CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Ahlulbait Dalam Ayat Mubahalah [M.Babul Ulum]

image

Tatkala Rasulullah Saw berdakwah kepada kaum Nasrani Najran, mereka bersikeras mengingkari dakwah Rasulullah Saw, hingga tiada jalan lain kecuali dengan cara Mubahalah. Masing-masing pihak (baik Rasulullah Saw ataupun pihak Nasrani Najran) mengajak orang-orang kepercayaannya untuk berdoa bersama-sama dan menjadikan laknat Allah kepada pihak yang berdusta.

Saat itu turunlah firman Allah berikut: Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah, “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Ali Imran: 61)

Ketika tiba waktu yang telah disepakati dan seluruh kaum Nasrani Najran berkumpul di sebuah padang luas, mereka mengira Rasulullah Saw akan bermubahalah dengan membawa seluruh sahabatnya. Namun dugaan mereka meleset jauh. Karena, dengan langkah pasti, Rasulullah Saw maju ke medan mubahalah dengan disertai rombongan kecil Ahlulbait-nya.

Hasan di samping kanan, Husein di samping kiri, dan Ali beserta Fathimah di belakangnya. Tatkala orang-orang Nasrani melihat wajah mereka yang memancarkan cahaya, mereka merasa takut dan berpaling kepada sang uskup, pemimpin mereka, seraya berkata, “Hai Aba Hâritsah (panggilan sang uskup), apa gerangan yang Anda saksikan?” Sang uskup menjawab, “Aku melihat wajah-wajah yang, bila seorang saja dari mereka memohon agar gunung dipindahkan dari tempatnya, niscaya akan dikabulkan.” 

Setelah menyaksikan kesucian yang terpancar dari wajah-wajah Ahlulbait yang menyertai Rasulullah Saw, seketika itu pula mereka takluk. Dan memutuskan untuk meninggalkan mubahalah, serta rela membayar Jizyah. Coba renungkan! hanya dengan berlima saja Rasulullah Saw dapat menaklukan kaum Nasrani Najran yang jumlahnya jauh lebih banyak. Yang demikian itu mustahil terjadi bila mereka bukan manusia-manusia suci.

Dalam pandangan Ibnu Taimiyah, riwayat yang berkisah tentang peristiwa Mubahalah adalah sahih. Namun, sebagaimana kebiasaannya, bila tidak mampu lagi menyerang melalui jalur sanad—sebagaimana serangannya dalam hadis tsaqalayn—beliau memakai cara lain untuk menopang sikap permusuhannya terhadap madzhab Ahlulbait.

Dengan mengaburkan makna hadis yang berkenaan dengan keistimewaan Ahlulbait, Ibnu Taimiyah berujar, “Ucapan Rasulullah Saw dalam Allâhumma hâ’ulâ’i ahlî (Ya Allah, mereka itulah keluargaku) tidak berarti kepemimpinan Ahlulbait ataupun keutamaan mereka.”

Dengan mengikuti jejak Ibnu Taimiyah di atas, Ahmad al-Jali, seorang Nashibi dari Saudi, berpendapat, “Sesungguhnya hadis tersebut tidak mengandung arti persamaan antara Imam Ali dengan Rasulullah Saw, sebagaimana pendapat Syi’ah. Tiada seorang pun dapat menyamai kedudukan Rasulullah Saw. Sesungguhnya Rasulullah Saw mengundang Ali dan Fathimah beserta kedua anaknya, bukan karena mereka adalah sebaik-baik umatnya.”

Coba perhatikan argumentasi Ahmad al-Jali di atas. Seorang yang berakal sehat akan mempertanyakan obyektivitas penelitiannya. Apakah beliau hanya membaca karangan Ibnu Taimiyah saja, yang permusuhannya kepada Ahlulbait sudah sangat jelas?

Kalau saja Al-Jali mau bersikap jujur, fair, dan obyektif dalam meneliti kebenaran, sebenarnya beliau dapat membaca buku-buku karangan ulama Syi’ah yang sudah memenuhi banyak perpustakaan yang tersebar di seluruh penjuru dunia, niscaya beliau tidak menemukan satu pun seperti yang dituduhkan kepada Syi’ah.

Adapun sikap Syi’ah yang lebih mengutamakan Imam Ali dari para sahabat lainnya, karena didukung sendiri oleh banyaknya riwayat yang dibawakan oleh para perawi Ahlussunnah. Imam as-Suyûthi dalam kitabnya, Târîkh al-Khulafâ’, meriwayatkan, bahwa tiada satu pun riwayat tentang keutamaan sahabat yang melebihi riwayat keutamaan Imam Ali.

Memang, bagi siapa pun, termasuk Al-Jali, berhak untuk mengingkari keistimewaan Ahlulbait, seperti yang beliau tunjukkan dalam pendapatnya di atas. Dan kepada beliau, atau pun orang-orang sepertinya yang menolak madzhab Ahlulbait, kita ajukan satu pertanyaan berikut, “Mengapa Rasulullah Saw hanya hadir dengan mereka berlima saja dan tidak mengikutsertakan para sahabat maupun istri-istri beliau?”

Orang Syi’ah dengan lapang dada mau menerima pendapat Al-Jali bila pertanyaan di atas mampu dijawab dengan jawaban yang logis dan berdasarkan bukti-bukti yang terpercaya, bukan dengan ucapan ngawur yang tidak ilmiah. Syi’ah memiliki jawaban yang ilmiah dan didasarkan pada bukti sejarah yang diakui oleh para ulama Ahlussunnah. Karena Ahlulbait adalah makhluk yang paling suci setelah Rasulullah Saw. Sebuah keistimewaan yang tidak diberikan kepada selain mereka sebagaimana telah Allah tetapkan dalam ayat tathhîr (surah Ahzab ayat 33).

[SUMBER: Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah  karya Muhammad Babul Ulum; penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam]

Sat, 24 Sep 2016 @17:29

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved