CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Ustadz Miftah F.Rakhmat: Mengapa Surah At-Taubah Tanpa Basmalah? (1)

image

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad


Dari Imam Hasan al-Askari as: “Barangsiapa yang tidak memulai urusan dengan ‘basmalah’, Allah akan uji dia dengan sesuatu yang tak disukainya.”

Keutamaan membaca nama Allah sebelum melakukan sesuatu tersebar di berbagai riwayat. Buka saja kitab tafsir apa pun, kemudian pada bagian pertama membahas Al-Fatihah, selalu ada penggalan riwayat tentang keutamaan membaca basmalah; keutamaan mengawali kegiatan dengan nama Allah Swt; atau keberkahan dalam nama-nama Tuhan itu.

Ada yang menceritakan bahwa pada basmalah ada dua nama Allah: jalaaliyyah dan jamaaliyyah. Lafaz jalalah “Allah” yang menunjukkan keagungan, kekuasaan, dan kebesaran Allah Swt. Dan ada “ar-rahman ” dan “ar-rahim ” yang menunjukkan keluasan kasih sayang Allah Swt. Ada juga pendekatan irfani yang mengisahkan pengandaian:

bahwa semua isi Al-Qur’an dapat terkandung dalam Al-Fatihah. Dan semua isi Al-Fatihah terkandung dalam kalimat basmalah. Dan—yang paling ekstrim—semua basmalah terkandung dalam “nuqtah tahta al-baa`” titik di bawah huruf “ba ”. Wallahu a’lam.

Tulisan ini singkat. Tidak hendak membahas yang berat-berat.  Apalagi tentang penafsiran batiniah titik di bawah ba itu. Tulisan ini hanya ingin menjawab pertanyaan: dengan sejumlah keutamaan basmalah itu, mengapa Surat Al-Taubah tidak diawali dengannya?

Tentulah jawaban sederhana: “Dari Tuhannya sudah begitu. Kalau mau tanya, tanya sama Tuhan.” Bila kita cukup puas dengan jawaban itu, niscaya semua hal tidak perlu lagi dipertanyakan. Mengapa Al-Qur’an turun dalam Bahasa Arab? Mengapa ia mudah dihapal dan dilafal orang?

Mengapa dalam Al-Qur’an kata malaikat dan setan disebut dengan jumlah yang sama: 88 kali? Mengapa kata “daratan” dan “lautan” semisal perumpamaan daratan dan lautan di muka bumi? Mengapa kata-kata “Imam, yang terpilih, bintang, washi, khalifah, yang disucikan, saksi, raja, wakil dan seterusnya...” semua berjumlah dan masing-masing (dengan seluruh derivasinya) disebut sebanyak 12 kali? Mengapa dan mengapa?

Jawaban kita: “Dari Tuhannya sudah begitu. Kalau mau tanya, tanya sama Tuhan.”

Mengapa dalam penulisan Arab, jumlah huruf dalam “Laa ilaaha illa Allah ”, ada 12 buah? Mengapa huruf dalam “Muhammad Rasulullah” juga ada 12 buah? Mengapa, mengapa dan mengapa?

Di antara mengapa itulah, Surat Al-Taubah yang tanpa basmalah. Biasanya, inilah domain kajian-kajian dalam ‘Ulumul Quran: menguak misteri dan rahasia begitu banyak ‘mengapa’ dalam Al-Qur’an.

Cukuplah bagi kita Surat Muhammad ayat 24: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran, ataukah hati mereka terkunci ?”

Kata memperhatikan yang digaris bawahi diterjemahkan dari bahasa ‘Arab: tadabbur , yang artinya: refleksi, meditasi, perenungan, dan pencarian jawaban dari setiap permasalahan kita. Dalam bahasa yang lain: inilah proses mempertanyakan begitu banyak ‘mengapa’ dalam Al-Qur’an.

Lalu, mengapa Al-Taubah tanpa basmalah?
 

Tentang Basmalah

Ada 114 surat dalam Al-Quran.  Semuanya diawali dengan basmalah. Kecuali Surat Al-Taubah. Meski demikian, keseluruhan lafaz basmalah tetap berjumlah 114 dalam Al-Qur’an: 113 pada awal surat, dan satu kali disebut di Surat Al-Naml ayat 30. Di tengah kaum Muslimin, terdapat dua pendapat tentang basmalah di awal surat. Ada yang menyebutkannya bagian ayat.

Seperti basmalah menjadi ayat yang pertama dalam Al-Fatihah. Bukankah Al-Fatihah berisi tujuh ayat? Bukankah ia disebut sab’ul matsani (tujuh yang berpasangan)? Basmalah adalah ayat yang pertama.

Pada selain Al-Fatihah, ada yang menyebut basmalah ayat pertama, ada juga yang merangkainya dengan kalimat selanjutnya sebagai yang pertama: misalnya “Bismillahirrahmanirrahim. Alif laam raa (1)” dan seterusnya. Karena itulah, bisa terjadi perbedaan penjumlahan ayat Al-Quran bergantung pada pendekatan memahami atau meletakkan basmalah sebagai ayat.

Dalam Al-Fatihah—bagaimana pun—semua umat sepakat bahwa basmalah adalah ayat yang pertama. Uniknya, ada sebagian di antara Kaum Muslimin yang tidak menjaharkan bacaaan basmalahnya ketika shalat.

Setelah iftitahiyyah , mereka mengeraskan bacaan Al-Fatihah dari ayat kedua: alhamdulillahi rabbil ‘aalamin ...dan seterusnya. Mudah-mudahan sah. Itu bagian kajian para ahli fikih. Karena, berdasarkan hadis “Tidak sah shalat orang yang tidak membaca Fatihat al-Kitaab .”

Maka, bila Al-Fatihah tidak dibaca, tidaklah sah shalat kita? Masihkah sah, bila Al-Fatihah yang kita baca tidak lengkap? Atau jika ia kurang satu ayat? Misalnya, kita baca tanpa basmalah, atau tanpa ayat yang terakhir? 

Mon, 27 Feb 2017 @19:27

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved