎﻓﹺﻈﹸﻮﹾﻥﹶ ﴿ﺍ ﳊﺠﺮ ﺇﹺﻧﱠﺎ ﻧﹶﺤﹾﻦﹸ ﻧﹶﺰﱠﻟﹾﻨﹶﺎ ﺍﻟﺬﱢﻛﹾﺮﹶ ﻭﹶ ﺇﹺﻧﱠﺎ ﻟﹶﻪﹸ “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya kami benar- benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr [15]: 9).

Jumhur ulama Syiah meyakini bahwa Al-Quran yang ada di tangan kaum Muslim saat ini adalah satu-satunya Al-Quran dan merupakan wahyu Allah yang turun kepada Muhammad Rasulullah. Misalnya, pandangan ahli tafsir Syiah, Al-Faidh Al-Kâsyâni  terhadap kesucian Al-Quran tertera di mukadimah keenam tafsir Ash-Shâfi, Tafsir bil-Ma’tsûr (1/40-55).

Selain itu, dalam kitab tafsir al-Ashfâ tentang tafsir ayat: ﺎﻓﹺﻈﹸﻮﻥﹶ . ﻭﹶ ﺇﹺﻧﱠﺎ ﻟﹶﻪﹸ “… dan sesungguhnya Kami benar-benar me- me  lihara nya.”

Beliau menafsirkannya,  “... dari tahrif, perubahan, penambahan dan pengurangan.  ﻣﻦ اﻟﺘﺤﺮﯾﻒ واﻟﺘﻐﯿﯿﺮ واﻟﺰﯾﺎدة ( .) واﻟﻨﻘﺼﺎن ” Rujuk pula penegasan beliau dalam kitab Al- Wâfi (1/273-274). Asal-muasal tuduhan  tahrif   terhadap  Syiah di- amb il dari pandangan segelintir ulama Syiah dari kelompok akhbari. Munculnya klaim adanya tahrif di kal angan akhbari ini diprakarsai oleh Syaikh Ni’matullah Al-Jazâiri (1050-1112 H) dan dilanjutkan Syaikh Nuri (1254-1320 H) dalam kitab Fashlu Al-Khithâb.

Dalam klaim kedua tokoh akhbari ini, Al-Kulaini juga berpegang pada pandangan tahrif. Akibatnya, hadis- hadis yang dinukil Al-Kulaini yang berkenaan dengan tahrif seolah-olah menegaskan pandangannya tentang tahrif.

Padahal, kita mengetahui kaidah naqilul kufri laysa bi kafir (penukil kekufuran tidaklah serta-merta kafir) sehingga baik Al-Kulaini maupun Al-Bukhari sama-sama tidak meyakini tahrif meski sama-sama memuat sejumlah hadis yang menyiratkan tentang tahrif. Untuk membuktikan hal ini, kita dapat merujuk mukadimah al-Kâfi  yang beliau tulis.

Perhatikan apa yang beliau katakan:  ﺃﺭﺷﺪﻙ ﺍﷲ - ﺃﻧﹶﻪ ﻳﺴﻊ ﺃﺣﺪﹰﺍ ﺇﻋﻠﻢ ﻳﺎ ﺃﺧﻲ ﲤﻴﻴﺰ ﺷﻴﺊ ﳑﹺﹶﺎ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﻓﻴﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻠ ﲈﺀ ) ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﺴﻼﻡ   ( ﺑﺮﹶﺃﻳﹺﻪ ﺇﻻﹶ ﻣﺎ ﺃﻃﻠﻘﻪ ﺍﻟﻌﺎ ﱂﹸ   ) ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ( ﺑﻘﻮﻟﻪ : ﺃﻋﺮﺿﻮﻫﺎ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﷲ، ﻭﺍﻓﻖ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﷲ ﻓﺨﺬﻭﻩ، ﻣﺎ ﺧﺎﻟﻒ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﷲ ﻓﺮﺩﹸﻭﻩ . ﻭﻗﻮﻟﻪ )  ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ : ﺩﻋﻮﺍ ﻣﺎ ﻭﺍﻓﻖ ﺍﻟﻘﻮﻡﹶ ﻓﹶﺈﹺﻥﱠ ﺍﻟﺮﺷﺪ ﺧﻼﻓﻬﻢ . ﻗﻮﻟﻪ : ﺧﺬﻭﺍ ﺑﺎ ﹸﺠﻤﻊ ﻋﻠﻴﻪ، ﻓﺈﹺﻥﱠ ﹸﺠﻤﻊ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﻳﺐﹶ ﻓﻴﻪ . ﻧﺤﻦ ﻧﻌﺮﻑ ﻣﻦ ﲨﻴﻊ ﺫﻟﻚ ﺇﻻﱠ ﺃﻗﻠﱠﻪ، ﻧﺠﺪ

ﺷﻴﺌﺎ ﺃﺣﻮﻁ ﻭﻻ ﺃﻭﺳﻊ ﻣﻦ ﺭﺩ ﻋﻠﻢ ﺫﻟﻚ ﻛﹸﻠﻪ    ﻗﺒﻮﻝ ﻣﺎ ﻭﺳﻊ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﺮ ، ( ﺍﻟﻌﺎ ) ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﺃﺧﹶﺬﹾﺗﻢ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﻓﻴﻪ ﺑﻘﻮﻟﻪ ) ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ : ( ﺑﹺﺄﹶ ﺍﻟﺘﺴﻠﻴﻢ ﻭﹶﺳﹺﻌﹶﻜﻢ

“Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya tidaklah boleh bagi seseorang membedakan de ngan pendapatnya sendiri sesuatu yang da- tang dari para imam berupa riwayat-riwayat yang berselisih, kecuali didasarkan atas apa yang dinyatakan imam itu sendiri: ‘Sodorkan riwayat-riwayat itu kepada Kitabull ah (Al- Quran). Apa yang sesuai dengan Kitabullah (Al-Quran), maka ambillah dan yang menya- lahi Kitabullah (Al-Quran), maka tinggalkan- lah!’ Dan perkataan beliau a.s.: ‘Jauhi (pan- dangan) kaum (pengikut para  penguasa) itu karena kebenaran ber ada pada kebalikan dari (pandangan) mereka.’ Dan perkataan be- liau a.s.: ‘Ambillah yang disepakati, sebab yang disepakati itu tidak mengandung ke- ragu an.’ Dan kami tidak mengetahui dari semua itu melainkan sebagian kecil, dan kami tidak mendapatkan sesuatu yang lebih berhati-hati dan lebih di perbolehkan daripada mengembalikan semua itu kepada imam, dan menerima perkara itu berdasarkan perkataan beliau: ‘Maka dengan yang mana saja dari kedua riwayat itu kalian mengambilnya sebagai bukti kepatuhan, maka itu diperbolehkan.”

Dalam kalimat mukadimah di atas tidak terdapat kalimat yang dapat dijadikan bukti bahwa beliau mensahihkan seluruh hadis yang beliau himpun dalam kitab Al-Kâfi . Sebab, apabila beliau meyakini kesahihan seluruh hadis Al-Kâfi , tentu beliau tidak akan menyebut-nyebut kaidah tarjîh hadis yang dibangun oleh para imam Ahlul Bait a.s. dalam menyikapi riwayat-riwayat yang muta’âridhah (saling bertentangan), yaitu dengan menyodorkannya kep ada Al-Quran, dan mengambil hadis yang mujma’ ‘alaihi (disepakati).

Kalaupun kita anggap hadis-hadis yang diriwayatkan Al-Kulaini menunjukkan secara tegas makna tahrif, maka hadis-hadis itu bertentangan dengan banyak hadis lain yang juga diriwayatkan oleh Al-Kulaini dalam Al-Kâfinya. Dalam kitab ini, Al-Kulaini telah meriwayatkan banyak hadis yang membuktikan bahwa Al-Quran yang beredar di kalangan umat Islam adalah lengkap dan terjaga dari tahrif.

Hadis- hadis itu tersebar di berbagai bab yang beliau tulis, di antaranya pada bab Keutamaan Pengemban Al-Quran, Siapa yang Belajar Al-Quran dengan Susah Payah, Siapa yang Menghafal Al-Quran Kemudian Ia Lupa, Pahala Membaca Al-Quran, Membaca Al-Quran dengan Melihat dalam Mushaf, Rumah-Rumah yang Al-Quran Dibaca di Dalamnya. Hadis- hadis tersebut jauh lebih kuat, lebih banyak, dan lebih jelas petunjuknya.

Dengan demikian, berdasarkan kaidah tarjîh yang ditetapkan sendiri oleh Al-Kulaini, maka apabila ada dua hadis yang saling bertentangan dan tidak dapat diharmoniskan dengan pemaknaan yang tepat, maka keduanya harus disodorkan kepada Al-Quran, yang sesuai dengannya kita ambil dan yang bertentangan harus ditinggalkan.

[Buku Putih Mazhab Syiah: Menurut Para Ulamanya yang Muktabar. Penulis oleh  Tim Ahlul Bait Indonesia (ABI).  Cetakan IV, Desember 2012. ISBN: 978-602-8767-99-6]

 

Thu, 5 Mar 2015 @18:12

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved