Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Perkawinan Mutah

image

Tak dapat dimungkiri bahwa institusi perkawinan mutah sering kali disalahfahami, baik oleh yang tidak dapat menerimanya, maupun oleh yang menerimanya. Khusus terkait dengan kelompok yang menerimanya, juga tak dapat dimungkiri adanya penyelewengan-penyelewangan dan praktik-praktik yang tak dapat dibenarkan. Namun, hal ini tentunya tak serta-merta membatalkan keabsahannya. Karena sesungguhnya, bukan hanya mut’ah yang terbuka bagi penyelewengan, melainkan juga aturan-aturan syariat lainnya. Bahkan, bukan tidak mungkin institusi perkawinan biasa (permanen, da'im) tak jarang diwarnai oleh praktik yang bertentangan dengan syariat.

Semua Muslim sepakat bahwa pada periode pertama Islam, yakni di zaman Nabi Saw perkawinan mutah dibolehkan. Juga disepakati di kalangan kaum Muslim bahwa Khalifah Kedua, selama periode kekhalifahannya, melarang perkawinan mutah. Khalifah Kedua, dalam kata-katanya yang termasyhur mengatakan, “Ada dua hal yang dibolehkan pada zaman Nabi, namun dengan ini saya larang pada hari ini, dan saya akan menghukum siapa pun yang melakukannya: nikah mut’ah dan mut’ah haji.”

Meskipun demikian, Ahlus Sunnah percaya bahwa Nabi Saw sendiri, di kemudian hari, melarang perkawinan mut’ah, sedangkan larangan Khalifah sesungguhnya merupakan kelanjutan dari larangan Nabi Saw yang dilaksanakan oleh khalifah yang menggantikan Nabi Saw. Kalaupun pandangan ini memiliki kemungkinan benar, kaum Syiah memilih untuk mengambil dalil yang pasti bahwa mut’ah pernah dihalalkan oleh Nabi, dan bukan dalil pelarangannya oleh Nabi, yang masih bersifat kontroversial.

Dasar Qurani Perkawinan Mut’ah: “Dan orang-orang yang mencari kenikmatan (istamta’tum, dari akar kata yang sama sebagai mut’ah) dengan menikahi mereka (perempuan-perempuan), maka berikanlah mahar mereka sebagai suatu kewajiban. Dan tidaklah mengapa atas hal lain yang kalian sepakati selain kewajiban (awal), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Bijaksana.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 24).

Dasar Hadis

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Qais ibn Abi Hazim, dia mendengar Abdullah ibn Mas’ud r.a. berkata: “Kami berperang ke luar kota bersama Rasulullah Saw, ketika itu kami tidak bersama wanita-wanita, lalu kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kami mengebiri diri?’, maka beliau melarang kami melakukannya, lalu beliau mengizinkan kami mengawini seorang wanita dengan mahar (maskawin) sebuah baju.”

Setelah itu, Abdullah membacakan ayat:  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan jangan kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 87).

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Hasan ibn Muhammad dari Jabir ibn Abdillah dan Salamah ibn Al-Akwa’ keduanya berkata: “Kami bergabung dalam sebuah pasukan, lalu datanglah rasul (utusan) Rasulullah Saw, dia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah Saw telah mengizinkan kalian untuk menikah mut’ah, maka bermut’ahlah kalian.’”

Persamaan dan Perbedaan Perkawinan Permanen (Da’im) dan Perkawinan Mut’ah

Tidak seperti diembus-embuskan oleh sementara orang, kawin mut’ah sama sekali tak sama dengan pelacuran terselubung. Kawin mut’ah memiliki banyak persamaan dengan kawin permanen (da’im).

Persamaan

Pertama, status anak. Anak-anak yang lahir dari pasangan perkawinan mut’ah sama sekali tidak ada bedanya dengan anak-anak yang lahir dari pasangan perkawinan permanen. Kedua, mahar. Mahar adalah juga sebuah prasyarat dalam sebuah perkawinan permanen maupun dalam sebuah perkawinan mut’ah. Ketiga, mahram.

Dalam perkawinan permanen, ibu dan anak perempuan istri, serta ayah dan anak laki-laki suami diharamkan (untuk perkawinan) dan mereka adalah mahram. Dalam perkawinan mut ’ah, terkait hubungan di atas, kasusnya sama juga.

Dalam kasus istri perkawinan permanen, seorang laki-laki tidak bisa, selama istri masih hidup, menikahi adik atau kakak perempuan istri tersebut. Dalam kasus perkawinan mut’ah, saudara perempuan si istri juga tidak dapat dinikahi pada waktu yang sama oleh laki-laki yang sama.

Di samping itu, sebagaimana melamar atau meminang seorang perempuan yang terikat perkawinan permanen adalah haram hukumnya, maka begitu pula dengan melamar atau meminang seorang perempuan yang terikat perk awinan mut’ah; karena berzina dengan seorang perempuan yang terikat perkawinan permanen membuat perempuan ini diharamkan bagi si pezina itu untuk selamanya, maka begitu pula kasusnya dengan seorang perempuan yang terikat perkawinan mut’ah. Keempat, adanya iddah.

Perbedaan

Jangka Waktu

Salah satu elemen yang membedakan antara perkawinan permanen dan perkawinan mut’ah adalah bahwa dalam perkawinan yang jangka waktunya ditentukan, seorang perempuan dan seorang laki-laki mengambil keputusan bahwa mereka berdua akan menikah untuk jangka waktu yang ditentukan. Dan pada akhir waktu yang sudah ditentukan, jika mereka berdua cenderung untuk memperpanjang waktunya, mereka berdua bisa memperpanjangnya, dan jika mereka tidak mau, mereka bisa berpisah.

Mahar

Dalam perkawinan mut’ah, tidak adanya perincian jumlah mahar meniadakan atau membuat tidaksahnya perkawinan. Sedangkan dalam perkawinan permanen, hal ini tidak meniadakan atau membuat tidak sahnya (sebuah perkawinan). Konsekuensinya adalah kewajiban untuk membayar mahar standar (Mahr al-Mitsl).

Lingkup Kebebasan

Dalam perkawinan mut’ah, pasangan perkawinan memiliki kemerdekaan yang lebih besar dalam menetapkan syarat sesuai keinginan mereka. Sebagai contoh, dalam sebuah perkawinan permanen seorang laki-laki bertanggung jawab, entah dia suka atau tidak, untuk menutup biaya-biaya hidup harian, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup lainnya, seperti pengobatan dan obat.

Namun dalam perkawinan mut’ah, pasangan nikah disatukan lewat akad merdeka yang disepakati bersama. Bisa saja si laki-laki tidak mau, atau tidak sanggup, memikul biaya-biaya ini, atau bahwa si perempuan tidak mau menggunakan uang si laki-laki.

Dalam perkawinan permanen, si istri, entah dia suka atau tidak, harus menerima si laki-laki sebagai kep ala rumah tangga dan melaksanakan apa yang dikatakan si laki-laki untuk kepentingan situasi keluarga. Namun dalam perkawinan mut’ah, segala sesuatunya bergantung pada syarat-syarat perjanjian yang dibuat bersama.

Pewarisan

Dalam perkawinan permanen, si istri dan si suami, entah mereka suka atau tidak, akan memiliki hak saling mewarisi, sedangkan dalam perkawinan mut’ah, tidak demikian kejadiannya. Dengan demikian, perbedaan riil dan penting antara pernikahan permanen dan perkawinan mut’ah adal ah bahwa perkawinan mut’ah, sejauh menyangkut batas dan syarat, adalah “bebas”. Artinya tergantung pilihan dan akad di antara kedua belah pihak, sesuai dengan prinsip kebebasan yang disinggung di atas.

Masa ‘Iddah

Periode ‘iddah bagi perempuan dalam perkawinan permanen adalah tiga periode menstruasi, sedangkan dalam perkawinan mut’ah, periode ‘iddahnya adalah dua periode menstruasi atau empat puluh lima hari (lihat kitab Tahrir Wasilah, Imam Khomeini, Bab Nikah). Berbeda dengan perkawinan permanen, di mana ‘iddah juga berfungsi sebagai masa tenggang untuk kepantasan dan penyesuaian psikologis, ‘iddah dalam mut’ah selain berfungsi untuk memastikan bahwa perempuan yang baru selesai melakukan mut’ah, tidak mengalami kehamilan.

[Buku Putih Mazhab Syiah: Menurut Para Ulamanya yang Muktabar. Penulis oleh  Tim Ahlul Bait Indonesia (ABI).  Cetakan IV, Desember 2012. ISBN: 978-602-8767-99-6]

 

Tue, 4 Feb 2014 @22:05

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved