Ayat-Ayat yang Mendukung Pandangan Syiah tentang Imam Ali (1)

image

Syiah berpendapat, tidak sedikit ayat-ayat Al-Quran yang menegaskan keutamaan Amirul Mukminin  Ali a.s. dan memperkenalkannya sebagai pribadi islami yang tinggi dan mulia setelah Rasulullah Saw. Ini menunjukkan bahwa ia mendapat perhatian yang tinggi di sisi Allah Swt.

Banyak sekali buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Imam Ali a.s.

Perlu ditegaskan di sini bahwa jumlah ayat yang sangat banyak seperti itu tidak pernah turun berkenaan dengan seorang tokoh Islam mana pun. Ayat-ayat tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori berikut ini:

1. Kategori pertama: ayat yang turun khusus berkenaan dengan Imam Ali secara pribadi.

2. Kategori kedua: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali a.s. dan keluarganya.

3. Kategori ketiga: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali dan para sahabat pilihan Rasulullah Saw.

4. Kategori keempat: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali a.s. dan mengecam orang-orang yang memusuhinya.

Berikut ini adalah sebagian dari ayat-ayat tersebut.

Ayat-ayat yang turun menjelaskan keutamaan, ketinggian, dan keagungan pribadi Imam Ali a.s. adalah sebagai berikut:

1. Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.”  (QS. Al-Ra‘d [13]: 7)

Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Ibn Abbâs. Ibn Abbâs berkata: “Ketika ayat ini turun, Nabi Saw. meletakkan tangannya di atas dadanya seraya bersabda, ‘Aku adalah pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.’ Lalu dia memegang pundak Ali a.s. sembari bersabda, ‘Engkau adalah pemberi petunjuk itu. Dengan perantara tanganmu, banyak orang yang akan mendapat petunjuk setelahku nanti.’”

2. Allah Swt. berfirman:

“… dan (peringatan itu) diperhatikan oleh telinga yang mendengar.”  (QS. Al-Hâqqah [69]: 12)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Ali a.s. berkata: “Rasulullah Saw. berkata kepadaku, ‘Hai Ali, aku memohon kepada Tuhanku agar menjadikan telingamu yang menerima peringatan.’ Lantaran itu, aku tidak pernah lupa apa saja yang pernah kudengar dari Rasulullah Saw.”

3. Allah Swt. berfirman:

“Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.”  (QS. Al- Baqarah [2]: 274)

Pada saat itu, Imam Ali a.s. hanya memiliki empat dirham. Satu dirham ia infakkan di malam hari, satu dirham ia infakkan di siang hari, satu dirham ia infakkan secara rahasia, dan satu dirham sisanya ia infakkan secara terang-terangan. Rasulullah Saw. bertanya kepadanya: “Apakah yang menyebabkan kamu berbuat demikian?” Ali a.s. menjawab: “Aku ingin memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepadaku.” Kemudian, ayat tersebut turun.

4. Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, mereka itu adalah sebaik-sebaik makhluk.”  (QS. Al-Bayyinah [98]: 7)

Ibn ‘Asâkir meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir ibn Abdillah. Jâbir ibn Abdillah berkata: “Ketika kami bersama Nabi Saw., tiba-tiba Ali a.s. datang. Seketika itu, Rasulullah Saw. bersabda,

‘Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Ali a.s. dan Syiah (para pengikut)-nya adalah orang-orang yang beruntung pada Hari Kiamat.’ Kemudian, turunlah ayat itu. Sejak saat itu, setiap kali Ali a.s. datang, para sahabat Nabi Saw. mengatakan: ‘Telah datang sebaik-baik makhluk.’”

5. Allah Swt. berfirman:

“... maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan ( Ahl Adz-Dzikr) jika kamu tidak mengetahui.”  (QS. Al- Nahl [16]: 43)

Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir Al-Ju‘fî. Jâbir Al-Ju‘fî berkata: “Ketika ayat ini turun, Ali a.s. berkata: ‘Kami adalah Ahl Adz-Dzikr.’”

6. Allah Swt. berfirman:

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka berarti engkau tidak menyampaikan risalahmu. Sesungguhnya Allah menjagamu dari kejahatan manusia.”  (QS. Al-Mâ’idah [5]: 67)

Ayat ini turun kepada Nabi Saw. ketika sampai di Ghadir Khum (silakan merujuk Lampiran 4: Hadis Ghadir Khum) dalam perjalanan pulang dari haji Wadâ’. Nabi Saw. diperintahkan oleh Allah untuk mengangkat Ali a.s. sebagai khalifah sepeninggalnya. Beliau melaksanakan perintah tersebut. Beliau melantik Ali a.s. sebagai khalifah dan pemimpin bagi umat sepeninggalnya. Di hadapan khalayak banyak, Nabi Saw. mengumandangkan sabdanya yang masyhur, “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali a.s. adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, belalah orang yang membelanya, dan hinakanlah orang yang menghinakannya.”

Setelah itu, Umar bangkit dan berkata kepada Ali a.s.: “Selamat, hai Putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap mukmin dan mukminah.”

7. Allah Swt. berfirman:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan telah Aku lengkapi nikmat-Ku atasmu dan Aku pun rela Islam sebagai agamamu.”  (QS. Al-Mâ’idah [5]: 3)

Ayat yang mulia ini turun pada tanggal 18 Dzul- hijjah setelah Nabi Saw. mengangkat Ali a.s. sebagai khalifah sepeninggalnya.23 Setelah ayat tersebut turun, Nabi Saw. bersabda, “Allah Mahabesar lantaran penyempurnaan agama, pelengkapan nikmat, dan keridhaan Tuhan dengan risalahku dan wilâyah  Ali ibn Abu Thalib a.s.”

8. Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, seraya tunduk kepada Allah.”  (QS. Al- Mâ’idah [5]: 55)

Seorang sahabat Nabi terkemuka, Abu Dzar berkata: “Aku mengerjakan shalat Zuhur bersama Rasulullah Saw. Tiba-tiba datang seorang pengemis ke masjid, dan tak seorang pun yang memberikan sedekah kepadanya. Pengemis tersebut mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Ya Allah, saksikanlah bahwa aku meminta di masjid Rasul Saw., tetapi tak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadaku.’ Pada saat itu, Ali a.s. sedang mengerjakan rukuk. Kemudian, dia memberikan isyarat kepadanya dengan kelingking kanan yang sedang memakai cincin. Pengemis itu datang menghampirinya dan segera mengambil cincin tersebut di hadapan Nabi Saw. Lalu Nabi Saw. berdoa: ‘Ya Allah, sesungguhnya saudaraku, Musa a.s. memohon kepadamu sembari berkata: ‘Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku hatiku, mudahkanlah urusanku, dan bukalah ikatan lisanku agar mereka dapat memfahami ucapanku. Dan jadikanlah untukku seorang  wazîr dari keluargaku; yaitu saudaraku, Harun. Kukuhkanlah aku dengannya dan sertakanlah dia dalam urusanku .’” (QS. Thâ’ Hâ’ [20]: 25-32)

“Ketika itu engkau turunkan ayat: ‘Kami akan kukuhkan kekuatanmu dengan saudaramu dan Kami jadikan engkau berdua sebagai pemimpin,’  (QS. Al-Qashash [28]: 35). ‘Ya Allah, aku ini adalah Muhammad Nabi dan pilihan-Mu. Maka lapangkanlah hatiku, mudahkanlah urusanku, dan jadikanlah untukku seorang wazîr  dari keluargaku, yaitu Ali. Dan kukuhkanlah punggungku dengannya.’”

Abu Dzar melanjutkan: “Demi Allah, Jibril turun kepadanya sebelum sempat menyelesaikan doanya itu. Jibril berkata, ‘Hai Muhammad, bacalah: Sesungguhnya walimu adalah Allah, Rasul-Nya dan. ...’”

Seorang penyair tersohor, Hassân ibn Tsâbit, telah menyusun sebuah bait syair sehubungan dengan turunnya ayat tersebut. Ia berkata:

“Siapakah gerangan yang ketika rukuk menyedekahkan cincin, sementara ia merahasiakannya untuk dirinya sendiri.”

Arti kata “wali”

Kata-kata WaliWilayatWalaMaula , dan Awla , berasal dari akar kata yang sama, yaitu Wala . Kata ini sangat banyak digunakan oleh Al-Quran; 124 dengan kata benda, dan sekitar 112 tempat dipakai dalam bentuk kata kerja.

Sebagaimana yang termuat dalam kitab Mufradat Al-Quran , karya Ragib Isfahani, dan kitab Maqâyis Al-Lughah  karya Ibn Fars, arti asli dari kata ini adalah kedekatan dua benda, yang seakan-akan tak berjarak sama sekali. Maksudnya jika dua benda sudah sangat berdekatan, sangatlah mustahil jika dibayangkan ada benda ketiga. Ketika kita katakan Waliya  Zaid Amr, maka itu berarti Zaid dekat di sisi Amr.

Kata ini juga bermakna teman, penolong, dan penanggung jawab. Dengan kata lain, pada semua arti tadi terdapat semacam kedekatan, hubungan, atau interaksi. Dan untuk menentukan arti yang dimaksud, dibutuhkan tanda-tanda dan kecermatan untuk memfahami konteks kalimatnya.

Dengan memperhatikan poin-poin yang kita sebutkan tadi, kita dapat memfahami bahwa maksud dari ayat di atas adalah bahwa Allah, Rasulullah, dan Ali a.s. sajalah—perhatikan kata innama  yang berarti “hanyalah”—yang memiliki kedekatan istimewa dengan kaum Muslim.

Telah jelas arti dekat  di sini berkonotasi spiritual/ metafisik bukan material. Konsekuensi kedekatan ini adalah wali (pemimpin) dapat mengganti semua hal yang dapat digantikan dari maula 'alaih  (yang dipimpin). Dengan pengertian semacam ini wilayah diartikan penanggung jawab dan pemilik upaya (ikhtiar ).

Dari satu sisi telah jelas bahwa Tuhan adalah wali seluruh hamba dalam urusan duniawi dan akhirat mereka. Dan Dia adalah wali kaum mukmin dalam urusan agama dan pencapaian kebahagiaan dan kesempurnaan mereka. Rasul dengan izin Tuhan merupakan wali bagi kaum mukmin. Sejalan dengan itu, wilayah Imam Ali a.s. yang dijelaskan dalam ayat ini juga bermaksud sama seperti arti di atas, yang konsekuensinya beliau mampu dan berhak mengelola masalah dan urusan kaum Muslim, dan beliau mendapatkan prioritas dalam jiwa, harta, kehormatan, dan agama.

Ayat ini menempatkan wilâyah  “kepemimpinan” universal (Al-Wilâyah Al-‘Âmmah ) hanya untuk Allah Swt., Rasul-Nya yang mulia, dan Imam Ali a.s. Ayat ini menggunakan bentuk jamak dalam rangka mengagungkan kemuliaan Imam Ali a.s. dan menghormati kedudukannya. Di samping itu, ayat ini berbentuk kalimat afirmatif dan menggunakan kata pembatas (hashr‘innamâ’  (yang berarti hanya). Dengan demikian, ayat ini telah mengukuhkan wilâyah  tersebut untuk Imam Ali a.s. Sedangkan jika wali diartikan sebagai teman, akan muncul konsekuensi pelarangan persahabatan dan pertemanan dengan selain Allah, Rasul, dan Ali a.s. bagi kaum Muslim. Padahal, kenyataannya kaum Muslim dianjurkan untuk menjalin persahabatan dengan yang lain.

Sumber: Buku Putih Mazhab Syiah

Sun, 1 Apr 2018 @16:06

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved