Rukun Iman dan Rukun Islam

image

Di bawah ini buktinya, sesuai dengan hadis-hadis sahih di kalangan Ahlus Sunnah. Hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya, 1/30 Bab Al-Imân Ma Huwa wa Bayâni Khishalihi.

Hadis Bukhari: dari Abu Hurairah, dia berkata, “Pada suatu hari, Nabi Saw. muncul di hadapan orang- orang. Kemudian Jibril mendatanginya dan berkata, ‘Apakah iman itu?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, percaya kepada pertemuan dengan-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, dan engkau percaya kepada yang gaib.’”

Dikatakan bahwa Syiah memiliki Rukun Iman dan Rukun Islam yang berbeda dengan yang dipercayai Ahlus Sunnah. Kenyataannya, rumusan Rukun Iman dan Rukun Islam adalah konsensus atau konvensi, sementara sesungguhnya banyak dasar yang menunjukan bahwa Rukun Islam dan Rukun Iman bisa didefinisikan dan ditetapkan sebagai memiliki jumlah dan kandungan yang berbeda.

 

Hadis Muslim: dari Abu Hurairah, dia berkata, “Pada suatu hari, Nabi Saw muncul di hadapan orang- orang. Kemudian Jibril mendatanginya dan berkata, ‘Apakah iman itu?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, percaya kepada pertemuan dengan-Nya, kepada rasul-rasul-Nya.’”

Hadis di atas menyebutkan bahwa Rukun Iman itu hanya mencakup beriman:

1.  Kepada Allah,

2.  Kepada para malaikat,

3.  Kepada kitab-Nya,

4.  Kepada perjumpaan dengan-Nya,

5.  Kepada para Rasul,

6.  Kepada Hari Kebangkitan.

Tidak ada sebutan apa pun tentang kewajiban percaya kepada qadha’ dan qadar. Hadis sahih dalam riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya, 1/35 Bab Al-Amru Bil Imân Billah wa rasûlihi, seperti di bawah ini: “Aku perintahkan kamu agar mengesakan keimanan hanya kepada Allah! Tahukah kamu apa iman kepada Allah itu?”

Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan membayar khumus (seperlima dari keuntungan/perolehan).”

Hadis di atas menegaskan bahwa inti keimanan itu sebagai berikut:

1. Bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah,

2. Dan bersaksi Muhammad adalah Rasul Allah,

3. Menegakkan shalat,

4. Membayar zakat,

5. Berpuasa di bulan Ramadhan,

6. Membayar khumus.

Dengan demikian, ketiadaan unsur-unsur tertentu dalam rumusan Rukun Islam dan Rukun Iman tak boleh difahami sebagai satu-satunya tolok ukur dalam keislaman dan keimanan seseorang.

Bagi yang berminat untuk mengetahui prinsip-prinsip keimanan dan keislaman Syiah kiranya dapat meneliti ulasan-ulasan mengenai hal ini yang ditulis oleh para ulama Syiah, baik klasik maupun kontemporer, antara lain kitab-kitab Syaikh Shadûq, Syaikh Mufid, Sayyid Al-Murtadha, Al-Karâjiki, All amah Al-Hilli, Khawaja Syaikh Nashiruddîn Ath-Thusi, juga kitab-kitab Syaikh Muhammad Ridha Al-Mudhaffar, Syaikh Kas yif Al-Ghithâ’, Allamah Thabathabai, Syaikh Allamah Ja’far Subhâni, Syaikh Allamah Abdullah Jawadi Amuli, Sayyid Allamah Kamâl Al-Haidari, dan sebagainya.

[Buku Putih Mazhab Syiah: Menurut Para Ulamanya yang Muktabar. Penulis oleh  Tim Ahlul Bait Indonesia (ABI).  Cetakan IV, Desember 2012. ISBN: 978-602-8767-99-6]


Fri, 17 Feb 2017 @20:39

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved