MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Diskusi Fiqih Wudhu di Damaskus

image

Saya mulai cerita dari kota ini. Damaskus, kota seribu menara. Konon, bila naik ke atap rumah, akan terlihat ratusan menara masjid menjulang tinggi.

Setahu saya, belum pernah ada yang menghitungnya. Saya kira orang sudah menyerah berhitung sebelum sampai seribu. Bila adzan berkumandang, menara-menara ini saling bersahutan, timpal menimpal, memperdengarkan panggilan mengajak kaum muslimin untuk shalat. Tidak jauh berbeda dari Indonesia, meski kita tak pernah menjulukinya negeri seribu menara.

Mungkin karena Masjid di Indonesia tak punya menara. Barangkali Indonesia lebih tepat disebut negeri seribu bedug, atau negeri seribu sandal jepit.

Jika adzan berkumandang, sebagian besar penduduk kota Damaskus akan menutup warung tokonya. Walau cuma sesaat. Mereka beraktivitas lagi usai shalat ditunaikan.

Pernah satu ketika, dalam sebuah perjalanan antara Zaynabiyyah dan Damaskus, saya menumpang angkutan umum. Saya duduk di depan.

Kendaraan melaju membawa saya menuju “Muhajirin”, sebuah terminal yang dekat dengan kamp pengungsian saudara-saudara kita dari Palestina. Muhajirin artinya para pengungsi. Mereka yang hijrah. Di hampir setiap bagian negara-negara Arab, ada satu daerah tempat para pengungsi Palestina bermukim. Doa kita bagi mereka.

Saya sudah naik angkutan umum itu berulang kali. Tapi kali ini, ada yang berbeda. Telinga saya tiba-tiba mendadak tajam. Di bangku bagian belakang, ada dua orang perempuan. Mereka sedang berdiskusi. Diskusi yang menarik perhatian saya.

Melalui kaca sopir saya “intip” mereka. Yang satu mengenakan cadar menutup setengah dari mukanya, yang lainnya lagi pakai kerudung seperti biasanya. Mereka tampaknya saling mengenal baik. Saya palingkan wajah saya dari kaca sopir, saya pertajam pendengaran saya.

Mengapa saya tertarik pada pembicaraan mereka? Karena yang mereka bicarakan bukan obrolan biasa. Mereka tengah berdiskusi mengenai fiqih wudhu. Yang satu mengatakan kaki harus dibasuh, yang lainnya diusap.

Yang satu mengemukakan argumentasinya, yang lain membantahnya. Yang satu menyampaikan dalilnya, yang lain memperkuatnya.

Saya takjub. Ini diskusi antar dua mazhab besar dalam Islam: mazhab pembasuh kaki dan pengusapnya. Saya terheran-heran karena dialog seperti ini di Indonesia biasanya adalah pembicaraan antar ulama, di forum-forum ilmiah, di seminar atau diskusi resmi.

Tapi di Suriah, perdebatan fiqih wudhu itu terjadi di sebuah angkutan umum. Nyaman, akrab, dan terkesan penuh penghormatan. Ketika sampai di terminal dan kedua perempuan itu turun, sambil berjalan kaki mereka masih membicarakan “perdebatan” itu. Saya makin takjub.

Saya betul-betul menghormati toleransi dan persaudaraan sesama kaum Muslimin yang terjadi di Suriah.

Ke sinilah sebetulnya wajah harus dihadapkan, ke Damaskus berita selayaknya dipalingkan. Orang Suriah bangga menyebut negerinya sebagai “the craddle of civilization ”, buaian peradaban. Mereka seharusnya lebih bangga lagi, bahwa Suriah mengajarkan rakyatnya untuk hidup damai dalam persaudaraan kaum Muslimin.

Suriah juga adalah satu di antara dua negara yang dengan gigih membantu rakyat Palestina, mempertahankan hak hidup mereka, dan memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Satu negara lagi yang dengan lantang menyuarakan hak rakyat Palestina adalah Iran.

Karena itulah, Suriah dan Iran, berada pada sisi yang berbeda dengan Amerika dan negara-negara Barat lainnya. Tapi di Suriah itu juga, saya temukan persaudaraan di antara dua mazhab besar dalam Islam. Padahal dulu di Damaskus, sejarah besar Islam dimainkan. Tarik menarik antara dua mazhab ini ditorehkan sejarah. Sedikit dengan tinta emas, kebanyakan ditumpahkan dengan darah. Damaskus sudah maju amat jauh dari perbedan dahulu.

[Miftah F.Rakhmat]

Wed, 24 Dec 2014 @20:19

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved