AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Hubungan Antara Syiah Dengan Imam Ahlulbait [M.Babul Ulum]

image

Sebelum membahas lebih lanjut tentang alasan penisbatan Syiah kepada para Imam Ahlulbait, ada baiknya bila terlebih dahulu kita tengok sejenak serangan Ibnu Taimiyah kepada Syi’ah. Beliau menolak penisbatan Syi’ah kepada Ahlulbait dalam ungkapannya, “Kami tidak bisa menerima klaim pengikut Al-Imamiyah yang mengambil ajaran madzhab mereka dari Ahlulbait. Tidak Itsna’asyariyah, tidak pula yang lainnya. Bahkan mereka sangat jauh berbeda dengan Imam Ali dan para Imam Ahlulbait yang lain, dalam seluruh ushul madzhab yang berbeda dengan Ahlussunnah.”

Sedangkan Syi’ah, sebagaimana dikemukakan oleh Syafr ad-Din al-Mûsawi dalam Al-Murâja‘ât- nya berpendapat, “Bahwa mereka mengambil ushuluddin (pokok ajaran agama) beserta cabang-cabangnya dari para Imam Ahlulbait yang suci. Kepercayaan Syi’ah tidak lain hanyalah mengikuti keyakinan sang Imam. Keyakinan ini didasarkan pada bukti yang menunjukan kepeloporan mereka dalam menghimpun ilmu pengetahuan. Usaha yang telah dimulai oleh Imam Ali Kw, di saat sahabat yang lain enggan untuk melakukannya. Bahkan alih-alih menghimpun ilmu pengetahuan. Mayoritas pembesar sahabat, seperti Abu Bakar, Umar bin Khathab, malah menitahkan pemusnahan ilmu pengetahuan.

Sejarah membuktikan keengganan para Sahabat untuk menulis ilmu (hadis). Hal tersebut, konon, karena adanya kekhawatiran akan bercampur dengan Al-Quran. Walau sebab sebenarnya bukanlah kekhawatiran yang diduga seperti itu. Karena mustahil Firman Allah yang sudah ada jaminan pemeliharaan dari-Nya dapat bercampur dengan ucapan manusia.

Sebab utamanya adalah bila mereka menulis hadis Rasulullah Saw mereka tidak dapat menyingkirkan Imam Ali dari al-Khilâfah . Dikarenakan topik pembahasan kita bukan masalah ini, saya cukupkan hal ini sampai di sini saja. Kita kembali kepada usaha Imam Ali dalam memelihara warisan Rasulullah Saw. Masih menurut Syafr ad-Din al-Mûsawi, bahwa yang pertama kali dihimpun oleh Imam Ali adalah kitabullah.

Selesai mengurus jenazah Nabi, Imam Ali bertekad untuk tidak keluar melainkan hanya untuk mengerjakan shalat berjamaah di Masjid. Selama itu beliau mengumpulkan Al-Quran sebagaimana yang telah diturunkan kepada Rasulullah Saw. Memilah-milah antara ayat-ayat al-‘Âmmah ataupun al-Khâshshah , al-Muhkam dan al-Mutasyâbih , an-Nâsikh dan al-mansûkh , sambil memperhatikan asbâbun nuzûl. Kitab tersebut kemudian dinamakan dengan Shahîfah Ali. Di samping kitabullah, para pengikut setia sang Imam tidak membaca kitab lain selain Shahîfah/Mushhaf Ali.

Keyakinan Syi’ah akan adanya Mushhaf Ali didukung oleh adanya riwayat dari salah satu tokoh terkemuka Ahlussunnah, Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad -nya: Dari Thâriq bin Syihâb, ia berkata, “Aku melihat Ali berkata di atas mimbar, ‘Demi Allah, kami tidak mempunyai kitab yang biasa kami bacakan untuk kalian selain Kitabullah dan shahîfah ini. Aku mengambilnya dari Rasulullah Saw, di dalamnya terdapat kewajiban shadaqah, yang tergantung pada sebuah pedang.

Sahifah tersebut kemudian berpindah dari satu Imam ke Imam yang lain. Para pengikut sang Imam di sepanjang masa terus-menerus memelihara kandungan isinya. Dan Syi’ah di masa itu, mengambil ajarannya dari mereka, baik dalam bidang ushul maupun furu’, dan, meriwayatkannya lagi untuk generasi selanjutnya. Kemudian mereka juga meriwayatkannya lagi untuk generasi penerusnya. Demikian seterusnya dari satu generasi ke generasi, hingga akhirnya sampai pada generasi sekarang ini.

Dengan demikian, keyakinan Syi’ah bahwa dalam bidang ushul maupun furu’ adalah sebagaimana ajaran para Imam Ahlulbait bukan klaim kosong tanda dalil, tapi berdasarkan pada bukti yang kuat. Keyakinan Syi’ah seperti itu tidak hanya ditopang oleh riwayat-riwayat dari jalur Syi’ah saja, melainkan juga dikuatkan oleh para perawi Ahlussunnah.

Dengan segala kemampuan yang dimiliki, para pengikut Syi’ah telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghimpun ilmu—yang menurut mereka—berasal dari sisi Allah Swt. Hasil karya mereka yang paling terkenal disebut dengan Al-Ushûl al-Arba‘ah Mi’ah, yaitu empat ratus karangan yang disusun oleh empat ratus perawi yang mengumpulkan fatwa-fatwa Imam ash-Shâdiq semasa hidupnya.

Untuk memudahkan siapa saja yang ingin mempelajari, sekelompok ulama Syi’ah berusaha meringkasnya dalam beberapa buah kitab, di antaranya: Al-Kâfi, Al-Tahdzîb, Al-Ibtishâr, Man la Yahdhuruh al-Faqîh. Keempatnya hingga saat ini menjadi rujukan utama Syi’ah, baik dalam bidang ushul maupun furu’. Hal inilah yang membedakan Syi’ah dengan mazahib Islamiyah yang lain.

Menurut Syafr ad-Din al-Mûsawi, tidak ditemukan seorang pun dari para pengikut madzhab yang empat—misalnya—yang menghimpun sebuah kitab madzhab semasa hidup para pendiri madzhab mereka. Namun, hal itu dilakukan sepeninggal imamnya. Jadi madzhab mereka bukanlah madzhab sang imam, tetapi tidak lebih dari madzhab para pengikutnya.

Satu hal lagi yang semakin menguatkan penisbatan ajaran Syi’ah kepada a’immah ahlilbayt adalah bahwa semenjak awal perkembangannya, Syi’ah tidak membenarkan pengambilan ajaran agama dari selain a’immah ahlilbayt , baik dalam bidang fikh maupun akidah. Oleh karena itu juga disebut dengan madzhab Ahlulbait. Adapun sebab dinamakannya dengan istilah madzhab Ja’fariyah, Ada pembahasan tersendiri setelah topik ini.

Dengan membaca uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa argumentasi Ibnu Taimiyah yang menuduh Syi’ah telah melenceng jauh dari ajaran Ahlulbait, tidak lebih dari usaha beliau mengaburkan kebenaran. Kesimpulan yang demikian itu sangat jelas sekali bagi siapa saja menyaksikan hujatan Ibnu Taimiyah kepada madzhab Ahlulbait. Terkadang dengan melemahkan hadits yang telah terbukti kesahehannya, atau dengan menjauhkan pemahamannya dari maksud yang sebenarnya.

[SUMBER: Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah  karya Muhammad Babul Ulum; penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam]  

Thu, 13 Feb 2014 @11:56

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved