Hadis Tsaqalayn: Pembatasan Personalia Ahlul Bait [by Muhammad Babul Ulum]

image

Kemutawatiran hadis tsaqalayn yang mewajibkan seluruh umat Islam—tanpa terkecuali—memegang teguh ‘itrah Rasulillah Saw. Barangkali, timbul pertanyaan siapakah jati diri Ahlulbayt yang oleh Rasulullah Saw diumpamakan seperti kapal Nabi Nuh, selamat bagi yang menaikinya dan celaka bagi yang berpaling.

Penegasan Nabi yang seperti itu menunjukan bahwa Ahlulbayt merupakan jaminan keselamatan dunia akhirat. Oleh karena itu, tidak aneh bila Imam Syafi’i, salah satu dari empat pemuka madzhab terkenal, bersenandung:

Saat kulihat orang banyak telah tersesat

Terbawa arus gelombang kebathilan dan kejahilan

Aku pun berlayar bersama bahtera-bahtera penyelamat

Yaitu keluarga Al-Mushthafa penutup para Rasul

Kepegang erat-erat tali Allah penuh setia

Begitulah Allah memerintahkan (dalam Kitabnya).

Apakah istri-istri Rasulullah Saw termasuk Ahlulbayt yang dimaksud oleh beliau, sebagaimana pendapatnya Al-Albâni dan para pengikutnya yang memplokamirkan diri sebagai pembawa bendera salafiyah? Ataukah, yang dimaksud Ahlulbayt dalam ayat itu hanyalah Imam Ali dan istrinya, Sayidah Fathimah, beserta ke sebelas anak turunnya, sebagaimana pendapat Syi’ah?

Sebelum membahas secara rinci tentang hakikat Ahlulbayt yang sesungguhnya, Lebih bijaksana bila kita tengok terlebih dulu arti kata ‘itrah yang terdapat dalam wasiat Rasulullah Saw menurut ahli bahasa. Ini penting kita lakukan, agar kita tidak terperosok ke dalam kesalahan memahami hadis disebabkan oleh kesalahan memahami bahasa. Dan sebagai upaya mencegah munculnya kekacauan dalam memahami hadis tsaqalayn.

Ibnu Mandzûr dalam Lisân al-‘Arab, berpendapat, “Sesungguhnya yang dimaksud dengan al-‘itrah adalah anak cucu Fathimah—ini pendapat Ibnu Sayidah. Al-Azhari berkata, ‘Zaid bin Tsabit dalam sebuah riwayat berujar, ‘Rasulullah Saw bersabda sambil menyebut kata al-‘itrah.’.’ Menurut Ibnu Atsir, arti ‘itrah ar-rajul adalah orang dari keluarga khususnya. Al-Arabi berkata: al-‘itrah adalah anak seseorang beserta anak turunnya dan keturunan dari sulbinya, dia berkata: ‘‘itrah Nabi adalah anak Sayidah Fathimah al-Batul As.’

Demikian itu pendapat kalangan ahli bahasa Arab tentang makna al-‘itrah. Untuk memperjelas pembahasan kita dan menghindari timbulnya kerancuan dalam memahami makna al-‘itrah, ada baiknya bila kita berdalil dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah sebagai berikut:

Dari Aisyah, pada suatu sore Rasulullah Saw keluar membawa selimut, kemudian datang Hasan bin Ali, lalu beliau masukan ia ke dalam selimut, kemudian datang Husein, dan dimasukkannya lagi, kemudian datang Fathimah, dan dimasukkannya lagi, kemudian datang Ali, dan digabungkan bersama-sama mereka. Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran kalian Ahlilbayt dan mensucikan kalian dengan sesuci-sucinya.”

Imam Tirmidzi juga meriwayatkan dengan jalur yang berbeda seperti berikut: Dari Abi Salmah, ia berkata, “Ayat tathhîr turun di rumah Ummu Salamah. Kemudian Nabi memanggil Fathimah, Hasan, Husein, dan menyelemuti mereka dengan kasa’, sedangkan Ali di belakangnya, dan menyelimutinya pula dengan kasa’. Lalu beliau berkata, ‘Ya Allah, merekalah Ahlilbaytku, hilangkanlah rijs (kotoran) dari mereka, dan sucikan mereka sesuci-sucinya.’ Lalu Ummu Salamah berkata, ‘Apakah aku termasuk dari mereka wahai Rasulullah Saw?’ ‘Tidak,’ jawab beliau. Engkau tetap ditempatmu dan engkau berada dalam kebaikan.

Dari kedua hadis yang diriwayatkan oleh kedua tokoh Ahlussunnah di atas, tampak jelas sekali bahwa Ahlulbayt yang dimaksud dalam Al-Quran bukanlah seluruh orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah. Tidak pula istri-istri Rasulullah berhak menyandang gelar Ahlulbayt.

Oleh sebab itu, ketika Zaid bin Arqam ditanya dalam riwayat Muslim tentang siapakah Ahlulbaytnya? istri-istri Nabikah? Dia menjawab, “Tidak, demi Allah. Ketika seorang istri beberapa tahun bersama suaminya, kemudian dicerai, dia pun kembali kepada ayah dan kaumnya. Ahlulbayt adalah asal dan anak turunnya Rasulullah Saw, yang sepeninggal beliau, diharamkan shadaqah untuk mereka.

Kesaksian Zaid bin Arqam di atas cukup membuktikan bahwa Ahlulbayt adalah Ahlul Kasa’. Mereka adalah padanan Al-Quran. Rasulullah Saw mewajibkan seluruh umat Islam untuk berpegang dengan mereka, sebagaimana wasiat beliau dalam hadis tsaqalayn dalam pembahasan terdahulu.

Dengan demikian pendapat Al-Albâni yang mengatakan maksud al-‘itrah sebenarnya adalah para istri Nabi Saw termasuk Aisyah, dengan sendirinya tertolak, karena tidak sesuai dengan pemahaman ahli bahasa, sebagaimana tersebut dalam riwayat di atas. Sebenarnya, kesaksian Aisyah dalam riwayat Muslim bahwa yang dimaksud dengan Ahlulbayt adalah Ashabul Kasa’, sudah cukup mematahkan pendapat Al- Albâni. Di samping bahwa kebanggaan menjadi Ahlulbayt, sama sekali tidak pernah diklaim oleh para istri Rasulullah Saw.

Tidak ada satu pun dokumentasi sejarah yang menyebutkan bahwa istri-istri Rasulullah Saw berhujjah dengan ayat tathhîr. Berbeda dengan Ashabul Kasa’ yang senantiasa berhujjah dengan ayat ini. Imam Ali senantiasa berujar, “Sesungguhnya Allah memuliakan kami Ahlulbayt.” Bagaimana tidak, Allah sendiri telah berfirman dalam kitab-Nya, “Sesungguhnya Allah ingin menghilangkan kotoran dari kalian Ahlilbayt, dan mensucikan kalian dengan sesuci-sucinya.”

Putranya, Imam Hasan, juga pernah berkata kepada ‘Amr bin ‘Ash, Wakil pemimpin kaum pemberontak: Enyahlah engkau dariku! Sesungguhnya engkau adalah najis. Sedangkan kami adalah rumah kesucian. Allah telah menghilangkan najis dari kami. Dan mensucikan kami dengan sesucisucinya.

Tidak hanya itu saja. Kaum salaf juga mengakui bahwa gelar Ahlulbayt tidak dimiliki oleh siapa saja yang terjalin kekerabatan dengan Rasulullah Saw. Abu Jahal adalah paman Rasulullah, demikian pula Abu Lahab. Mereka tidak termasuk Ahlulbayt. Gelar ini sebagai kehormatan yang dikhususkan untuk keluarga Nabi yang tertentu saja yaitu para Imam Ahlulbayt.

Di antara kalangan salaf yang menegaskan hal ini adalah Al-Ashma’i, yang berkata kepada Imam Ali Zaenal Abidin yang bergelar As-Sajjâd, yang banyak sujud:

Tangis apakah ini wahai Tuanku, Engkau berasal dari rumah kenabian. Tempat pusat risalah. Bukankah Allah Swt telah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan noda Ahlilbayt, dan mensucikan dengan sesuci-sucinya.”

Kalangan ulama salaf mengakui keabsahan pemahaman Ahlulbayt seperti di atas. Sehingga Imam Fakhrurrazi, salah satu ulama tafsir terkemuka, yang pendapatnya seringkali dijadikan rujukan oleh kalangan Ahlus Sunnah berkata: “Ketahuilah bahwa riwayat ini telah disepakati kesahihannya oleh para ahli tafsir dan ahli hadis.”

[Sumber: Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah  karya Muhammad Babul Ulum; penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam] 

Thu, 7 Sep 2017 @11:32

AUDIO MISYKAT

BAHAN BACAAN
FACEBOOK MISYKAT
BERBAGI BUKU

 Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp pada KONTAK

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved