Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Imam Ali dalam Kacamata Hadis (1)

image

Buku-buku literatur hadis, baik Shihah  maupun Sunan , dipenuhi oleh hadis-hadis Nabi Saw. yang menegaskan keutamaan Imam Ali a.s. dan mengangkatnya tinggi di tengah-tengah masyarakat Islam.

Syiah berpendapat, setiap orang yang mau merenungkan hadis-hadis yang masyhur dan telah tersebar di kalangan para perawi hadis itu pasti memfahami tujuan utama Nabi Saw di balik hadis-hadis tersebut, yaitu dia ingin mengangkat Ali a.s. sebagai khalifah sepeninggalnya sehingga dia menjadi penerus tongkat estafet kenabian dan tempat rujukan umat yang bertugas menegakkan tonggak kehidupan mereka, memperbaiki kondisi mereka, dan menuntun mereka menapak jalan kehidupannya sehingga umat Islam menjadi pelopor bagi bangsa-bangsa lain di dunia.

Bila kita mencermati hadis-hadis Nabi Saw. mengenai keutamaan Imam Ali a.s. itu, niscaya kita temukan sekelompok hadis dikhususkan untuk beliau dan sekelompok hadis yang lain dikhususkan untuk Ahlu Bait Nabi Saw. Secara otomatis, kelompok hadis kedua ini juga meliputi Imam Ali a.s. mengingat beliau adalah penghulunya.

Berikut ini kami nukilkan beberapa hadis tersebut.

Kelompok Hadis Pertama

Hadis-hadis kelompok ini memuat berbagai macam bentuk pemuliaan dan pengagungan terhadap Imam Ali a.s. dan penegasan atas keutamaannya. Hadis-hadis tersebut adalah berikut ini:

Kedudukan Imam Ali a.s. di Sisi Nabi Saw.

Amirul Mukminin  Ali a.s. adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengan Rasulullah Saw. Ali a.s. adalah ayah untuk kedua cucunya dan pintu kota ilmunya. Nabi Saw. sangat menghormati dan mencintai Ali a.s. Beberapa hadis Nabi Saw. menegaskan betapa kecintaannya Nabi Saw. kepada Ali a.s. sangat besar. Mari kita simak bersama beberapa hadis berikut ini.

Imam Ali a.s. sebagai Diri Nabi Saw.

Ayat Mubâhalah  menegaskan kepada kita bahwa Imam Ali a.s. adalah diri dan jiwa Nabi Saw. Kami telah memaparkan hal ini pada pembahasan yang lalu. Nabi Saw. sendiri telah menjelaskan dalam berbagai hadis bahwa Ali a.s. adalah diri dan jiwanya.

Pada suatu hari, Walîd ibn ‘Uqbah memberikan informasi kepada Nabi Saw. bahwa Bani Walî‘ah telah murtad dari Islam. Mendengar itu, Nabi Saw. sangat murka dan bersabda, “Apakah Bani Walî‘ah menghentikan perbuatan mereka itu atau aku akan utus kepada mereka seorang laki-laki yang merupakan diri dan jiwaku; ia akan memerangi mereka dan menyandera kaum wanita mereka. Laki-laki itu adalah orang ini.” Setelah bersabda demikian, Nabi Saw. menepuk pundak Imam Ali a.s.

Dalam sebuah hadis, ‘Amr ibn ‘Ash berkata: “Ketika aku kembali dari Perang Dzâtus Salâsil, aku mengira bahwa tidak seorang pun yang lebih dicintai oleh Rasulullah Saw. daripada aku. Aku bertanya kepadanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah yang paling Anda cintai?’ Rasulullah Saw. menyebutkan nama beberapa orang. Aku bertanya lagi, ‘Ya Rasulullah, di manakah Ali?’ Nabi Saw. menoleh kepada para sahabat seraya bersabda, ‘Sesungguhnya ia (Amr) bertanya kepadaku tentang diriku.’”

Imam Ali a.s. sebagai Saudara Nabi Saw.

Nabi Saw. pernah mengumumkan di hadapan para sahabat bahwa Ali a.s. adalah saudaranya. Masalah ini telah direkam oleh banyak hadis. Antara lain ialah:

At-Turmudzî meriwayatkan dengan sanad dari Ibn Umar. Ibn Umar berkata: “Rasulullah Saw. telah mempersaudarakan para sahabatnya. Kemudian, datanglah Ali a.s. dengan air mata yang berlinang seraya berkata: ‘Ya Rasulullah, engkau telah mempersaudarakan para sahabatmu. Tetapi, mengapa Anda tidak mempersaudarakanku dengan siapa pun?’ Rasulullah Saw. bersabda, ‘Engkau adalah saudaraku di dunia dan di akhirat.’”

Nabi Saw. mempersaudarakan Ali dengan dirinya bukan hanya di dunia ini, tetapi persaudaraan tersebut berlanjut hingga hari akhirat yang tak berbatas.

Anas ibn Malik berkata: “Rasulullah Saw. naik ke atas mimbar. Setelah usai berpidato, dia bertanya, ‘Di manakah Ali ibn Abu Thalib?’ Ali a.s. segera bangkit dan berkata: ‘Aku di sini, ya Rasulullah.’ Tak lama kemudian Nabi Saw. memeluk Ali a.s. dan mencium keningnya seraya bersabda dengan suara yang lantang:

‘Wahai kaum Muslim, Ali adalah saudaraku dan putra pamanku. Dia adalah darah dagingku dan rambutku. Dia adalah ayah kedua cucuku Hasan dan Husain, penghulu para pemuda penghuni surga.’”

Dalam sebuah riwayat, Ibn Umar berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda pada saat melaksanakan haji Wadâ’, sementara beliau menunggangi unta sembari menepuk pundak Ali a.s.: “Ya Allah, saksikanlah. Ya Allah, aku telah menyampaikan seruan-Mu bahwa orang ini adalah saudaraku, putra pamanku, menantuku, dan ayah kedua cucuku. Ya Allah, sungkurkanlah orang yang memusuhinya ke dalam api neraka.’”

Nabi Saw. dan Imam Ali a.s. Berasal dari Satu Pokok

Nabi Saw. pernah menegaskan bahwa beliau Saw. dan Ali a.s. berasal dari satu pohon yang sama. Hal ini telah disebutkan dalam beberapa hadis. Berikut ini adalah contoh dari hadis-hadis tersebut:

Dalam sebuah hadis, Jâbir ibn Abdillah berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda kepada Ali a.s.: ‘Hai Ali, sesungguhnya umat manusia berasal dari berbagai pohon yang berbeda. Sementara engkau dan aku berasal dari satu pohon yang sama.’ Kemudian, beliau membacakan ayat:

Dan di atas bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan (tapi berbeda-beda), dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama ....”  (QS. Al-Ra‘d [13]: 4)

Rasulullah Saw. bersabda, “Aku dan Ali a.s. berasal dari satu pohon, sedangkan umat manusia berasal dari pohon yang berbeda-beda.”

Sungguh betapa agung dan mulia pohon tersebut yang telah melahirkan junjungan alam semesta, Rasulullah Saw., dan pintu kota ilmunya, Amirul Mukminin  Ali a.s. Pohon ini adalah pohon yang penuh berkah; pohon yang akarnya menghunjam ke dalam bumi dan ranting-rantingnya menjulang ke langit, dan membuahkan hasil bagi umat manusia pada setiap generasi.

Imam Ali a.s. sebagai Wazîr  Nabi Saw.

Dalam beberapa hadis, Nabi Saw. sangat menekankan bahwa Ali a.s. adalah wazîr -nya. Di antara hadis-hadis tersebut ialah berikut ini:

Dalam sebuah hadis, Asmâ’ binti ‘Umais berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berkata sebagaimana saudaraku,’ Mûsâ berkata: ‘Ya Allah, jadikanlah untukku seorang wazîr  dari keluargaku, yaitu saudaraku Ali. Kukuhkanlah aku dengannya, sertakanlah dia dalam urusanku agar kami banyak bertasbih kepada-Mu dan senantiasa mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui kondisi kami.’”

Imam Ali a.s. sebagai Khalifah Nabi Saw.

Nabi Saw. memproklamasikan bahwa Ali a.s. adalah khalifah sepeninggalnya sejak beliau memulai dakwah. Hal itu terjadi ketika beliau mengundang kaum Quraisy agar memeluk Islam. Di akhir pertemuan tersebut, beliau Saw. berkata kepada mereka: “Dengan demikian, orang ini—yaitu Ali a.s.—adalah saudaraku, washî -ku, dan khalifahku setelahku untuk kalian. Dengarkan dan taatilah dia!”

Rasulullah Saw. telah menggandengkan kekhalifahan Ali a.s. sepeninggalnya dengan permulaan dakwah Islam. Dia juga telah menyingkirkan kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala. Banyak sekali riwayat yang telah menegaskan kekhalifahan Ali a.s. ini. Berikut ini sebagian darinya:

Rasulullah Saw. bersabda, “Hai Ali, engkau adalah khalifahku untuk umatku.” Beliau Saw. juga bersabda, “Di antara mereka, Ali ibn Abu Thalib paling dahulu memeluk Islam, paling banyak ilmu pengetahuannya, dan dia adalah imam dan khalifah setelahku.”

Imam Ali a.s. di Sisi Nabi Saw. Sepadan Hârûn di Sisi Mûsâ

Banyak sekali hadis dan riwayat telah diriwayatkan dari Nabi Saw. yang memiliki kandungan yang sama, yaitu beliau bersabda kepada Ali a.s., “Engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Mûsâ a.s. ....” Berikut ini kami nukilkan sebagian hadis tersebut:

Nabi Saw. bersabda kepada Ali a.s., “Tidakkah engkau rela bahwa engkau di sisiku sebagaimana kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ a.s., hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku?”

Sa‘îd ibn Mûsâyyib meriwayatkan hadis dari ‘Âmir ibn Sa‘d ibn Abi Waqqâsh, dari ayahnya, Sa‘d. Sa‘d berkata, “Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada Ali a.s., ‘Engkau di sisiku seperti kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ a.s., hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku.’”

Sa‘îd berkata: “Aku ingin menyampaikan informasi tersebut kepada Sa‘d. Aku menjumpainya dan kuceritakan apa yang diceritakan oleh ‘Âmir. Sa‘d berkata, ‘Aku pun telah mendengarnya.’ Aku bertanya, ‘Sungguh engkau telah mendengarnya?’ Dia meletakkan jarinya di kedua telinganya seraya berkata, ‘Ya, aku telah mendengarnya. Jika tidak, berarti aku tuli.’”

Imam Ali a.s. sebagai Gerbang Kota Ilmu Nabi Saw.

Satu hal lagi tentang ketinggian dan keagungan kedudukan Ali a.s. yang ditegaskan oleh Nabi Saw. adalah bahwa dia telah menjadikannya sebagai pintu kota ilmunya. Hadis-hadis mengenai hal ini telah diriwayatkan melalui beberapa jalur sehingga mencapai peringkat qath‘î  (meyakinkan). Hadis-hadis ini telah diriwayatkan dari Rasulullah Saw. pada beberapa kesempatan di antaranya:

Jâbir ibn Abdillah berkata: “Pada peristiwa Hudaibiyah, aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda sambil memegang tangan Ali a.s., ‘Orang ini adalah pemimpin orang-orang salih, pembasmi orang-orang zalim, akan ditolong siapa yang membelanya, dan akan terhina siapa yang menghinanya.’ Lalu, dia mengeraskan suaranya: ‘Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Barang siapa ingin memasuki rumah, hendaklah ia masuk melalui pintunya.’”

Ibn Abbâs berkata: “Rasulullah Saw. bersabda, ‘Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Barang siapa ingin memasuki kota, maka hendaklah ia mendatangi pintunya.’”

Rasulullah Saw. bersabda: “Ali adalah pintu ilmuku dan penjelas risalahku kepada umatku sepeninggalku nanti. Mencintainya adalah iman, memurkainya adalah kemunafikan, dan memandangnya adalah kasih sayang.”

Amirul Mukminin  Ali a.s. adalah pintu kota ilmu Nabi Saw. Setiap ajaran agama, hukum syariat, akhlak yang mulia, dan tata krama luhur yang datang darinya, semua itu bersumber dari Nabi Saw. Konsekuensinya, kita harus mematuhi dan mengikutinya.

Sesungguhnya Nabi Saw. telah meninggalkan sumber ilmu pengetahuan untuk memenuhi kehidupan ini dengan hikmah dan kesejahteraan. Sumber itu beliau titipkan kepada Ali a.s. agar umat ini dapat menimba darinya.

Imam Ali a.s. Serupa dengan Para Nabi

Suatu ketika Nabi Saw. berada di tengah-tengah para sahabat. Dia berkata kepada mereka, “Jika kalian ingin melihat ilmu pengetahuan Adam a.s., kesedihan Nuh a.s., ketinggian akhlak Ibrahim a.s., munajat Mûsâ a.s., usia Isa a.s., dan petunjuk serta kelembutan Muhammad Saw., maka hendaklah kalian melihat orang yang akan datang sebentar lagi.” Setelah agak lama mereka menanti-nanti siapa yang akan datang, tiba-tiba Amirul Mukminin  Ali a.s. muncul.

Seorang penyair terkenal, Abu Abdillah Al-Mufajji‘, telah banyak menyusun bait-bait syair tentang keagungan dan kemuliaan Imam Ali a.s. Ketika mengungkapkan realita tersebut di atas, dia menulis:

Wahai pendengki kekasihku Ali, masuklah ke dalam neraka Jahim dengan terhina.

Masihkah engkau menyindir manusia terbaik, sedang engkau tersingkirkan dari petunjuk dan cahaya?

Dialah yang mirip para nabi di kala kanak dan muda, di kala menyusu, disapih, dan di kala makan.

Ilmunya bagai Adam di kala ia menjelaskan nama-nama dan alam semesta.

Bagai Nuh di kala selamat dari maut ketika ia turun di bukit Jûdî.

 

Sumber: Buku Putih Mazhab Syiah

 

Sun, 16 Feb 2014 @11:13

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved